Tim Ahli Cagar Budaya Harus Diberi Taring

Jumat, 18 Oktober 2019

Senin, 16 Sep 2019, dibaca : 972 , bagus, sisca

MALANG - Meski Sudah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya, Kawasan Heritage Ijen terancam berubah bentuk. Saat ini jumlah  rumah yang mempertahankan keaslian bentuknya kian berkurang. DPRD Kota Malang menganggap Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) harus diberi taring. Sebab tim tersebut tidak bisa menindak jika ada pelanggaran di lapangan.
Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua DPRD Kota Malang I Made Rian DK. Menurutnya kerja Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) harus terus didukung dan lebih diberi “taring”. Salah satunya memberi kuasa TACB untuk melaksanakan tugas pengawasan lebih mendalam dan tegas.
“Sangat disayangkan memang kalau pengawasannya tidak menyeluruh. Ada rumah yang sudah di rekom tim ahli tetapi malah perubahannya hampir 100 persen dan tim tidak bisa menindak. Ini sebenarnya sangat disayangkan,” tegas Made saat dikonfirmasi Malang Post.
Hal ini perlu dicarikan solusinya. Pasalnya Ijen merupakan ikon Kota Malang. Maka ia, sebagai legislatif, mendorong TACB Kota Malang merumuskan kembali wewenangnya. Jika memang ada aturan yang diperlukan untuk ditambah maka DPRD Kota Malang membuka pintu. Berkaitan dengan aturan penindakan atau pengawasan menyeluruh yang bisa saja belum diatur dalam Perda Cagar Budaya.
“Jika memang dalam Perda belum ada yang mengatur pengawasan dari awal, saat pelaksanaan, hingga hasil akhir ayo kita bahas bareng. Kita siap mendukung dan membahas lagi. Ini untuk wajah ikon kita, jangan sampai Ijen nanti jadi Soekarno-Hatta. Apa bedanya?,” tegas politisi PDI Perjuangan Kota Malang ini.
Kemudian ia menegaskan lagi Pemkot Malang harus mau menunjukkan sikap tegas dan berani mengambil langkah untuk menyelamatkan rumah-rumah kuno bersejarah di Kawasan Heritage Ijen. Khususnya yang terbengkalai tanpa penghuni.
“Bisa dieksekusi lah. Jika memang undang-undang memperbolehkan, rumah yang misal sudah tidak lagi terawat dieksekusi (dibeli,red) dan dijadikan rumah-rumah dinas,” tegas Ketua DPRD Kota Malang I Made Rian DK tadi.
Ia memandang rumah-rumah terbengkalai di kawasan Ijen kebanyakan masih layak untuk dihuni. Hal ini sangat sayang jika dibiarkan rusak begitu saja tanpa ada yang memperdulikan. Maka dari itu pemda dapat memfungsikannya sebagai rumah dinas pejabat Kota Malang.
Politisi PDI Perjuangan ini menganggap letak rumah dinas pejabat Kota Malang saat ini tidaklah strategis dan efisien.
“Sekarang kan malah minggir ada yang di Dieng juga. Kenapa tidak eksekusi saja rumah di Ijen daripada rusak. Kalau memang ada aturan yang membolehkan bisalah ini kita bahas,” tegas Made.
Hal ini selain mengefisienkan kerja pejabat pemda, juga menjadi upaya nyata pemda untuk menjaga dan menyelematkan benda dan bangunan sejarah di Kota Malang. Khususnya kawasan heritage Ijen yang menurut informasi hanya 20 persen dari sekitar 80 unit rumah kunonya masih memiliki bentuk bangunan asli dan utuh.
Dalam laporan utama Malang Post terbit Minggu (16/9) tak sedikit rumah di Kawasan Ijen yang sudah berubah bentuk. Bahkan ada direnovasi hampir 90 persen. Sehingga bentuk asli sudah tidak lagi terlihat. Yang paling terlihat saat ini adalah di Rumah No 4 Ijen Boulevard. Rumah kuno bergaya Eropa Klasik ini sudah tidak lagi terlihat bentuk aslinya. Dari luar saja terlihat kerangka atap berubah hampir semuanya dengan kerangka besi.
Selain itu ada beberapa rumah di kawasan elit itu, yang justru terlihat tidak terawat. Beberapa rumah seperti Ijen No 45 dan 19 terlihat memprihatinkan. Rumah Ijen No 45 memang sempat diajukan pengelolanya untuk direnovasi di awal tahun ini, akan tetapi hingga saat ini rekomendasi itu tidak berwujud.
Ada juga rumah yang ngemplang pajak. Rumah Jalan Ijen Boulevard yang ngemplang pajak ini, tepatnya berada di No. 8. Pada pagarnya tertempel stiker bertuliskan “Tanah/Bangunan ini dalam pengawasan tim pemeriksa pajak karena menunggak PBB”.  Meski begitu saat dilihat di lapangan rumah ini sudah kosong dan tak berpenghuni.
Tak hanya itu, kawasan Ijen menjadi ikon bersejarah di Kota Malang sehingga mendongkrak harga jualnya. Rumah-rumah bergaya Hindia Belanda ini bahkan memiliki harga jual fantastis. Seperti dua rumah di kawasan jalan besar Ijen dijual dengan penawaran Rp 50 miliar.
Dua rumah tersebut yakni di Ijen Boulevard no.10 dijual dengan harga Rp 36,5 miliar. Harga tersebut sudah lengkap dengan perabotan yang masih berfungsi dengan baik. Selain itu bangunan Belanda ini memiliki struktur yang kuat dibandingkan dengan bangunan sekarang. (ica/ary)



Loading...