MALANG POST - Sujopo Sumarah Purba, Penari 1000 Topeng

Senin, 25 Mei 2020

  Mengikuti :


Sujopo Sumarah Purba, Penari 1000 Topeng

Minggu, 12 Apr 2020, Dibaca : 4812 Kali

Siapa yang tak kenal dengan Sujopo Sumarah Purbo, seniman tari topeng asal Kota Batu. Hidupnya didedikasikan untuk seni. Ia sudah melanglang buana ke Eropa sejak masih kuliah. Bahkan ia merelakan kebahagiaan dirinya sendiri untuk menghidupi seni.   

Pak Jopo, biasa pria berambut gondrong ini disapa, tinggal di Gang 11 RT 1 RW 12, Pohkopek Dusun Gondorejo Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan/Kota Batu. Bahkan sampai saat ini ia memilih hidup dengan membujang. Tujuannya untuk menghidupi seni. Mulai dari gang-gang kecil, kampung sempit, pelosok pedesaan, hingga tempat megah ia menari. Tak hanya menari, segala kesenian seperti teater ia juga pelajari, ajarkan, dan tampilkan dengan senang hati.
Saat Malang Post mengunjungi rumahnya, tepatnya di Sanggar Seni Tari dan Teater Sumarah Purbo yang ia kontrak sejak tahun 1986, tampak penuh sesak dengan berbagai asesoris kesenian. Mulai topeng, kostum tari tradisional, hingga barong memenuhi ruangan. Dari depan rumah, ruang tamu, sampai kamar tidur.
Di tengah-tengah pandemi Covid-19 ini sudah dipastikan semua sektor perekonomian terpukul. Tak terkecuali bagi seniman. Karena pandemi Covid-19 tak pandang bulu. Hampir seluruh negara terserang, sektor ekonomi, sosial, dan budaya. Termasuk para seniman.
Sujopo menceritakan, dirinya berdomisili di Kota Batu sejak tahun 1986. Saat itu dirinya baru saja kembali dari Filipina mengajar seni tari tradisi Indonesia. "Pertama datang ke Batu karena ada cantrik didikan saya yang minta tolong untuk membantu menari dan mengajar. Terutama mengajar teater di perguruan tinggi seperti UM, Unikama, hingga STIBA," ujar Sujopo kepada Malang Post.
Karena masih sedikitnya pengajar atau seniman teater dan tari di Malang Raya, akhirnya alumnus ASKI (akademi Seni Karawitan Indonesia) yang sekarang STSI Solo ini dipaksa oleh rekan-rekan dan koleganya untuk menetap di Kota Malang. Pasalnya saat itu masih sedikit pengajar teater dan tari di kampus Malang Raya.
Bagaimana tidak dibutuhkan, laki-laki kelahiran Solo, 9 Agustus 1956 ini telah melanglang buana dari berbagai negara Asia dan Eropa. Seperti Ceko, Inggris, Malaysia, Filipina dan banyak negara lainnya yang telah ia kunjungi. Tentunya untuk tampil dan menunjukkan beragam kesenian tari daerah dari Indonesia yang telah ia kuasai.
Meski bisa dibilang ‘maestro’ tari, namun kepribadiannya sangat sederhana. Hidupnya juga tidak mewah alias biasa-biasa juga, bahkan lebih sederhana dari kebanyakan masyarakat. Seniman serba bisa yang membawakan tari 1.000 topeng ini juga sangat total mendedikasikan diri dan hidupnya untuk seni.
Sujopo tak pernah meminta berapa gaji dari setiap berkesenian. Bahkan ia lebih memilih untuk menari di pelosok desa, di gang sempit dengan bayaran seadanya. Karena setiap tampil ia mengutamakan manfaat yang bisa didapat oleh masyarakat.
Tak hanya itu, setiap kali menyewakan asesoris untuk berkesenian, Ia juga sangat kondisional. Artinya Ia tidak pernah mematok harga sewa kostum dan lama waktu sewanya. "Selama ini saya tak pernah mematok harga setiap berkesenian. Karena yang utama bagi saya bagaimana bisa bermanfaat bagi banyak orang," ungkapnya.
Ia mengakui, setiap kali menggung bisa mendapat bayaran Rp 200 – Rp 600 ribu. Itu pun harus dipotong dengan akomodasi ke tempat manggung dan para penari yang aktif di Sanggar Seni Tari dan Teater Sumarah Purbo.
"Pada intinya saya tidak mematok harga. Berapapun saya terima. Bahkan ketika ada dua panggilan, meski salah satunya membayar saya lebih tinggi, tapi tidak untuk kepentingan bersama, Saya akan lebih memilih untuk mengisi dengan bayaran rendah tapi bermanfaat bagi masyarakat," terangnya.
Ia menegaskan, dalam menjalani hidup Ia selalu berpegang teguh untuk terus belajar dan berbagi. Bahkan Ia juga telah membuat maha karya Tari Sintren Topeng Tayub Jawa Timur. Tarian dibawakan secara mono play dengan menampilkan 21 rupa tari topeng. Serta segala tari juga ia kuasai, dari Ketek Ogleng, Buto Cakil, Hanoman Indrajid, hingga tari Bali.
Sehingg patut diakui, jika saat ini tak banyak orang seperti Sujopo yang mendedikasikan diri untuk kesenian. Namun juga tak banyak yang tahu bagaimana keadaan seniman dengan pandemi Covid-19.
Tak bisa dipungkiri, dengan kondisi pandemi, Sujopo harus beristirahat di rumah sekaligus sanggarnya. Sehingga biasanya sehari-harinya Ia harus mengajar di TK, SD-SMA, kini harus berhenti sesaat. Bahkan ia juga puasa menari di Eco Green Park dan JTP karena ditutup sementara.(eri/aim/lim)

Editor : Abdul Halim
Penulis : Redaksi