Lagi, Satu Terduga Teroris Ditembak Mati


SURABAYA - Satu terduga teroris tewas pasca baku tembak dengan Tim Densus 88 Antiteror di Jalan Sikatan Gang 4, Manukan Wetan, Surabaya, kemarin sore. Aksi ini terjadi saat Tim Densus 88 melakukan penggerebekan di rumah terduga teroris Anton Febrianto yang telah tewas di Rusunawa Wonocolo. 
Terduga Anton sendiri telah tewas dalam ledakan bom di Rusunawa Wonocolo, Minggu malam (13/5). Dalam penggerebekan, rupanya ada perlawanan dari rumah di Jalan Sikatan, Manukan Wetan tersebut hingga terjadi baku tembak dengan pihak Densus 88. 
Namun, sekitar setengah jam kemudian, satu keluarga terduga teroris dibawa oleh Tim Densus 88, termasuk dua anak kecil.  Selain itu, ada satu kantong jenazah juga yang dibawa menuju RS Bhayangkara.
"Dia adik kandung dari yang di Rusunawa Wonocolo Sidoarjo," kata Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini kepada wartawan usai meninjau rumah terduga teroris yang tewas ditembak itu.
Tri Rismaharini mengatakan ia sempat melihat pemeriksaan awal yang dilakukan seorang polisi perempuan terhadap isteri terduga teroris yang tewas.
"Dia mempelajari semua itu dari internet," kata Tri, namun kemudian meminta wartawan untuk bertanya lebih jauh soal hal ini kepada polisi.
Sementara Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Frans Barung Mangera Polda Jatim  kepada Malang Post menegaskan bahwa penindakan di Manukan hasil pengembangan.  Petugas melakukan tindakan tegas, dengan melakukan pelumpuhan karena terduga teroris melawan. Apalagi kawasan itu di pemukiman, yang bisa membahayakan warga setempat.
Frans Barung mengatakan bahwa terduga teroris itu tewas di dalam rumahnya di sebuah gang, dalam baku tembak sekitar pukul 17:15, Selasa (15/5). Namun empat anggota keluarganya, selamat. Terdiri dari istrinya dan tiga orang anaknya, sudah diamankan semua.
Sejumlah sumber menyebut, tiga anak itu tidak bersama kedua orang itu ketika terjadi baku tembak, karena sudah dititipkan sebelumnya kepada tetangga mereka tak jauh dari rumah itu.
Disebutkan, beberapa jam sebelumnya ketiga anak itu pergi mengaji, namun pulang ke rumah tetangga yang dititipi. Untung, penggrebekan terjadi sebelum ketiga anak itu diantar pulang.
Masih belum jelas, bagaimana keadaan ibu mereka. Namun Densus bersiap meledakkan benda-benda di rumah itu yang diduga sebagai bahan peledak. Warga yang sejak Magrib brgerombol, diminta untuk menjauh
selain di Malang sejak Senin (14/5) Densus 88  menggelar operasi penangkapan terduga teroris. Senin Siang, Densus menggiring dua orang yang diduga berkaitan dengan serangan teror di Surabaya. Yakni Boy Arviansyah, 29 dan Deniar Faurizal, 28. Keduanya merupakan kakak-adik.
Mereka ditangkap dirumahnya di Jalan Lebak Rejo Kelurahan Dukuh Setro, Kecamatan Tambaksari. Tanpa perlawanan keduanya digiring untuk dilakukan pemeriksaan terkait dugaan keterlibatan mereka dengan serangan teror.     Namun kemarin (15/5) Deniar dipulangkan ke rumah. Karena dia dinyatakan tidak terlibat dengan jaringan teroris. Sehari-hari Deniar hanya membantu orang tuanya menjaga toko roti milik keluarga.
Menurut salah satu tetangganya, sebut saja Fakhrudin, Deniar diantar pulang oleh 5 orang berseragam preman. “Iya tadi pagi diantar sama lima orang, tapi saya tidak tahu siapa mereka. sepertiny Polisi,” ujarnya. Sementara itu Boy masih ditahan kepolisian. Dari informasi yang dihimpun, alamat asli Boy ada di Peterongan Jombang. Namun dia berdomisili di Surabaya, tepatnya bersama orang tuanya.
Dia baru saja pulang pada 13 Mei lalu, setelah bekerja di luar Surabaya. Diketahui, Boy pernah mengunjungi Lapas Mojokerto tahun lalu. Dia membesuk salah satu napiter yang ditahan di lapas tersebut.

Berita Lainnya :