Suka karena Terbiasa

Rabu, 16 Oktober 2019

Minggu, 25 Agu 2019, dibaca : 730 , Yuhana, Dewi

Catatan: Pemimpin Redaksi Dewi Yuhana
Ada banyak komentar dari pembaca untuk edisi perdana Malang Post minggu dengan ukuran ala tabloid. Ada yang protes, namun banyak yang sepakat dan memuji keputusan Malang Post. Ada juga yang memberikan beberapa catatan dan masukan. Semua feedback kami terima dengan senang hati.
Adanya komentar berarti menunjukkan masih ada yang peduli dengan kita. Khawatirlah kalau sampai tidak ada yang mengomentari Anda. Berarti keberadaan Anda seperti ketidakadaan Anda. Wujuduhu ka’adamihi. Pepatah Arab ini artinya “keberadaannya seperti tidak ada”. Menyedihkan.
Komentar-komentar itu saya rangkum sendiri, lewat pesan yang dikirimkan ke nomor WhatsApp yang sengaja saya cantumkan minggu lalu. 08123356850. Itu nomor saya. Jadi, bila Anda belum sempat memberikan feedback, bolehlah kirim sekarang juga. Saya baca setiap komentar, tapi tidak semua saya respons karena pesan masuk cukup banyak. Mohon maaf bila ada pesan WhatsApp yang belum mendapatkan balasan.  
Yang protes, mereka mengatakan lebih suka koran ukuran lama. Katanya, lebih lega membacanya. Lebih gagah dan berwibawa. Ukuran kecil, menurut mereka, seakan Malang Post turun grade. Meski sudah membaca catatan saya yang menyampaikan bahwa redaksi tidak mengurangi jumlah halaman dan isi berita, komentarnya: “Pokok’e enak ukuran lama”.   
Saya tidak menyalahkan pembaca yang protes. Maklum, selama 21 tahun terakhir ini mereka membaca Malang Post dengan ukuran sama, tidak pernah berubah. Tangan dan jari sudah terbiasa dengan ukuran kertas. Analoginya sama seperti ketika Anda berganti HP dengan ukuran berbeda. Pasti membutuhkan waktu beberapa waktu untuk beradaptasi saat memegangnya. Untuk membiasakan tangan dan jari kita sampai terasa nyaman.
Suka karena terbiasa.
Saat Anda lebih sering memegang dan membawa Malang Post edisi minggu dengan ukuran lebih ramping ini, lambat laun Anda pasti akan terbiasa. Saya yakin.
Mereka yang sepakat dengan ukuran Malang Post edisi minggu, bahkan ada yang meminta Malang Post terbit dengan ukuran ini tiap hari. Wah, saya amazed. Namanya Pak Rohim, tapi sayang saya tidak mengulik lebih jauh alasannya. Pesan WA-nya keburu tertutup oleh pesan-pesan lainnya.
“Mantuul”. Komentar singkat itu dikirimkan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang, Pak Azka Subhan beserta foto koran Malang Post dan kucing yang berpose membelakangi kamera. Entah, kucingnya malu difoto atau sombong, hehehe. Pak Azka termasuk pejabat yang memiliki perhatian besar terhadap media massa dan dunia tulis menulis.  Maklum, dulu beliau sempat ingin menjadi wartawan sebelum kemudian diterima sebagai pegawai bank sentral.
Selain de Telegraaf, hampir semua koran lain di negara-negara Eropa dicetak dalam ukuran tabloid. Di Inggris misalnya, ada The Sun. Koran yang didirikan pada 1964 ini awalnya dicetak dalam ukuran besar. Lalu pada 1969 berubah menjadi koran tabloid. The Sun termasuk dua besar koran harian dengan sirkulasi tertinggi di Inggris.  Rata-rata cetak hariannya di tahun 2019 ini, 1,4 juta eksemplar.
Koran tabloid lainnya adalah The Daily Mail yang usianya lebih tua, 123 tahun. Oplah koran yang diterbitkan di London ini adalah ketiga terbesar sesudah The Sun, dengan rata-rata sirkulasi 1.222.611 per hari. The Daily Mail awalnya koran dengan ukuran besar dan baru berubah menjadi format tabloid pada 3 Mei 1971, atau 75 tahun sejak ia didirikan.
Jadi, perubahan adalah sesuatu hal yang biasa. Jamak dilakukan dan bahkan dalam momen tertentu harus dikerjakan. Di edisi kedua minggu ini, Malang Post hadir lebih tebal, 32 halaman. Selamat menikmati.(*)



Rabu, 16 Okt 2019

PSM Partai Neraka Arema

Loading...