Terpesona Dengan Budaya dan Displin Orang Jepang | Malang Post

Selasa, 19 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Sabtu, 28 Sep 2019, dibaca : 435 , aim, amanda

Kesibukan yang cukup padat membutuhkan piknik untuk melepas penat dari rutinitas keseharian. Seperti yang dilakukan Sales Manager Ibis Styles Hotel Malang, Hendri Wijaya. Belum lama ini, ia memilih trip ke Jepang selama 7 hari untuk berlibur.
Selama di Jepang, Hendri mendapat banyak pengalaman. Selain menikmati suasana dan perjalanan yang menyenangkan, ia juga belajar kebiasaan-kebiasaan baik dari warga Jepang.
Kepada Malang Post, ayah satu anak ini menguraikan, ia memilih trip ke Jepang lantaran ingin melihat pemandangan indah, sekaligus ingin tahu lebih banyak tentang segala kecanggihan yang ada di Jepang.
"Memang sengaja pilih Jepang karena negara ini terkenal kecanggihannya. Saya dengar bahwa disana ada minimarket yang menggunakan robot. Selain itu, akses transportasi disana yang super canggih. Karena penasaran, saya langsung kesana," terang dia kepada Malang Post.
Perjalanan menuju Jepang melalui Bandara Juanda, Surabaya dengan menggunakan pesawat direct menuju negeri sakura. Agar lebih hemat, dia menggunakan tiket promo untuk perjalanan itu.
"Kalau tiket, manfaatkan tiket promo yang biasanya digelar di Travel Fair. Kemudian, biar irit lagi, cari hotel budget, satu kamar bisa buat berdua. Atau dormitory room yang bisa muat empat hingga enam orang. Jangan lupa juga, cari hotel yang ada fasilitas breakfast-nya," jelas dia.
Selain urusan tiket dan hotel, lanjut dia, jika pergi ke Jepang harus betul-betul menyiapkan budget untuk makan. Paling tidak, menyiapkan Rp 150 ribu-Rp 200 ribu sekali makan. "Kalau ingin  lebih murah, ada onigiri, harganya Rp 50 ribuan. Disana, cari makanan halal juga tidak susah. Bagaimana cara kita siasati budget saja," urai Hendri.
Selama tujuh hari, Hendri mendapatkan pengalaman yang menyenangkan. Ia berkeliling Jepang menuju berbagai destinasi, mulai keliling Tokyo, menuju Pulau Odaiba, jalan-jalan di Ginza street, Shibuya Crossing Street hingga menikmati pemandangan di danau Kawaguchi.
"Yang paling berkesan, ketika mengunjungi danau Kawaguchi. Disana, kita bisa melihat view Gunung Fuji dengan sangat jelas. Rasanya adem dan pikiran langsung kembali fresh," kata dia.
 Hendri lebih banyak menggunakan moda transportasi kereta api bawah tanah. Di Jepang, arus lalu lintas lebih rapi dan jauh dari kemacetan. "Mobil-mobil semua aman, lalu lintasnya tidak macet. Tapi, kalau masuk di kereta api bawah tanah, pasti full. Semua orang Jepang menggunakan kereta kalau kemana-mana," papar dia.
Meski demikian, warga Jepang tidak berebut untuk menggunakan transportasi tersebut. Mereka memiliki kedisiplinan yang tinggi untuk mengikuti aturan perjalanan. "Ketika di dalam kereta, juga sangat nyaman. Ada fasilitas wifi juga dan aman. Mereka semua tahu aturan ketika berada di dalam kendaraan," ujar dia.
Selain menggunakan kereta, Hendri juga sempat mencoba bus yang ada disana. Setiap trayek yang ada, memiliki kartu akses khusus dengan jangka waktu yang beragam. "Ada yang 24 jam dan 72 jam. Masing-masing bus tarifnya berbeda. Jadi, kalau mau menggunakan bus, harus bener-bener paham trayek dan tujuan kita ingin kemana," papar dia.
Namun, ketika hendak kembali ke Indonesia, Hendri sempat mengalani kendala. Di Jepang sedang diserang angin topan yang menyebabkan seluruh moda transportasi mandeg, baik bus maupun kereta. "Akhirnya, saya memutuskan naik taksi. Perjalanan normal harusnya dua jam, jadi tiga jam, karena banyak yang ditutup. Bayar taksinya juga mahal Rp 5 juta, untung bisa menggunakan debit," papar dia.
Meski demikian, bagi Hendri, perjalanan menuju negeri Sakura merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Suatu hari, ia ingin kembali menjelajah Jepang ke destinasi wisata yang lain. "Ingin kembali lagi ke Jepang. Masih banyak tempat wisata yang belum dikunjungi. Melihat situasinya yang disiplin, membuat pikiran jadi tenang dan bebas stres," tandas dia.(tea/aim)



Loading...