MalangPost - Tetap Buka, Golden Tulip Didatangi Tim Cipkon Covid-19

Senin, 06 Juli 2020

  Mengikuti :


Tetap Buka, Golden Tulip Didatangi Tim Cipkon Covid-19

Senin, 06 Apr 2020, Dibaca : 8403 Kali

BATU - Meski SE Wali Kota Batu tentang penutupan hotel dan vila sudah beredar, masih ada hotel yang buka. Salah satu hotel yang tidak mengindahkan aturan tersebut adalah Golden Tulip Holand Resort Batu. Hotel di kawasan Panderman Hill inipun didatangi tim Cipta Kondisi (Cipkon) dan satgas Covid-19.

 

Fanidia Larasati, Marketing Communication Golden Tulip Holland Resort Batu membenarkan  pihaknya masih beroperasional hingga kemarin. Alasannya pihak hotel bintang lima ini belum mendapat SE resmi dari Pemkot Batu.

"Kami masih buka karena selama ini cuma dapat SE tersebut dari pesan berantai saja by WhatApps. Sehingga kami tetap buka," ujar Fani.

 

Selain itu ia menerangkan, alasan tetap beroperasi karena banyak pertimbangan, yakni mementingkan karyawannya. Mengingat ada banyak karyawan dari luar daerah. Mereka butuh bayar kos dan sudah berkeluarga untuk perekonomian sehari-hari.

"Meski begitu kami juga mematuhi SOP pencegahan Covid-19. Mulai dari pengunaan masker, hand glove,  penyediaan hand sanitiser, tamu dan pegawai harus menerapkan sosial distancing, dan penyemprotan disinfektan setiap hari. Serta selesai transaksi uang atau kartu kredit mematikan pakai hand sanitiser," terangnya.

 

Sementara itu Kepala Disparta Kota Batu, Imam Suryono menyampaikan, pihaknya telah menyampaikan SE Wali Kota tersebut ke seluruh tempat wisata, hotel, serta semua pelaku usaha dan pengusaha di Kota Batu.

"Semua sudah dapat (SE). Namun untuk pastinya kami akan cek dulu, besok. Jika masih buka seharusnya itu ditutup dan yang berwenang adalah Tim Cipkon yang meliputi Satpol, Polisi dan TNI," paparnya.

 

Saat ditanya adakah sanksi terkait pelanggaran tersebut. Imam menegaskan jika hal tersebut bukan lagi ranah Pemda. "Kalau sanksi bukan lagi ranah Pemda. Tapi itu sanksi pidana dan jelas sudah dijelaskan dalam UU," imbuhnya.

 

Tak hanya itu, diungkapkan oleh Ketua DPC PHRI Batu, Sujud Hariadi bahwa pihaknya sudah membantu Pemkot Batu untuk menyebarluaskan SE Walikota Batu no 556 tahun 2020 tentang penutupan usaha Hotel dan sejenis kepada semua anggota PHRI.

Ia menerangkan, kewajiban DPC PHRI Kota Batu adalah menyampaikan SE Walikota Batu tersebut kepada seluruh anggota. "Tapi kalau masih ada yang belum menutup, itu sudah kewenangan pemerintah dan bukan kewenangan PHRI. Karena yang dilawan adalah SE Walikota, bukan PHRI. PHRI hanya menyampaikan SE Walikota," bebernya.

 

Perlu diinformasikan, ancaman pidana bagi orang yang berkerumun mengacu Pasal 14 UU No 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular Ayat 1 berbunyi menghalangi penanggulangan wabah, diancam pidana penjara 1 tahun dan/atau denda Rp 1 juta. Untuk Ayat 2 dijelaskan Karena kealpaannya mengakibatkan terhalangnya pelaksanaan penanggulangan wabah, diancam pidana kurungan 6 bulan dan/atau Rp 5 ribu

Kemudian pasal 93 UU No 6 tahun 2018 tentang Karantinaan Kesehatan menerangkan tidak mematuhi penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan dan/atau menghalang-halangi penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan sehingga menyebabkan kedaruratan kesehatan masyarakat dipidana 1 tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 100 juta.

Serta Pasal Kitab Undang-undang Hukun Pidana (KUHP) Pasal 212 KUHP bagi yang melawan seorang pejabat yang menjalankan tugas yang sah, dipidana paling lama 1 tahun 4 bulan. Untuk Pasal 214 ayat 1 KUHP bagi yang tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut UU, dipidana penjara paling lama 4 bulan 2 minggu.

Serta Pasal 218 KUHP bagi mereka yang datang berkerumun dengan sengaja tidak segera pergi setelah diperintah pergi 3 kali oleh atau atas nama penguasa berwenang akan diancam karena ikut serta dengan pidana penjara 4 bulan 2 minggu.

 

Sementara itu paguyuban Vila Songgoriti memastikan mulai menutup sekitar 325 vila Senin (6/4) hari ini. Hal itu diungkapkan Ketua Paguyuban Vila Songgoriti, Indra Tri Ariyono. Dia  sudah menggelar rakor bersama Pemerintah Kelurahan Songgokerto, anggota paguyuban villa dan paguyuban pramuwisata, RT/RW lingkungan Songgoriti dan petugas keamanan.

"Dari hasil rakor kami akan melakukan penutupuan vila sejak Senin 6 April besok hingga 21 April. Ada beberapa poin yang disepakati bersama," ujar Indra kepada Malang Post.

 

Ia menerangkan beberapa hasil yang disepakati meliputi arus lalu lintas Jalan Klemuk dan pintu keluar Songgoriti menggunakan satu pintu. Artinya keluar masuk melewati pintu masuk Songgoriti.

Untuk penjagaan pintu masuk/keluar adalah linmas dan seluruh masyarakat Songgoriti sesuai jadwal. Pintu masuk/keluar akan kami tutup total jam 24.00-05.00 WIB.

"Masyarakat yang benar-benar tidak ada keperluan mendesak dilarang keluar/masuk jam tersebut. Kemudian tidak diperbolehkan anggota atau bukan anggota paguyuban vila untuk menerima tamu pada tanggal yang sudah di tentukan," tegasnya. (eri/feb)

Editor : Febri Setyawan
Penulis : Kerisdiyanto