Disparta Dorong Satu Desa Satu Sanggar

Kesenian Glendo Barong dan tari Kuda Lumping menjadi salah satu potensi kesenian khas Kota Batu yang terus dikembangkan. 
 
 
BATU - Perkembangan pariwisata Kota Batu yang sangat pesat tak lepas dari budaya daerah yang menjadi ciri khas. Karena itulah, Dinas Pariwisata Kota Batu tahun 2019 ini mewajibkan dan mendorong satu sanggar budaya dalam satu kecamatan.
Hal itu dikatakan oleh Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Imam Suryono bahwa program satu sanggar budaya dalam satu kecamatan bertujuan agar masyarakat Kota Batu bisa tampil di setiap agenda yang digelar di Kota Batu. Baik dalam bentuk kesenian tari ataupun atraksi lainnya yang khas Kota Batu. 
"Dengan adanya sanggar ini masyarakat Kota Batu bisa melestarikan budayanya serta untuk menampung bibit muda sebagai pelestari budaya," ujar Imam kepada Malang Post, Kamis (28/3) kemarin. 
Ia menjelaskan, dengan adanya sanggar budaya di setiap kecamatan. Nantinya masyarakat akan dilatih berkesenian. Dengan begitu, setiap kecamatan akan memiliki kelompok dan terdata oleh Dinas Pariwisata Batu. 
Hingga saat ini, diketahui masih ada beberapa sanggar di Kota Batu. Yakni di Desa Torongrejo dan di Desa Beji. Yang mana ia berharap tahun ini di setiap desa memiliki sanggar dengan mengajarkan tarian, atraksi, atau kolosal. "Setelah program satu sanggar satu kecamatan terlaksana tahun ini, tahun 2020 kami akan menargetkan satu desa satu sanggar," tegasnya. 
Imam menambahkan, Kota Batu saat ini terkenal dengan budaya atau kesenian Glendo Barong. Di mana kesenian tersebut menjadi pembuka setiap kegiatan yang digelar tingkat Pemerintah Desa hingga Pemerintah Kota. Selain itu, Kota Batu juga memiliki kesenian khas seperti Bantengan, Tarian Sanduk, dan Reog.  
Dengan adanya sanggar tersebut, Pemkot Batu ingin budaya yang belum maksimal dapat dieksplore dengan baik. Apalagi Kota Batu masih belum memiliki Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah atau Ripparda. (eri/lim)

Berita Terkait

Berita Lainnya :