Tak Terlupakan di Desa *Surga di Atas Awan*

Selasa, 26 Mei 2020

  Mengikuti :


Tak Terlupakan di Desa *Surga di Atas Awan*

Sabtu, 07 Mar 2020, Dibaca : 5205 Kali

MALANG – Desa Wae Rebo yang terletak di Flores Nusa Tenggara Timur (NTT) memang menyimpan keindahan luar biasa. Saat menapakkan kaki di desa dengan ketinggian 1200 mdpl ini, pengunjung pasti akan dibuat berdecak kagum oleh bentang perbukitan hijau nan indah serta dapat melihat uniknya tujuh rumah utama adat Mbaru Niang.


Namun keindahan luar biasa tersebut tak mudah untuk dijangkau. Penuh perjuangan dan trekking berjam-jam, hal ini pula yang dirasakan oleh Ratu Chintya Dice Windana manakala mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Desa Wae Rebo.
“Perjalanan untuk sampai ke sana sangat panjang, dimulai dari Surabaya flight jam lima pagi lalu transit terlebih dahulu di Bali dan flight ke Labuan Bajo, kemudian menuju Kampung Wae Rebo dengan waktu tempuh sekitar 4 sampai 6 jam perjalanan,” ujar Ratu.


Bukan saja perjalanan panjang ditempuhnya, melainkan juga di Flores tidak ada sinyal dan bahkan minim listrik karena hanya menyala dari jam 18.00 sampai 21.00 saja. Untuk sampai di Desa Wae Rebo inilah tamu harus trekking selama kurang lebih dua jam.
Perkampungan yang berada di atas pegunungan inilah mampu melupakan rasa lelah. Selain hijau dan rindangnya perbukitan juga rumah unik berbentuk kerucut mampu menghipnotis mata sebab rumah ini tidak dijumpai di tempat lainnya.
“Sampai di Desa Wae Rebo kami disambut dengan baik dan ada penyambutan bagi tamu atau pendatang, kampung ini masih sangat sejuk dan warganya juga ramah, bikin betah dan tak ingin pulang,” terangnya kepada Malang Post.


Keindahan tersebut semakin lengkap dengan beberapa perayaan adat yang datang setiap November. Upacara Adat penti namanya, yakni perayaan rasa syukur berkat hasil panen yang diperoleh selama satu tahun. Pada perayaan ini warga juga meminta perlindungan dan keharmonisan.
Ratu melanjutkan, mengunjungi Desa Wae Rebo menjadi pengalaman tak terlupakan. Selain bentangan keindahan alam luar biasa, udara sejuk dan juga keramahan masyarakatnya juga memberi rasa syukur tersendiri.
“Rasa syukur bagaimana kita seharusnya menjaga lingkungan agar tetap lestari, selain menikmati keindangan alamnya di sana kami bisa berinteraksi dengan warga dan bahkan bercengkrama dengan akrab,” papar Ratu.


Desa yang kerap dijuluki sebagai surga di atas awan ini juga dinobatkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 2012 silam dan menjadi salah satu kandidat peraih penghargaan Aga Khan pada tahun 2013. Meski banyak dikunjungi wisatawan namun warga di Wae Rebo memilih bertani dan bertenun sebagai mata pencaharian. (lin/jon)

Editor : Jon Soeparijono
Penulis : Linda Epariyani