Terancam Hukuman 6 Tahun Penjara, Tiga Eksekutor Vandalisme Ditetapkan Tersangka

Minggu, 31 Mei 2020

  Mengikuti :


Terancam Hukuman 6 Tahun Penjara, Tiga Eksekutor Vandalisme Ditetapkan Tersangka

Rabu, 22 Apr 2020, Dibaca : 3315 Kali

MALANG – Setelah melalui penyidikan panjang, Satreskrim Polresta Malang Kota akhirnya menetapkan tiga mahasiswa yang menjadi pelaku vandalisme sebagai tersangka. Mereka dijerat pasal 14 dan 15 Undang-undang RI nomor 1 tahun 1946 dan pasal 160 KUHP, dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara. Rabu (22/4) kasus ini dibeber Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Leonardus Simarmata.


Mereka adalah MMA, 20, warga Kecamatan Pakis, SRA, 20, warga Kecamatan Singosari serta AFF, 22, warga Buduran, Sidoarjo. “Mereka sudah kami lakukan penahanan. Kasusnya kini masih dikembangkan,” ujar Leonardus.
Ketiga pelaku vandalismee ini ditangkap karena melakukan pengerusakan property milik orang, dengan mencoret dinding menggunakan kata-kata provokatif. Mereka dibekuk di rumahnya masing-masing tanpa perlawanan.
Sebagai barang buktinya polisi mengamankan tiga buah ponsel, tiga buah helm dan sepeda motor Honda Beat N-2486-HO yang menjadi sarana aksi. Termasuk skep tulisan berbahan karton bertuliskan Tegalrejo Melawan, satu buah sepatu, cat semprot warna hitam serta dokumentasi tulisan provokatif.


Peristiwanya terjadi pada 4 April 2020. Aksi pencoretan dilakukan pada tengah malam sekitar 00.00 - 04.00. Ada enam lokasi yang dijadikan sasaran aksi vandalisme. Yakni di Jalan Sunandar Priyo Sudarmo, Jalan LA Sucipto, simpang tiga Jalan Tenaga, Jalan Ahmad Yani Utara, Jalan Jaksa Agung Suprapto serta underpass pintu Tol Karanglo.
"Mereka mencari tempat sepi untuk melakukan aksinya. Setiap beraksi selalu membawa cat semprot warna hitam,” tuturnya.


Perwira berpangkat melati tiga ini, mengatakan bahwa ketiganya memiliki peran masing-masing. MMA berperan membeli cat sekaligus melakukan pencoretan bersama SRA. Sedangkan AFF perannya mengawasi situasi ketika kedua temannya beraksi.
"Motif pelaku melakukan aksi ini lantaran tidak menerima atau memprovokasi masyarakat untuk melawan kapitalisme," beber dia.


Ketika ditanya apakah ada hubungannya dengan kelompok Anarko, mantan Waka Polrestabes Surabaya ini belum bisa memastikan. "Kasus ini masih kita proses dan terus kita lakukan pengembangan dengan mendalaminya," tandasnya.(tea/agp)

Editor : Agung Priyo
Penulis : Amanda Egatya