Pemkot Dorong Pengusaha Karyakan ABK


BATU - Memperingati Hari Disabilitas 2018, Pemkot Batu menggelar gebyar kreatifitas dengan melibatkan 170 Anak Berkebutuhan khusus (ABK) dan 120 Kepala SD, SMP, dan SMA/SMK di Gedung Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani Batu, Rabu (5/12). Tujuannya, ada peningkatan dan pemahaman budaya inklusi bagi stake holder, termasuk pengusaha mengaryakan ABK .
Melalui gebyar kreatifitas bersama ABK dan Talk show dengan tema Kelas Berkualitas Untuk Semua, berbagai kegiatan ditampilkan dalam acara tersebut, mulai dari pertunjukkan seni tari, pembacaan puisi, pantomim, bercerita hingga menyanyi. Pertunjukan tersebut dibawakan ABK dengan sangat menarik.
Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko yang membuka acara ikut bercengkrama dengan ABK. Bahkan Dewanti juga mengajak ABK berkomunikasi, bernyanyi bersama, dan memberi pertanyaan untuk kemudian peserta diberi hadiah jika bisa menjawab. Suasana riang itu membuat peserta dan tamu merasa senang.
Selain menggelar gebyar kreatifitas, Dewanti mengatakan kegiatan ini harus digelar setiap tahun. "Pemkot juga memberikan perhatian dengan memberikan fasilitas penunjang untuk ABK di sekolah. Sehingga semua ABK di Kota Batu memiliki hak sama mendapat pendidikan," ujar Dewanti kepada Malang Post.
Orang nomor satu lingkungan Pemkot Kota Batu ini menjelaskan, selain memberikan fasilitas sekolah, pihaknya juga memberikan BPJS Kesehatan ABK yang kurang mampu. "Serta kami minta ke Dindik untuk mendata kekurangan guru pendamping. Agar SDM guru pendamping ABK tercukupi," imbuhnya.
Bahkan, Pemkot Batu juga mengimbau kepada pengusaha di Kota Batu untuk mengaryakan ABK sebesar satu persen. Melalui gebyar kreatifitas juga diharapkan Pemkot Batu ada kebersamaan bersama orang tua .
Hal sama ditegaskan Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Eny Rachyuningsih. Dia menjelaskan, anak-anak berkubutuhan khusus tetap punya hak untuk pendidikan dan Dinas Pendidikan sudah menetapkan 18 SD sebagai sekolah inklusi.
"Bukan berarti sekolah lain tidak mau menerima ABK. Namun kami berharap di luar sekolah penyelenggara inklusi harus mau menerima ABK. Kami juga sedang siapkan regulasinya, kelembagaan dan SDM," bebernya.
Eny menekankan hari disabilitas bisa bisa dilihat seluruh masyarakat. Sehingga semua elemen paham terkait kebijakan dan budaya inklusi. "Untuk mendukung semua itu, tahun 2019 Dindik fokus terhadap kegiatan inklusi dengan peningkatan SDM guru berkebutuhan khusus dengan pelatihan. Serta kami juga meminta bantuan kepada Fakultas Pendidikan UM untuk mengalokasikan 15 guru pendamping ABK. (eri/feb)

Berita Terkait

Berita Lainnya :