Tak Punya Peta Asli Jalur Drainase, Tak Bisa Bedakan dengan Jalur Irigasi

Minggu, 31 Mei 2020

  Mengikuti :


Tak Punya Peta Asli Jalur Drainase, Tak Bisa Bedakan dengan Jalur Irigasi

Selasa, 25 Feb 2020, Dibaca : 4893 Kali

Diskusi Malang Post Forum dengan tema “Banjir Kota Malang, karena Sampah atau Sistem Drainase Buruk”, digelar Jumat (20/2) di Graha Malang Post. Terungkap, bahwa banjir di Kota Malang ternyata lebih rumit dari apa yang terlihat. Tidak hanya soal sampah menyumbat ataupun luapan air saja, tapi juga menyangkut sistem drainase seluruh Kota Malang. Seharusnya masalah itu dapat cepat diselesaikan, seandainya Kota Malang memiliki peta drainase.
Peta drainase yang dimaksud adalah peta asli jalur drainase detail dari hulu sampai hilir. Sebuah peta drainase yang menunjukan seluruh jaringan drainase yang ada di Kota Malang sejak zaman Belanda. Nyatanya peta ini tidak ada. Hal ini disampaikan Anggota Komisi C DPRD Kota Malang Agoes Marhaenta, yang hadir mewakili anggota legislatif.
“Informasi yang saya dapat peta asli itu ada di Belanda sana,” tukas Agoes.
 Ia menjelaskan peta ini penting untuk menjadi acuan segala tindakan mengenai perbaikan tata sistem drainase yang ada. Termasuk melancarkan Gerakan Angkut Sampah dan Sedimen (GASS) yang tengah digencarkan Pemkot Malang. Pasalnya harus diketahui darimanakah asal air-air yang datang ketika hujan mengguyur kemudian menggenangi Kota Malang.
“Pengalaman kita di Jalan Soekarno-Hatta yang di Ringin Asri itu. Itu kan air datang dari Kota Batu. Bahaya rasanya jika kita ndak waspada air ini datang dari mana saja. Jika tidak tahu bagaiamana bisa antisipasi,” tegasnya.
Menurut Politisi PDI Perjuangan Kota Malang ini, masalah drainase selain tersumbat sampah juga berkaitan dengan limpahan air dari wilayah lain. Maka dari itu Kota Malang dikelilingi banyak pintu-pintu air. Jika diketahui jelas mana saja daerah rawan banjir, kemudian diketahui air datang dari pintu air mana. Maka pintu air tersebut bisa lebih diberi perhatian atau dipelihara setidaknya.
“Jika kita tahu. Misalnya air ini sebenarnya datang dari mana sih sebagian besar. Misal dari Batu, maka kerjasama bisa dijajaki Pemkot Malang untuk membuat lebih banyak embung (lahan penampungan air) di Batu sana agar air bisa pecah ketika masuk Kota Malang,” jelasnya.
Hingga saat ini pun peta asli jaringan drainase yang ada di Kota Malang tidak pernah dia lihat. Artinya ketika banjir datang maka perangkat atau dinas terkait Kota Malang hanya menindaklanjuti sebagian kecil penyebab masalah saja. Penyebab awal atau asal air tidak pernah diketahui. Jika seperti itu maka aliran air yang datang akan terus menyebabkan banjir, karena drainase tidak diperhatikan.
Hal ini juga diamini Pakar Teknik ITN Malang Ir. Wayan Mundra, ST,MT., yang turut hadir dalam diskusi Malang Post. Ia menjelaskan ada yang salah dengan sistem drainase di Kota Malang. Ia melihat satu kondisi yang ada di Jl Veteran.
Dijelaskannya, keanehan terjadi karena drainase di kawasan tersebut baru dibuat. Akan tetapi setiap hujan deras datang, air tetap menggenang di kawasan itu. Artinya, air tidak lancar masuk ke dalam saluran.
“Saya lihat penutup drainasenya dari beton dengan lubang yang kecil-kecil. Kalau penutup dari beton susah diangkat apalagi kalau diameter lubang kecil orang susah masuk. Lalu kalau saya lihat jarak dari lubang (main hole) satu dengan yang lainnya jauh. Ini akan susah dibersihkan,” jelasnya.
Hal yang aneh juga ia lihat saat banjir terjadi di kawasan Sardo. Air mengalir ke jalan bukan ke arah drainase atau masuk ke dalam sungai yang ada di sekitar. Dia memperkirakan adanya kesalahan jaringan drainase di sana, sehingga air tidak masuk lancar pada jaringan drainase.
Wayan juga menyampaikan bahwa sisi historis tata guna lahan Kota Malang juga harus diperhatikan. Pasalnya sebelum pemukiman penduduk memadati lahan di Kota Malang, wilayah Kota Malang dulunya ditutupi areal persawahan dan kebun.
Artinya sistem air dahulu banyak menggunakan sistem jaringan irigasi. Lambat laun lahan sawah menjadi perumahan maka jaringa irigasi berubah menjadi sistem jaringan drainase. Di sinilah yang diperkirakan menjadi masalah.
“Sistem jaringan irigasi tidaklah sama dengan drainase. Jaringan irigasi itu tidak nyambung, alias lepas-lepas. Karena dari bendungan irigasi akan membagi air ke aliran lebih kecil-kecil lagi. Ini seperti apa dulunya dan saat ini? Master Plan jaringan irigasi dan drainase malah ada di Belanda ya?,” terangnya.
Master Plan Drainase yang asli, yang diinfokan ada di Belanda itulah yang seharusnya menjadi acuan segala pembentukan sistem drainase Kota Malang. Pemkot harus mengetahui jaringan drainase yang dibuat mengalir dan tersambung dengan baik. Bukan mengikuti alur irigasi yang lepas-lepas.
Wayan meyakini, masalah banjir di Kota Malang bukan masalah banjir seperti di Jakarta. Bukan disebabkan luapan air sungai.
“Sejak 1981 saya di Malang Sungai Brantas itu tidak pernah meluap. Kita tidak seperti Jakarta banjirnya. Memang ini masalah di tata guna lahan juga drainasenya,” pungkasnya.
Masalah banjir Kota Malang yang belum lama ini muncul kembali dengan parah di Kawasan Tanjungrejo juga diyakini hasil dari kurang tegasnya penegakan aturan di Kota Malang. Utamanya aturan pendirian bangunan. Hal ini akan lebih dibahas dalam artikel diskusi selanjutnya.(ica/arybersambung)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Francisca Angelina