MALANG POST - WABAH RASA LAPAR

Senin, 25 Mei 2020

  Mengikuti :


WABAH RASA LAPAR

Sabtu, 07 Mar 2020, Dibaca : 3732 Kali

Kuceritakan padamu, ada sebuah wabah yang menyerang negeriku. Sebuah kelainan yang membuatku harus berkirim surat ke sini, melakukan perjalanan jauh dari timur, memaksa masuk ke ruangan, agar kita semua sadar bahwa wabah ini sebenarnya sudah lama menyerang Bumi yang kita tinggali.


“Mohon tunggu sebentar saudara, Bapak Pimpinan belum bergabung di sini.”
“Tidak apa-apa, menurutku tidak salah juga jika saudara yang datang dari jauh ini memulai mengutarakan maksud. Tentu sambil menunggu Bapak.” orang-orang di dalam ruangan mengangguk sepakat.

Baiklah, kumulai.


Aku adalah seorang wartawan, beberapa tahun ini rubrik kesehatan menjadi tugas utamaku, di samping liputan lainnya. Lahir dan besar di kota P sama sekali bukanlah kebanggan untukku. Kota P adalah kota besar yang terbilang baru saja menjadi pusat pemerintahan. Lalu, banjirnya investor dari negara kalian yang masuk merupakan surga bagi mereka kaum elite, namun menjadi meriam dahsyat yang menghantam masyarakat bawah. Yang kemudian terpinggirkan, sebagian ada yang berpindah ke daerah pantai, namun lebih banyak yang membuka lahan hutan. Tentu keberanian mereka sama-sama diliputi rasa cemas, kalau-kalau nantinya tanah mereka bakal digusur kembali. Namun misiku datang ke sini, bukan itu yang ingin kusampaikan. Ini jauh lebih genting.


Pemindahan pusat pemerintahan menuju kota P pernah menjadi berita panas yang sempat menelan banyak kontroversi. Tentu awalnya dinilai ini merupakan lahan bisnis yang menggiurkan bagi negara. Aku dan beberapa teman-teman wartawan turut andil menjadi minyak yang semakin membesarkan bara api. Namun beberapa tahun belakangan—setelah aku berpindah dari rubrik politik ke kesehatan, aku sadar, pemindahan pusat pemerintahan disebabkan oleh satu masalah besar yang memang sengaja ditutupi oleh pemerintah saat hingga saat ini. Sebuah wabah berbahaya yang ternyata telah menjamur di Ibu Kota lama, kala itu.


Awalnya kami—aku dan tim riset kesehatan—tak percaya dengan gosip-gosip yang beredar di kota J. Untuk memastikan hal itu kami datang ke sebuah Rumah Sakit Jiwa di Kota J, sebuah tempat yang pernah akan dileyapkan lantaran memilki bukti otentik wabah ini. Nampaknya pemerintah juga hendak menghilangkan jejak. Namun entah apa yang terjadi, rencana itu tidak berhasil.


Pasien pertama. Kami melihatnya dengan bola mata melotot seakan tak percaya. Seorang lelaki tua di sebuah ruangan 4 x 4 meter yang duduk dengan kaki dirantai, di depannya berceceran banyak kotoran makanan. Ruangan itu sengaja ditembok dengan kaca tebal, tak ada lubang angin, namun dengan AC yang selalu menyala. Jangan kau tanyakan cahaya matahari, tentu tak akan bisa masuk, lantaran kami berada di ruangan bawah tanah yang dibangun secara khusus. Kulihat matanya kemerahan, di pelipis hingga pipinya bercucuran keringat dingin. Mulutnya tak berhenti mengunyah makanan. Kau tahu, ada satu hal yang membuat kami iba, meskipun di dalam mulutnya masih bergumul makanan, kedua tangannya justru tak berhenti memasukkan makanan lagi-lagi-dan lagi ke mulutnya itu. Sesekali menenggak air, kemudian terkadang di waktu-waktu tertentu justru ia makan sambil bercucuran air mata. Seolah-olah ia berkata pada kami, tolong hentikan, aku sudah tak ingin makan lagi.


Kemudian pasien lainnya, yang ruangannya tepat berada di sebelah tak jauh berbeda. Ia makan dengan keadaan yang sama, namun yang membedakan, ia tak henti-hentinya berbicara sambil makan. Sesekali tersedak, kemudian diam sebentar, lalu menangis meraung-raung. Yang lebih aneh tentu pasien ketiga, di ruangannya ada banyak sekali baju yang berceceran. Kemudian ada sebuah mimbar yang sengaja difasilitasi untuknya. Ia berbicara, eh maksudku berpidato lantang di mimbar itu. Setiap lima hingga sepuluh menit, atau setelah selesai berpidato ia akan turun mimbar. Kemudian melepas baju dengan tergesa-gesa, menggantinya dengan yang baru, kemudian berpidato lagi seolah-olah ada banyak sekali orang yang mendengarnya.


Awalnya kami tak paham, kelainan jiwa macam apa mereka ini. Kemudian ada sekitar seminggu kami berdiskusi, melihat latar belakang mereka sambil menilik pergolakan politik yang kami perkirakan saat itu, kami menyimpulkan, mereka terkena sebuah wabah yang telah menjamur sejak dulu namun jarang dikenali: wabah rasa lapar.


Lima orang dalam ruangan itu mengernyitkan dahi. Ada sebuah tanda tanya besar yang menggantung di masing-masing kepala.
Entah tepat atau tidak, kami melihat wabah ini memiliki kelainan selau merasa lapar dalam segala hal. Ada yang lapar makanan, ia akan makan hingga kesetanan. Yang lapar akan pengakuan, ia bisa berpidato atau berbicara ke sana-sini seolah ada yang medengarkan. Dan masih banyak lagi. Dan inilah yang akan kami laporkan, lantaran wabah ini kembali merebak di Kota P. Kami sadar betul, ini juga dialami oleh kepala negara kami. Hanya barangkali belum terlalu akut.
“Coba bisa anda jelaskan lebih rinci, saudara?” ucap seorang lelaki tambun berdasi.


Baiklah, sekali lagi, ini adalah wabah rasa lapar. Tidak hanya dalam makanan, namun dalam berbagai hal. kemarin kami melihat foto presiden sedang berdiri di tengah-tengah asap di pulau R, posenya sangat gagah: berjalan menghadap ke depan kelilingi asap. Melihatnya, mengingatkanku pada sampul film-film Hollywood. Itu kemarin, beberapa hari belakangan tak jauh berbeda, ia berpose sedang naik motor gunung, ketika katanya melakukan peninjauan ke dearah pedalaman. Sudah seringkali seperti itu. Dan yang membuat kami terkejut, tentu saja foto yang dirilis oleh salah satu surat kabar besar yang bergambar….


“Tunggu saudara, bisa anda ulangi yang anda katakan tadi? Dari awal tentunya.” seorang laki-laki tambun dengan langkah yang sangat kesulitan—akibat terlalu gemuk, masuk ruangan. Kemudian duduk di bagian tengah yang tadi sengaja dikosongkan.


“Mohon maaf, lebih baik saya undur diri karena….” pamitku kemudian.


Belum genap aku berbicara, beragam wajah ganjil telah mengepungku dengan tanda tanya besar. Tentu saja lekaki tambun yang baru saja masuk ruangan itu tak kalah ganjil wajahnya. Sambil menata keberanian, kulihat kembali wajahnya, dari atas hingga ke bawah. Ada sisa makanan di sebelah pipinya. Sambil mengunyah makanan yang berserakan sampai ke baju dinasnya, ia bertanya Lho kenapa pulang? Kemudian tangan kanannya memegang donat besar yang sudah termakan separuh, kemudian tangan kirinya menggenggam minuman kemasan. Dengan napas tersengal, dan mengumpulkan sisa tenaga yang ada, aku akan melarikan diri saja. Tidak salah lagi, dia juga pengidap wabah rasa lapar, batinku kemudian.
***
Ponorogo, September 2019

Editor : Redaksi
Penulis : Cerpen