Tahun ini Garap Tiga Desa Wisata


BATU - Dinas Pariwisata (Disparta) menargetkan pengembangan tiga desa wisata tahun ini. Tiga wisata desa ini adalah Brau Gunungsari, Tulungrejo dan Pandanrejo. Tiga desa wisata ini semuanya berada di sektor utara wilayah Kecamatan Bumiaji.
Plt. Kepala Disparta Kota Batu, Imam Suryono mengatakan pihaknya konsentrasi mengembangkan tiga desa wisata terintegrasi. Wisatawan yang datang ke desa wisata bisa mengekpslore semua potensi.
"Kami ingin tiga desa itu menjadi desa wisata terintegrasi. Misalnya Desa Tulungrejo memiliki banyak potensi dan menjadi satu paket. Wisata Coban Talun dan wisata religi di Pura Giri Arjuna dan lainnya bisa menjadi satu paket sehingga wisatawan yang datang ke sana akan menikmati semuanya," bebernya.
Desa Tulungrejo, kata dia, sudah menyiapkan sembilan hektar tanah khas desa (TKD) untuk resat area, pengolahan apel, serta edukasi pembuatan produk berbahan dasar apel. Desa Tulungrejo menjadi sentra wisata petik apel.
Untuk Gunungsari, mantan Kepala Satpol PP ini menguraikan dibangun peternakan dan pengolahan susu terpadu. Lokasi ini berada di Dusun Brau dengan 90 persen k keluarga memiliki sapi perah.
Dusun Brau merupakan salah satu penghasil susu sapi dan produk pertanian. Pemkot menyiapkan Dusun Brau sebagai desa wisata tematik untuk perah susu dan pertanian.
"Konsepnya sesuai potensi. Kami tinggal mengembangkan apa yang sudah ada. Untuk peternak sapi perah, mereka tidak hanya penghasil susu. Tapi susu bisa diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti susu kemasan, yogurt, hingga keju," bebernya.
Selain itu, lanjut dia, Brau juga menjadi salah satu akses alternatif ke wisata paralayang. Sedangkan Gunungsari tetap menjadi desa yang unggul dalam pertanian. "Ini akan sengat mendukung wisata terintegrasi, jadi wisatawan bisa menikmati edukasi perah susu, pertanian, hingga wisata paralayang," imbuhnya.
Desa Pandanrejo, ungkap Imam, baru saja diresmikan sebagai wisata petik strawberry yang dikelola desa. Wisata penunjang, di desa itu ada omah budaya Slamet hingga sport tourism seperti rafting.
"Tahap awal, kami buat kajian potensi dan keinginan desa. Kami presentasikan hasil kajian ke desa, kemudian desa tinggal memberikan masukan dan mulai menjalankan," pungkasnya. (eri/feb)

Berita Terkait

Berita Lainnya :