Bangun Paving, Ransang Komunitas Lakukan Reboisasi

 
BATU - MEMBERIKAN kemudahan pecinta lingkungan menghijaukan kawasan konservasi Bukit Permata, Giant, Hypermarket Hero Grup, membangun tangga paving sepanjang 500 meter di Arboretum Desa Sumberbrantas Kota Batu, Sabtu (30/9) kemarin. Harapannya, pecinta lingkungan semakin mudah melakukan penghijauan di bukit seluas 7,3 hektar. 
Bukit ini mampu ditanami 15 ribu bibit pohon. Saat ini baru tertanam 5000 pohon saja. Dengan begitu, pecinta lingkungan atau siapa masih harus harus melakukan penanaman sekitar 10 ribu bibit lagi dengan lokasi lebih sulit karena berada di atas bukit. 
Pembangunan tangga paving ini diharapkan, intensitas penghijauan yang dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat semakin cepat. Dengan begitu penghijauan bukit Permata juga semakin cepat.
Hadir dalam peletakan batu pertama pembangunan tangga paving ini Wahyu Tri Kusuma, Legal Director PT Hero Supermarket, Tony Mampuk, GM of Corporate Afair PT Hero Grup Supermarket, Kapolres Batu, AKBP Budi Hermanto, Plt Camat Bumiaji, Aditya P, Herman Aga dari Komunitas Air Bicara, Bambang Parianom dari Yayasan Pusaka serta berbagai komunitas pecinta lingkungan.
"Kita bertanya-tanya, mengapa mata air atau sumber Brantas lahir di sini. Itu karena dekat sini ada jurang kuali, sebuah lembah yang dikelilingi beberapa gunung. Daerah ini adalah miniatur, foto kopinya Kota Batu yang dikelilingi berbagai lembah," ujar Bambang Parianom, salah satu pecinta lingkungan.
Debit air sumber brantas sangat kecil hanya 9,6 liter perdetik, jauh dari debit air sumber Gemulo yang bisa mencapai 100 liter perdetik. Namun Sumber Brantas ini merupakan titik nol dari 111 sumber air di Kota Batu. 
Dibandingkan daerah lain di Jatim, Kota Batu memiliki tiga keunggulan alami, yakni gunung, hutan dan Air. "Semua mendapatkan amanah agar menjaga gunung, hutan dan air.  Kalau Kota Batu mau selamat, gunung hutan harus dilestarikan," tegas Bambang Parianom.
Tahun 2004 terjadi banjir bandang yang menghancurkan Sumberbrantas padahal sebelumnya tidak ada banjir. Tahun 2010, 2014 dan 2016 giliran Pujon terserang banjir bandang. 
Belajar dari banjir bandang 2004, Jasa Tirta membebaskan 7,3 hektar Bukit Permata. Giant melalui Program Giras (Giant Peduli Brantas) bekerjasama dengan pecinta lingkungan membangun paving sepanjang 500 meter di Bukit Permata.
"Mengapa dinamakan Bukit Permata, karena bukit perlindungan mata air. Bukit ini mampu menampung 15 ribu bibit pohon, namun sampai saat ini baru ditanam 5000 pohon," ujar Bambang. 
Wahyu Tri Kusuma mengatakan, Giras merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tiga bulan sejak 2016.  Gira akan berakhir tahun depan.
"Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen kami terhadap pelestarian lingkungan dan sumbangsih melestarikan sumber air," terang Wahyu.
Tidak hanya membangun tangga paving, ditempat ini juga akan dibangun empat gazebo dan pos pemantau untuk konservasi.
"Kami konsentrasi pada hutan, pembangunan fasum, pelatihan pelestarian alam dan pemberdayaan masyarakat hutan," terangnya. 
Di tempat terpisah, Tony Tampuk menjelaskan, kegiatan itu merupakan bagian Corporate Social Responbility (CSR) Giant.
"Salah satu kegiatannya, kami namakan Giras, Giant Peduli Brantas. Kegiatan ini sudah berjalan tahun lalu hingga tahun depan. Salah satu fokusnya adalah hulu sungai Brantas," ujar Tony.
Peduli Brantas ini harus dilakukan bersama-sama dengan mengajak berbagai komunitas. Seperti yang mereka lakukan bersama-sama gerakan Air Bicara yang dilaksanakan di Kota Batu. Sebelumnya di Kota Malang, kegiatan dilakukan di Kampung Warna Warni Jodipan. Sasaran kegiatan adalah hulu, tengah perkotaan dan kawasan hilir.
"Harapan teman-teman komunitas, kegiatan ini nanti akan terus berkembang," ujar Toni. (dan/feb)