MalangPost - Sumbangsih Covid19 dalam Perkembangan Keilmuan Sosiologi Kesehatan

Kamis, 06 Agustus 2020

  Mengikuti :

Sumbangsih Covid19 dalam Perkembangan Keilmuan Sosiologi Kesehatan

Minggu, 12 Apr 2020, Dibaca : 3744 Kali

Sebagai dampak dari penyebaran virus Covid-19 yang melanda Indonesia belakangan ini, apakah sebenarnya kita menyadari bahwa peran keilmuan Sosiologi Kesehatan tengah mengalami proses modifikasi. Apa yang mendasari pernyataan tersebut?
Mari kita tarik garis mundur ke belakang dahulu. Secara harfiah, peran serta keilmuan Sosiologi dalam memberikan kontribusi nyata terhadap pencegahan Virus Covid-19 ini sedang diuji. Memang benar, berbicara tentang virus silent killer ini tidak hanya menyoal tentang konteks medis saja, karena dalam penyebaran epidemi virus ini yang nyata harus dicegah adalah pola penyebarannya.
Pola penyebaran tersebut bisa dilihat dari mobilitas masyarakat dan kepadatan proses interaksi. Hal ini dibenarkan oleh peneliti yang dikemas apik dalam Situs World 0 Meters yang menyatakan kasus penyebaran virus sudah mencapai angka 1.603.000. Dalam situs tersebut juga menyebutkan bahwa sebenarnya ada virus SARS yang lebih mematikan akan tetapi pola penyebaran Covid-19 ini grafiknya jauh melampaui virus lainnya seperti SARS, SARS –CoV, MERS (Vincent, 2017).
    Vincent dalam Penelitian di Tahun 2017 yang dimuat di jurnal American Society for Microbiology sudah menyebutkan nantinya akan berkembang jenis virus baru dari SARS – CoV yang dikhawatirkan tentang penyebaran epidemi yang sangat kuat.  Di sinilah sebenarnya peran dari Sosiologi dalam mendukung pencegahan penyebaran virus Covid-19. Tentunya ilmu medis tidak dapat berjalan sendiri tanpa didukung oleh peran ilmu sosial. Keilmuan medis tersebut diperlukan untuk penyembuhan penyakit, sedangkan ilmu sosial berperan sebagai supporting penyembuhan pencegahan penyebaran.
Peran Sosiolog diperlukan agar dapat memberikan rekomendasi kepada elit pemangku kebijakan agar berbagai macam program pencegahan tersebut berjalan maksimal. Bagaimana dengan kasus Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang gencar diterapkan baru-baru ini?. Secara kasat mata, kebijakan tersebut memang dilakukan di beberapa daerah terdampak di Indonesia khususnya pada daerah episentrum. Akan tetapi yang menjadi permasalahan apakah sebenarnya masyarakat awam memaknai pembatasan sosial tersebut?. Bisa jadi masyarakat memaknai berbeda terhadap istilah yang baru saja mereka ketahui.
Pada teori pemahaman rasa takut yang diungkapkan Solita (1993; 58) sampai dengan tingkat tertentu individu tersebut merasakan takut, maka individu akan menerima tindakan yang dianjurkan. Tetapi jika rasa takut itu sedikit sekali atau justru menjadi semakin kuat, maka individu akan menolak anjuran tersebut. Pada kasus ini memang adanya asumsi masyarakat bahwa harus sedikit diberikan pressure terhadap kemungkinan terburuk yang dapat terjadi dari penyebaran Covid-19 ini. Kebalikannya, masyarakat yang menyadari sedikitnya dampak dari penyebaran penyakit tersebut serta ketidak–percayaan terhadap metode penanggulangan, maka akan menolak policy tersebut. Bahkan kemungkinan terburuk adalah adanya perlawanan dari masyarakat yang tidak menerima pembatasan sosial skala besar. Contohnya, saat ini ramai resistansi terhadap kebijakan pembatasan sosial akibat perdebatan antara keperluan bekerja di luar dengan tingkat sadar penyebaran virus. Bagi masyarakat yang merasa kehidupan mereka bergantung dari pekerjaan yang mereka lakukan sehari-hari tentu akan merasa dirugikan terhadap keputusan ini, meskipun dia menyadari bahayanya dampak dari penyebaran epidemic penyakit. Tentu secara sadar mereka akan melakukan perlawanan agar mereka tetap dapat melanggengkan tujuan mereka.
Di sinilah sebenarnya peran serta keilmuan sosial khususnya fokus kepada  sosiologi kesehatan. Pemberian kesadaran kepada masyarakat ataupun penentuan arah kebijakan yang tepat sasaran bagi masyarakat terdampak.
    Sosiologi kesehatan memasuki tahap perkembangan. Teori-teori lawas yang bersifat jebakan kepada analisis berubah dan menyesuaikan menjadi teori yang bersifat praksis dalam memperbaiki tatanan sosial dan kelembagaan masyarakat dalam penanganan penyebaran Covid-19. Terkait penjelasan di atas, Teori Adopsi Inovasi Rogers juga mengalami perkembangan. Seperti yang telah diungkapkan oleh, Shoemaker (1971) proses penerimaan adopsi dari sebuah metode pencegahan tersebut dibagi menjadi lima. Yaitu mengetahui dan menyadari tentang adanya ide baru atau yang disebut awareness, menaruh perhatian terhadap ide baru tersebut (interest), memberikan penilaian (evaluation), mencoba menggunakannya (trial), dan jika menerimanya terhadap ide baru, sebagai tahap terakhir yaitu (adoption).
Dalam perkembangannya adopsi terhadap teori tersebut mengalami modifikasi. Pada penerapan zona merah contohnya, masyarakat tetap menyadari besarnya kemungkinan terdampak penyakit, masyarakat juga mendapatkan interest dari penerapan zona merah tersebut, akan tetapi pada suatu titik tertentu masyarakat juga menyadari bahwa mereka harus tetap bekerja dengan tidak memperhatikan himbauan dari pemerintah. Akibatnya pada masa karantina ini masih banyak aktifitas masyarakat sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap penyebaran Covid-19. Faktanya faktor mobilitas manusia dan interaksi sosial yang lebih kuat pengaruhnya bila dibandingkan faktor geografis, iklim dan lain sebagainya inilah yang menuntut perubahan beberapa penyesuaian dalam keilmuan Sosiologi Kesehatan.
Berbicara tentang modifikasi adaptasi, Benyamin Lumenta (1987) menungkapkan lingkungan sosial dapat diatasi, namun benturan sosial dalam penyebaran penyakit akan menghadapkan pada sebuah permasalahan baru yang menimbulkan kesulitan tersendiri. Modifikasi tersebut juga harus memperhatikan keselarasan aspek terkait. Senada dengan pernyataan di atas, Rachmad (2020) mengungkapkan bahwa penerapan tersebut harus diiringi dengan karakter keruangan (space), sikap, pola pikir dan pola migrasi penduduk harus diperhatikan. Langkah selanjutnya adalah adanya koordinasi yang baik antar pemerintahan, ketiga kepemimpinan formal dan informal terhadap penanganan wabah.
    Bagi ilmu pengetahuan faktor modifikasi yang berkembang sangat penting bagi kebaharuan ilmu pengetahuan. Memaknai Sosiologi Kesehatan akan terus berkembang seiring perkembangan epidemic penyakit dan karakteristik masyarakat dalam menyikapi penyakit. Sosiologi Kesehatan merupakan solusi supporting terhadap metode medis dalam pencegahan penyebaran epidemi penyakit. Sedangkan peran Sosiolog terfokus kepada  memberikan kesadaran dan pengetahuan baru kepada masyarakat. Sosiolog harus berbicara berbasis data bukan berdasarkan kata-kata maupun informasi yang bersifat hoax. Memberikan konsultasi dan berperan aktif melalui komunitas lokal dalam menjalankan program.(*)

Oleh : Faizal Kurniawan, S.Pd, M.Si

WASEKJEN Ikatan Sosiologi Indonesia Malang Raya,
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sosiologi FISIP
Universitas Brawijaya

Editor : Redaksi
Penulis : Opini