Warga Batu Jalani Tradisi Cuci Dandang


BATU - Menyambut datangnya puasa Bulan Ramadan 1439 H 2018 warga Dusun Macari, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu menggelar tradisisi Megengan. Kegiatan berlangsung selama tiga hari, Jumat 11 -  Minggu 1 3 Mei 2018. Berbagai ritual dilakukan warga, seperti Cuci Dandang, slametan sumber Belik Tanjung, doa bersama, tanam pohon hingga Gugur Gunung di Makam Kiai Zakaria turut menyemarakkan tradisi Magengan.
Tradisi yang baru kali pertama dilakukan oleh warga Ngaglik ini, selain untuk menyambut bulan penuh berkah juga wujud dari uri-uri budaya yang sangat erat kaitannya dengan sejarah dan tradisi leluhur mereka. Sehingga dalam pelaksanaanya, ratusan warga ikut menyemarakkan dan berpartisipasi dalam pelaksanaannya.
Salah satu tradisi yang telah lama tersimpan, yaitu Cuci Dandang menjadi salah satu yang ditunggu masyarakat. Diawali dengan berjalan sekitar 1 Km dari Jalan Macari, sekitar 20 orang terdiri dari beberapa pasangan suami istri dan anak-anak diarak menuju Kali Kebo untuk melakukan ritus Cuci Dandang.
Dari 20 orang tersebut, mereka turun ke Sungai Kebo untuk mencuci dandang yang disimbolkan sebagai kehidupan rumah tangga dalam sehari-hari. Sembari mencuci dandang,  anak-anak yang ikut turun ke sungai lengkap dengan pakaian adat jawa, mengiringinya dengan tarian Tirto Wening.
Kemudian, ritual dilanjutkankan menuju salah satu sumber kehidupan di Kelurahan Ngaglik yaitu Belik Tanjung (sumber air yang dimanfaatkan warga sehari-hari, Red). Sesampainya di Belik Tanjung, mereka kembali membersihkan dandang dan mengisinya untuk kemudian diakhiri dengan membaca doa bersama sebagai ucapan rasa sukur.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Kelurahan Ngaglik, Achmad Rifai mengatakan, ritual magengan bertujuan untuk menggugah masyarakat Kelurahan Ngaglik agar tahu sejarah dan tradisi para leluhur dalam menyambut bulan Ramadan.
"Salah satunya Cuci Dandang yang mengingatkan masayarakat untuk membersihkan diri menyambut bulan suci Ramadan. Dandang sendiri merupakan simbol dan bagian dari kehidupan sehari-hari. Karenanya kebersihan Dandang juga mencerminkan masyarakatanya," papar Achmad Rifai kepada Malang Post.
Ia menjelaskan, tradisi tersebut tidak hanya syariat saja. Tetapi cermin dari perilaku dan hati manusia. Sehingga, ia berharap megengan tidak hanya ritus yang akan digelar tiap tahunnya. Tetapi memiliki pesan moral kepada semua masyarakat untuk menjaga kebersihan hati dan perilakunya.
Begitu juga untuk lokasi yang dipilih sebagai megengan. Ia mengungkapkan, memilki  sejarah penting bagi masyarakat Kelurahan Pasanggrahan.
"Untuk Sungai Kebo, dulunya menjadi tempat bagi masyarakat dengan latar belakang petani untuk memandikan kebo usai bekerja seharian. Selain itu sungai ini merupakan pertemuan dari tiga aliran air. Yaitu Sungai Songgoriti, Sungai Banteng dan Belik Tanjung," beber laki-laki yang akrab disapa Mad Berlin ini.
Sedangkan untuk Belik Tanjung juga memiliki akar sejarah yang patut diketahui oleh masyarakat. Diungkapkan Mad Berlin jika Belik Tanjung merupakan sumber kehidupan masayarakat bagi beberapa desa pada tahun 1980an hingga saat ini.
"Karenanya sebagai pusat kehidupan, kami ingin masyarakat menghargai sejarah dengan menjaga dan melestarikan Belik Tanjung ini," paparnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Kegiatan, Danni Field menambahkan, tradisi megengan yang diselenggarakan untuk kali pertama ini bisa terlaksana berkat kolaborasi antara warga, PC. IPNU Kota Batu dan MI Darul Ulum Kota Batu. Dia berharap, dari kegiatan tersebut tidak hanya masyarakat Ngaglik yang tahu tentang sajarah Belik Tanjung.
"Kami ingin dari kegiatan ini masyarakat Kota Batu mengetahui tradisi yang ada sejak dulu. Setidaknya Kelurahan Ngaglik bisa jadi salah satu destinasi wisata dari tradisi megengan ini," harapnya.(eri/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...