MalangPost - Yusuf Rianto, Arsitek Desa Wisata Kampung LA

Kamis, 06 Agustus 2020

  Mengikuti :

Yusuf Rianto, Arsitek Desa Wisata Kampung LA

Kamis, 19 Mar 2020, Dibaca : 4707 Kali

BERLATAR belakang petani, Yusuf Rianto sukses menyulap kampungnya menjadi desa wisata. Yakni Kampung LA atau Lemah Abang di Dusun Pager Gunung, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Desa wisata yang dibangun secara mandiri ini berkonsep ramah lingkungan sekaligus ramah dompet wisatawan.

 

KAMPUNG LA merupakan salah satu desa wisata andalan Kota Batu. Wisata di tempat ini bisa dilakukan kapan pun.  Ketika malam tiba bertabur kerlap-kerlip lampu. Asalnya dari puluhan rumah yang memang sengaja disuguhkan bagi wisatawan.
Siang hari, suasannya berbeda lagi. Pengunjung diajak berwisata ke kolam renang Padusan Kedungsari dengan pemandangan pegunungan nan hijau. Masih di lokasi yang sama, menjelang senja wisatawan diajak menikmati dinginnya Bumiaji di LA Cafe.


Ya, Kampung LA merupakan potret visi dan misi Kota Batu, ‘Desa Berdaya, Kota Berjaya’. Ini merupakan desa wisata mandiri yang digarap oleh  Yakni Yusuf Rianto. Pria 35 tahun asli Kampung LA Dusun Pager Gunung, Desa Gunungsari, Bumiaji ini memang memilih untuk mengembangkan desanya. Tujuannya agar bisa membuat masyarakat berdaya. Terutama di bidang ekonomi.
"Saya mulai membangun tempat wisata desa ini sejak tahun 2018 lalu. Dimulai dari Kampung LA yang memiliki konsep seluruh kampung dipenuhi dengan lampu yang gemerlap. Sehingga menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung" jelas Yusuf kepada Malang Post.


Seiring berjalannya waktu, ia berpikir untuk terus mengembangkan potensi yang ada di lahan miliknya. Sehingga pada tahun 2019. Yusuf membangun kolam renang bagi anak-anak yang diberi Padusan Kedungsari.
Dari situ lanjut bapak satu anak ini, dirinya mulai merasakan geliat atau kunjungan wisatawan domestik. Khususnya warga Kota Batu. Artinya dengan adanya kunjungan wisatawan, maka perekonomian mulai bergerak.
"Dari kolam renang itu saya ajak warga berjualan. Mulai dari menampung produk UMKM sampai memberdayakan beberapa warga untuk bekerja di tempat saya," beber pria kelahiran 25 Februari 1985 ini.


Di Padusan Kedungsari, rata-rata kunjungan wisatawan mencapai 50-100 orang per hari. Saat hari libur, jumlah kunjungannya pun bertambah. Banyaknya kunjungan wisatawan itu dikarenakan beberapa hal. Salah satunya biaya masuk yang murah. Hanya Rp 10 ribu per orang untuk menggantikan biaya operasional, gaji pegawai, dan perawatan tempat wisata.
"Ya bisa dibilang untungnya kecil. Tapi itu bukan masalah bagi saya. Karena yang utama bisa membangun desa, perekonomian, dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat," beber pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani dan supplier hasil pertanian ini.


Setelah dua tahun berjalan, pada tahun 2020 ini ia mulai membuka LA Cafe. Tak sembarang membangun. Konsep ramah lingkungan diusungnya. Material bangunan terdiri dari bambu.  
Karena itulah Kampung Lemah Abang menjadi tujuan wisata ramah lingkungan dan ramah dompet. Ke depannya ia akan membuat paket wisata dari potensi yang ada.
"Saya harap bisa berkolaborasi dengan Bumdes. Karena ada banyak potensi wisata yang dikembangkan. Di Gunungsari misalnya, ada petik mawar, kemudian ada perah susu, dan gua pinus. Ini jika dijadikan paket wisata dan terus dipromosikan  pemdes maupun pemkot bisa dipastikan menjadi contoh bagi desa-desa lainnya untuk bisa mandiri," urainya.


Sukses menyulap sebuah kawasan wisata, Yusuf enggan menyebutkan berapa besar anggaran yang dikeluarkannya. Itu karena ia ingin membuktikan bahwa desa wisata juga bisa digarap secara mandiri.
Kini Yusuf memiliki 15 karyawan yang membantunya mengelola tempat tersebut. Semua karyawan  itu warga Desa Gunungsari. Rata-rata masih muda.


Dengan adanya kegiatan pariwisata, setidaknya Yusuf telah berkontribusi untuk perkembangan  Desa Gunungsari. Hal yang mungkin dilakukan oleh satu dari ratusan orang yang ada di Gunungsari.
"Bagi saya, apa yang telah saya lakukan untuk menyadarkan masyarakat mampu memanfaatkan potensi wisata yang ada di sekitar. Serta pentingnya mengembangkan potensi daerah dan meningkatkan sumber daya manusia," ucapnya.


Meski dibilang baru, nyatanya kampung ini mampu menarik perhatian Pemkot Batu. Salah satu contohnya, Wali Kota Batu Dra Dewanti Rumpoko, M.Si yang meresmikan saat Kampung LA dibuka. Kampung ini juga didukung penuh Dinas Pariwisata Kota Batu untuk bisa dikembangkan lebih kreatif dan inovatif lagi. Apalagi Yusuf telah membantu mensejahterahkan orang-orang di Kampung LA dengan menciptakan lapangan pekerjaan sebagai pegawai waterpark, cafe, dan juga lahan untuk warga berjualan di area Waterpark. (eri/van)

Editor : Vandri Battu
Penulis : Kerisdiyanto