Terapkan Ilmu Fisika, Sediakan Tutorial di YouTube

Kamis, 28 Mei 2020

  Mengikuti :


Terapkan Ilmu Fisika, Sediakan Tutorial di YouTube

Minggu, 05 Apr 2020, Dibaca : 3828 Kali

TEKNOLOGI Kabut Anti Virus (KAVi) digadang-gadang mampu mensterilkan manusia dengan lebih aman dalam hitungan beberapa detik saja. Dikatakan aman sebab cairan yang dikeluarkan melalui sistem pengkabutan atau uap ini menggunakan kombinasi alkohol 60-70 persen dan air. Sehingga tidak memberikan dampak buruk apabila terpapar langsung pada kulit.


KAVi merupakan hasil rancangan Dr. Imam Tazi, M,Si. Sehari-harinya sebagai  Wakil Dekan Kemahasiswaan dan Kerjasama Fakultas Saintek UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pria yang akrab disapa Tazi ini memaparkan bahwa terciptanya KAVi merupakan buah dari tantangan rektor. Yakni membuat alat sterilisasi manusia dari Covid-19. “Bilik sterilisasi yang kami rancang berbeda. Apabila yang lain cara kerjanya disemprot maka KAVi dalam bentuk kabut atau uap, sehingga lebih baik, aman dan bisa dijamin,” jelas Tazi.


Ide sterilisasi dengan sistem kabut atau uap ini lantaran ia beberapa bulan lalu pernah mengamati penggunaan nebulizer ultrasonik bagi penderita asma. Nebulizer ultrasonik mampu menghasilkan getaran frekuensi tinggi dan dapat mengubah cairan menjadi uap yang bisa dihirup.


Selanjutnya, Tazi bersama tim membuat bilik dari kayu sehingga berbentuk menyerupai lemari yang bisa dimanfaatkan untuk mensterilkan manusia. Hanya saja tidak dengan cara disemprot melainkan cairan yang yang diasapkan atau dikabutkan menggunakan Ultrasonic Mist Maker.
“Kebetulan saya sendiri orang Fisika sehingga tahu cara kerjanya. Ultrasonic Mist Maker memiliki frekuensi getaran 1.6 MHz, artinya mampu menggetarkan sebanyak 1,6 juta kali dalam waktu satu detik,” terangnya.


Dengan frekuensi getaran tersebut membuat cairan akan menjadi kabut atau terionisasi dengan ukuran 1 mikron. Kemudian untuk membuat uap tersebut bisa bergerak di dalam bilik maka dibantu dengan kipas.
Ia melanjutkan, KAVi pada dasarnya sangat sederhana. Hanya saja tim pembuat teknologi ini melengkapinya dengan sensor. Fungsinya untuk mendeteksi orang dari jarak 5 meter. Apabila ada orang yang ingin masuk dari jarak 5 meter maka KAVi akan menyala. Ketika orang tersebut keluar dari bilik alat ini akan mati secara otomatis.
“Kami menggunakan sensor PIR dengan bantuan sensor yang mampu mendeteksi dari jarak 5 meter ini maka saat orang masuk ke bilik sudah penuh dengan uap,” tegas Tazi.


Uap tersebut merupakan alkohol 60-70 persen yang dicampur dengan air sehingga tetap aman apabila langsung mengenai kulit. Hanya saja lantaran alat ini menggunakan kabut dan mudah terhirup maka untuk masuk ke KAVi perlu menggunakan prosedur sesuai langkah-langkah yang tertera pada dinding bilik.
Aturan yang perlu diperhatikan ketika masuk ke dalam bilik, orang tersebut harus menahan napas sekuatnya. Waktu yang dibutuhkan sebenarnya cukup 10-20 detik saja.
“Harus tahan napas agar kabut tidak masuk ke dalam tenggorokan atau masuk ke dalam paru-paru,” tutup Tazi.


KAVi memiliki ukuran panjang 1 meter, lebar 1 meter dan tinggi 2 meter. Bahan yang digunakan membuat bilik bisa menggunakan kayu, besi atau kombinasi besi dan plastik.
Saat ini UIN Maulana Malik Ibrahim telah memproduksi 20 unit yang dimanfaatkan untuk kampus. Selain itu diberikan kepada masjid-masjid di sekitar kampus dan juga kepolisian.


Lantaran bahan yang digunakan ketersediaannya terbatas, Tazi dan tim memberikan tutorial pembuatan yang kemudian di share di YouTube UIN Maulana Malik Ibrahim. Untuk satu unitnya bisa menelan biaya Rp 1,5 juta dengan tampilan sederhana dan kisaran Rp 5 juta sampai Rp 6 juta apabila ingin yang mewah.
Tim pembuat dan UIN Maulana Malik Ibrahim memproduksi KAVi dengan tujuan sosial.  Agar bisa dimanfaatkan untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19. (lin/van)

Editor : Vandri Battu
Penulis : Linda Elpariyani