MALANG POST - Sulitnya Sosial Distancing, Buah Belajar HOW tanpa WHY

Senin, 25 Mei 2020

  Mengikuti :


Sulitnya Sosial Distancing, Buah Belajar HOW tanpa WHY

Jumat, 17 Apr 2020, Dibaca : 2148 Kali

Tak terasa sudah hamper sebulan mahasiswa menjalankan kuliah online. UAS dan Ramadan sudah di depan mata. Pun dengan adik-adik kami di SMA, SMP, SD bahkan TK mereka juga sedang disibukkan dengan home learningnya. Di antara mereka ada yang sedang mengalami masa transisi untuk berjuang menggapai kelulusan dan mendapatkan kampus impian.  Netizen lupa dibalik bully-an ‘Hahaha, lulus UN jalur Corona’ ada banyak harga yang harus dibayar oleh adik-adik yang sedang berjuang.


    Hanya saja di tengah pandemi Corona ini ada yang lebih miris lagi. Surat edaran kuliah online atau belajar di rumah dimaknai sebagai masa liburan panjang yang wajib dimanfaatkan untuk pulang, bertemu teman, jalan-jalan mengunjungi indahnya gunung dan lautan. Saya benar-benar tidak habis pikir, mengapa ada mahasiswa yang melakukan hal ini. Padahal mereka menyandang gelar ‘maha’ tapi tidak memberikan contoh yang tepat (meski tidak semua mahasiswa demikian), ketika ditanya mengapa alasannya pun klise.


Bukankah kita sama-sama belum mengetahui dengan pasti bagaimana formula penyebaran virus corona? Yang jelas kita tidak bisa mengidentifikasi dengan cepat siapapun yang terinfeksi virus Corona. Bisa jadi di hari pertama kita sehat-sehat ketika keluar rumah, tapi siapa yang bisa menjamin di hari ketujuh atau di hari ke 14 kita bisa aman dari virus tersebut? Atau kita juga tidak mengetahui apakah ketika kita pulang kita bisa aman? Atau justru malah membawa carrier virus kepada keluarga, bahaya.


    Sosial distancing mulai dikampanyekan oleh selebriti, influencer, komedian dan lain lain. Bahkan hastag #DiRumahAja menjadi trending. Instagram pun sampai merilis stiker #DiRumahAja sebagai bentuk support untuk mengajak masyarakat untuk bertahan di rumah. Hanya saja kita tidak bisa memungkiri, ada banyak peran yang tidak bisa untuk #DiRumahAja sebab rata-rata pekerjaan masyarakat adalah pekerja harian yang apabila tidak bekerja mereka tidak akan ada asap di dapur. Mereka beralasan “Rela mati karena bekerja di luar daripada mati di rumah karena kelaparan” Menangis hati saya mendengar ini.


Ketika ada solusi sementara dari pemerintah daerah, untuk me-Lockdown usul ditolak dengan Presiden dengan alasan “Lockdown adalah kebijakan pemerintah pusat. Tidak boleh diambil pemerintah daerah”. Sedangkan tanggal 22 Maret Presiden mengumumkan “Tidak menginginkan Lockdown” dan sampai hari ini kita menyaksikan pemerintah tidak mengambil langkah Lockdown. Sebab bila langkah ini diambil pemerintah harus menanggung seluruh kebutuhan masyarakat Indonesia. Maka kebijakan yang dipilih adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Muncullah tulisan-tulisan di depan gapura desa yang menuliskan Lockdown dengan tulisan typo “Lookdown” dll. Mereka juga bingung mengampanyekan kepada tetangga dengan cara apa, ketika akan menuliskan lockdown, malah typo tiada duanya. Tapi tetap saja masyarakat yang tidak memiliki kepentingan masih saja keluar rumah. Maka jangan heran per tanggal 16 April lalu, kita sudah menyaksikan 5.516 saudara kita positif terinfeksi Corona, 496 orang meninggal dunia dan 548 orang sembuh. Dan 6 April 2020 sebelumnya, belasan dokter meninggal dunia.


Betapa upaya himbauan pemerintah untuk melakukan social distancing tidak mempan sama sekali. Sebab pemerintah hanya menghimbau untuk melakukan social distancing tanpa dijelaskan mengapa harus melakukan hal tersebut. Padahal pertanyaan mengapa ini yang akan dijadikan pondasi oleh masyarakat untuk melakukan sesuatu. Tapi kita juga tidak bisa menyalahkan masyarakat begitu saja. Mereka memiliki paradigma demikian karena terbiasa dengan ritme belajar yang menimba ilmu ‘how’ tanpa menelisik ‘why’.


Tentu kita masih ingat pelajaran di sekolah dasar yang mengajari kita bagaimana tata cara salat, dilanjut ketika masuk SMP diajari bagaimana tata cara zakat, naik haji dan rukun iman yang lainnya tanpa mendetaili mengapa saya harus salat, mengapa saya harus menunaikan zakat? Akhirnya semua dilaksanakan bukan dasar kesadaran tapi atas dasar ikut kebanyakan orang atau justru paksaan. Jadi jangan kaget, jika adik-adik kita ketika SD rajin salat, ketika SMA ada di antara mereka yang melalaikan kewajiban salatnya, sebab mereka tidak belajar “Mengapa saya harus salat?”


Beginilah potret pendidikan di negeri kita tercinta, Indonesia. Negeri dengan kurikulum yang menekankan kuantitas (yang penting lulus KKM, nilainya bagus) dan setelah lulus bisa kerja. Mereka diajari how tiada hentinya, tanpa pernah gelisah why?
Betapa banyak orang ketika ditanya masih ingat nggak dengan pelajaran matematika SD atau SMP kalian? Pasti rata-rata dari mereka menjawab tidak. Seolah sekolah hanya menjadi rangkaian seremonial pendidikan formal untuk mendapatkan gelar dan sertifikat kelulusan.
Hal ini berbeda sekali dengan Islam yang memiliki metode khusus dalam pengajaran. Apabila metode ini dijalankan akan menghasilkan pengaruh yang nyata. Pelajaran harus disampaikan kepada pelajar melalui proses berpikir yang membekas dan memberikan pengaruh terhadap perasaannya, sehingga pembawaan dan tanggungjawab dalam hidupnya dihasilkan oleh pemikiran yang membekas, sampai di dalam dirinya terwujud semangat yang berkobar.


Di saat yang sama terwujud pula pemikiran dan pengetahuan yang amat luas, sekaligus upaya untuk mengamalkannya secara alami. Dengan metode pendidikan seperti ini akan muncul pemahaman dan kemampuan pada diri pelajar dari pemahaman yang membekas, bahkan pemikirannya semakin luas dan terpadu dengan perasaannya.
Maka sistem belajar harus dijauhkan dari sekadar menutut ilmu belaka, agar pelajar tidak hanya menjadi buku yang berjalan dan yang berkaitan dengan saat ini. Sistem belajar tidak boleh hanya sekadar nasehat, sebab akan menimbulkan kedangkalan berpikir seperti saat ini. Maka mari pelajari Islam lebih dalam supaya kita tergambar bahwa Islam bukan hanya agama ritual, melainkan juga jalan hidup yang seharusnya diambil dan diterapkan menjadi rahmat bagi seluruh alam.(*)

Oleh: Putri Hanifah, C.NNLP
Mahasiswi Sastra Arab Universitas Negeri Malang

Editor : Redaksi
Penulis : Opini