MALANG POST - Tanpa Jaga Jarak, Pasar Takjil Dadakan Diserbu Warga

Senin, 25 Mei 2020

  Mengikuti :


Tanpa Jaga Jarak, Pasar Takjil Dadakan Diserbu Warga

Jumat, 24 Apr 2020, Dibaca : 13428 Kali

MALANG – Imbauan pemerintah agar masyarakat beribadah dan tetap berada di rumah, masih perlu lagi digerakan kedisplinannya. Meski tidak ada pasar takjil yang diizinkan beroperasi selama Ramadan, tapi dibeberapa titik yang biasa menjadi lokasi pasar takjil, hari pertama Ramadan, masih banyak diserbu masyarakat. Sehingga menjadi kerumunan yang tidak bisa dihindari. Imbauan jaga jarak menjadi tidak diindahkan untuk memutus mata rantai Covid-19.


 Setidaknya ada empat kawasan di Kota Malang yang masih memikat warga Kota Malang untuk “berburu” takjil, yakni Jalan Muharto, kawasan Jalan Soekarno-Hatta dan Jalan Sulfat dan kawasan Sawojajar. Yang paling terlihat ramai dan berkerumunan terjadi  di sepanjang Jalan Muharto.  Masyarakat banyak yang menjajakan takjil di pinggir jalan menurun itu. Kurang lebih 20-30 pedagang takjil berada di kiri-kanan badan jalan. Jajanan khas buka puasa ditawarkan seperti minuman es buah, cendol dawet, kue-kue basah hingga makanan berat dijajakan.


Dianita, salah seorang warga pembeli menjelaskan ia sengaja keluar mencari takjil untuk berbuka puasa. Karena di hari pertama puasa ini, ia ingin berbuka dengan makanan dan minuman yang ia suka.
“Sempat ragu awalnya apa ada yang jualan ya, tapi ternyata masih banyak yang berjualan takjil. Saya memang mau cari es kolak,” kata warga kawasan Jalan Kyai Tamin ini.

 

Pantauan Malang Post, banyak pedagang dan warga  yang tidak mengenakan masker. Warga pembeli pun seakan-akan tidak peduli dengan wabah yang menjadi perhatian pemerintah saat ini.
Karena sangat banyak terlihat warga lalu lalang membeli tidak mengenakan masker.


Hal yang sama juga terlihat di kawasan Jalan Soekarno-Hatta. Kawasan ini memang setiap Ramadan menjadi kawasan pasar takjil. Sejak pukul 16.00 WIB , 15 hingga 20 pedagang makanan khas berbuka puasa sudah berjejer dipinggir jalan. Makanan dan minuman yang dijual juga beragam, mulai dari yang manis hingga yang asem-pedas.
“Saya biasa jualan disini kalau buka puasa, tidak lama-lama saat jam buka puasa saja,” tutur Solehudin salah satu pedagang di kawasan Jalan Soekarno-Hatta yang menjual cilok daging.


Di kawasan ini warga banyak mendatangi untuk membeli. Kebanyakan dari mereka memang sedang berkendara dan kemudian berhenti untuk membeli dagangan yang ada. Sekitar pukul 17.00 WIB, suasana terlihat mulai padat.
Tidak ada petugas berjaga ataupun menghalau aktivitas ini. Suasana masih ramai, meski tidak seramai bulan puasa pada tahun-tahun sebelumnya.  Di kawasan Jalan Sulfat juga tidak jauh berbeda. Pasar takjil dadakan juga terlihat di sepanjang jalan ini, khususnya di kawasan sekitar Puskesmas Kendalkerep. Warga sekitar terlihat berburu takjil.  Kurang lebih 30 hingga 40 pedagang terlihat berada di sepanjang jalan ini. Warga pun terlihat mengerumuni.


Berbeda dengan Kota Malang, di Kota Batu, kawasan Alun-alun yang biasanya ramai dengan penjual takjil, saat ini sepi.
Dari pantauan Malang Post di Alun-Alun Kota Batu, hanya sekitar  lima pedagang yang berjualan. Mereka adalah pedagang es buah, susu, jamu, lok-lok dan pedagang minuman kemasan. Begitu juga pembeli, hanya ada satu dua orang.


Salah satu pedagang yang tak mau disebutkan namanya mengatakan, jika pandemi Covid-19 mengakibatkan semua sektor merasakan dampaknya, termasuk mereka.
"Ramadan tahun ini sangat terasa sepi. Berbeda dengan tahun sebelumnya ketika sore sudah banyak yang beli takjil," ujar pedagang Es buah di Alun-Alun Kota Batu.


Sebelumnya pedagang ini sempat tutup. Namun karena bantuan tak kunjung turun pada akhirnya buka kembali. Karena memang PKL sesuai aturan masih boleh berjualan hingga pukul 21.00 WIB. Ia mengungkapkan jika Ramadan tahun lalu per hari rata-rata bisa mendapat omset Rp 300 ribu-500 ribu. Saat ini ada yang beli saja sudah baik.
Sementara itu, salah satu pembeli Susanti (34) mengatakan jika dirinya keluar mencari takjil untuk berbuka.
"Tiap tahun kalau cari takjil selalu ke Alun-Alun Batu. Memang tahun ini sangat sepi karena adanya virus corona. Masyarakat diminta untuk lebih banyak dirumah dan menggunakan masker saat keluar," terangnya.


Menurut warga Desa Pesanggrahan ini, selama keluar atau bepergian menggunakan masker dan menjaga jarak tidak ada yang perlu dikhawatirkan. (ica/eri/aim)

Editor : Muhaimin
Penulis : Redaksi