Ngudek Jenang Suro di Songgoriti

 
BATU – Luar biasa ! Masyarakat Dusun Singgoriti Kelurahan Songgokerto Kota Batu memiliki budaya turun temurun yang masih dipertahankan hingga saat ini. Tradisi tersebut adalah Ngudek Jenang Suro yang diperingati saat tahun baru Jawa yang jatuh pada Kamis (12/9) di Candi Songgoriti.  Tradisi yang dilaksanakan setiap malam Suro itu tidak pernah sepi dalam pelaksanaannya. Ratusan masyarakat dari berbagai daerah, anak-anak hingga sesepuh Dusun Songgoriti berkumpul menjadi satu. Tak hanya warga, para pejabat termasuk istri Wakil Walikota Batu, Hj Wibi Punjul Santoso juga ikut mengaduk jenang bersama warga.
Lebih dari sekadar Ngudek Jenang. Tradisi yang sudah ada sejak kerajaan Kahuripan dengan rajanya Mpu Sindok tersebut memiliki arti yang sangat sakral. Yakni kebersamaan yang bertujuan untuk mempersatukan raja dan rakyat kecil. Artinya ketika semua berkumpul menjadi satu (Ngudek Jenang.red) melepas sekat perbedaan latar belakang. Hal itu dikatakan oleh Wiji Mulyo yang merupakan sesepuh atau pemangku adat Dusun Songgoriti. 
"Tradisi ini merupakan tradisi rutin setiap tahun dan dilakukan setiap malam Suro penanggalan Jawa. Selain sebagai uri-uri budaya leluhur, melalui kebersamaan ini kami ingin mengungkapkan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa dari nikmat yang telah diberikan," ujar laki-laki yang dikenal dengan panggilan Mbah Sarban ini.
Ia menjelaskan, melalui budaya Ngudek Jenang juga bisa mempersatukan perbedaan seperti agama hingga suku. Sehingga melalui tradisi ini pula tercipta kerukunan. Itu tampak dari pelaksanaan yang juga diiakui oleh pejabat Pemkot Batu yang membaur dengan masyarakat. Mereka tak hanya saling berbincang, namun secara bergantian ikut mengaduk jenang di wajan berdiameter 1 meter hingga tengah malam. 
Tak hanya Ngudek Jenang, anak-anak yang datang mengenakan pakaian daerah seperti kebaya juga diajari Tembang Mocopat. Tujuannya juga sama, agar para generasi muda tidak lupa dengan tradisi budaya nenek moyang yang sudah ada sejak ratusan tahun silam.
Selain itu, pada hari Kamis (13/9) juga digelar selamatan masal, kirab kesenian bantengan dan ditutup dengan pengajian pada malam harinya. Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Batu Eko Suhartono yang hadir dalam kegiatan tersebut mengatakan, bahwa tradisi menjadi simbol, harapan, persatuan dan semangat bagi warga.
"Kami berharap tradisi Ngudek Jenang ini menjadi pemersatu warga. Lebih dari itu, melalui tradisi yang memiliki nilai luhur tinggi juga menjadi pondasi dan kekayaan yang harus tetap dijaga kelestariannya," tandasnya. (eri/lim)

Berita Terkait

Berita Lainnya :