MALANG POST - Tak Ada Berita Seharga Nyawa

Senin, 25 Mei 2020

  Mengikuti :


Tak Ada Berita Seharga Nyawa

Sabtu, 28 Mar 2020, Dibaca : 3984 Kali

Pandemi Coronavirus Disease 19 (Covid-19) benar-benar mengubah tatanan dunia. Mengubah bagaimana kita berinteraksi sosial, bekerja, berolahraga, bertemu tetangga. Semua aktivitas kita tak lagi sama seperti sebelum masa pagebluk ini datang. Saya tidak perlu menjabarkan satu per satu, karena Anda semua pasti sudah merasakannya sejak dua minggu terakhir isu Covid-19 masuk Malang, dan sejak Pemkot Malang serta RSSA mengumumkan adanya pasien Positif Covid-19, pada 18 Maret lalu.
Termasuk edisi Malang Post koran yang ada di tangan Anda hari ini. Berubah. Kembali pada ukuran normal harian. Tidak lagi compact seperti edisi hari minggu biasanya sejak kami terbitkan Agustus tahun lalu. Kok bisa? Let me tell you the whole story.


Sejak 16 Maret 2020, Covid-19 selalu menghiasi halaman pertama Malang Post. Menjadi headline, liputan khusus edisi mingguan dan bahkan masih jadi headline edisi hari ini. Rasanya, jarang sekali kami mengulas sebuah isu berhari-hari, berurutan selama lebih dari 10 hari dan masih akan berlanjut, terus menerus. Kecuali Covid-19. Sebuah liputan yang tidak saja menguras energi tapi juga emosi. Liputan berisiko karena di waktu bersamaan, wartawan harus mampu menjaga diri supaya tidak sampai terpapar Covid-19.


Kami mendukung pelaksanaan Study From Home (SFH), Work From Home (WFH), Social Distancing dan kampanye #DiRumahAja atau #NangHamurAe, tapi WFH susah untuk dilakukan oleh wartawan. Mereka harus mengerjakan liputan di lapangan, wawancara langsung dengan narasumber, mencari data, memotret, mengabadikan moment, menganalisa data dan pernyataan narasumber. Tak menutup kemungkinan harus wawancara lagi untuk melengkapi cerita hingga menuliskannya menjadi sebuah berita. Wartawan melakukan semua itu bukan karena jumawa dan gagah-gagahan menantang bahaya, tapi demi menyajikan fakta kepada pembaca. Ini alasan idealis.


Alasan lain adalah kebutuhan fisiologis. Dalam bahasa Psikologi, itu adalah kebutuhan untuk mempertahankan hidup secara fisik. Merupakan kebutuhan paling dasar manusia menurut Maslow. Kebutuhan dasar itu seperti makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal atau sandang, pangan dan papan. Bahasa mudahnya, kalau wartawan tidak keluar mencari berita, ya tidak makan. Terlalu blak-blakan? It’s me.


Tapi, menjadi ironi bila kami gencar mengampanyekan #NangHamurAe, WFH, Social Distancing dan yang terbaru Physical Distancing, namun wartawan dan karyawan Malang Post sendiri tidak berusaha melakukan hal itu. Sejak pekan lalu, manajemen Malang Post membuat kebijakan karyawan administrasi non redaksi dijadwalkan untuk WFH secara bergantian. Dan mulai Senin besok, mereka yang piket masuk kantor, jam kerjanya berkurang, menjadi maksimal empat jam. Bila tugas hari itu sudah selesai, karyawan diharapkan langsung pulang. Tidak boleh di kantor terlalu lama, tidak boleh mampir-mampir.


Kami juga membuat kebijakan untuk melonggarkan kehadiran wartawan di kantor. Mereka bisa menulis berita dari rumah, tidak perlu ngantor, untuk meminimalisir pertemuan wartawan dengan karyawan lain. Dengan catatan, wartawan tetap on call. Siap suplai berita saat diminta. Dengan kondisi seperti ini, tetap agak sulit untuk mengatur ritme kerja wartawan. Maka kami berusaha mengurangi  beban kerja mereka. Salah satu upaya itu kami lakukan lewat perubahan ukuran edisi mingguan Malang Post, dari compact ke ukuran normal.


Saat menulis catatan edisi compact tahun lalu, saya sampaikan kepada Anda semua, bahwa perubahan ukuran koran kala itu membawa konsekuensi, yaitu menambah beban kerja wartawan. Meski ukurannya menjadi lebih kecil, halaman koran bertambah. Ada 32 halaman. Redaksi dituntut menyiapkan berita dan foto headline lebih banyak dibanding hari-hari biasa. Belum lagi konsep mingguan yang diisi dengan liputan khusus (lipsus) dengan tema-tema berbeda, membuat wartawan harus menyicil berita lipsus di sela tugas wajib harian mereka. Di situasi seperti sekarang ini, kami harus membuat keputusan cepat dan tepat, mengubah ukuran koran edisi minggu.


Perubahan ini menjadi salah satu ikhtiar kami dalam menjaga wartawan. Supaya mereka bisa bekerja dengan tetap memperhatikan diri dan kesehatan, sebab tak ada berita seharga nyawa. Di tahun-tahun pertama menjadi wartawan, salah satu guru jurnalistik saya almarhum Husnun N. Djuraid menyampaikan, rumus menulis berita tidak hanya 5W dan 1H, tapi 5W, 1H dan S untuk safety. Dulu, yang dijadikan contoh adalah kasus pembunuhan wartawan Fuad Muhammad Syafruddin (Udin), sekarang momoknya berbentuk Covid-19 yang menjadi musuh bersama warga dunia.


Wartawan harus pula memikirkan keselamatan dirinya. Ada waktu di mana dia tidak boleh egois untuk berita. Dan saat ini adalah moment yang tepat.
Semoga Covid-19 segera berlalu dan dunia kembali pada hiruk pikuknya seperti sedia kala.(*)

Oleh: Direktur Malang Post Dewi Yuhana

Editor : Redaksi
Penulis : Dewi Yuhana