Kota Wisata Batu 3 Adventure Trail, Diikuti Ribuan Rider, Pemberangkatan 50 Kali


BATU - Sebanyak 5.900 peserta diberangkatkan dalam Kota Wisata Batu (KWB) 3 Adventure Trail oleh Wali Kota Batu, Dra. Dewanti Rumpoko M.Si di depan Balai Among Tani, Minggu (4/10) kemarin. Sejak pagi, ribuan peserta dari berbagai daerah memacu gas dari kuda besi yang ditungganginya siap menjelajah rute sepanjang 60 Km.

Petani Kota Batu Dapat Ilmu Mencuci Wortel dari Berastagi

BATU–Petani wortel Sumberbrantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu mendapatkan ilmu berharga dari petani wortel Berastagi, Sumatera Utara. Ilmu ini menyangkut bibit wortel, cara mencuci hingga pengemasan, sehingga produk wortel memiliki harga jauh lebih tinggi. Ilmu itu didapat petani wortel yang tergabung dalam kelompok Anjasmoro Jaya Abadi 4, setelah mengikuti studi banding. 
Mereka ke Berastagi sejak Selasa (30/10) hingga Kamis (1/10) kemarin. Ada 10 petani wortel yang mengikuti studi banding ke Berastagi ini. Mereka melakukan studi banding ke Berastagi bukan karena inisiatif Dinas Pertanian Kota Batu atau menggunakan anggaran Dinas. Mereka memiliki keinginan sangat kuat untuk lebih maju sehingga berupaya melakukan studi banding tanpa biaya pemerintah. 
‘’Kami mendapat fasilitas dari PT Bayer Indonesia, semua akomodasi ditanggung oleh perusahaan ini,’’ ungkap Erika Eriyanti, petani wortel sekaligus pemilik toko obat/pertanian di Sumberbrantas Kota Batu. 
Kisah Erika dan petani Batu ini, sebelumnya telah ditulis Dahlan Iskan di www.disway.id. Malang Post kemudian berhasil menghubunginya ketika masih di Berastagi. Warga Sumberbrantas ini menyebutkan, petani Berastagi menggunakan bibit wortel jenis pendek dan itu merupakan impor dari Tiongkok. 
Selain itu, petani wortel Berastagi memiliki keunggulan mengenai pencucian wortel hingga kemasan. Dengan keunggulan pencucian dan kemasan inilah, wortel Berastagi memiliki harga lebih tinggi, yakni Rp 13 ribu per kilogram, sedangkan wortel dari petani Sumberbrantas mendapatkan harga jual Rp 7.000 per kilogram. Wortel Berastagi juga bisa diterima supermarket karena beberapa keunggulan. 
‘’Kalau soal produksi, wortel dari Batu sebenarnya bisa bersaing karena kualitasnya. Perbedaan menonjol adalah pencucian dan sistem mengemas. Setelah studi banding ini, kami bisa menggunakan bibit seperti di Berastagi, tetapi juga tetap bisa menggunakan bibit lokal, tetapi memperbaiki pencucian dan pengemasan,’’ terangnya. 
Hal senada juga diungkapkan Prawito, Ketua Kelompok Tani Anjasmoro jaya Abadi 4. Pihaknya sudah melihat kebun tempat menanam wortel, sistem pencucian hingga pengemasan ketika studi banding ke Berastagi. Pihaknya siap melakukan kerja sama dengan petani Berastagi untuk memperbaiki kekurangan petani wortel asal Batu. 
Dia menjelaskan, sistem pencucian wortel sangat berbeda antara petani asal Batu dan Berastagi. Petani Berastagi menggunakan alat asal Tiongkok dengan harga sekitar Rp 60 juta per unit. Alat asal Tiongkok tersebut memiliki banyak sikat. Alat itu bisa mencuci 20 kilogram wortel selama 15 menit. Hasil pencucian wortel juga sangat bagus karena sangat bersih dan wortel utuh. 
Kondisi itu berbeda dengan pencucian yang biasa digunakan petani Kota Batu. Mereka menggunakan mesin molen, alat yang biasa digunakan untuk mengaduk semen. Molen itu hanya ditambahi dengan kain, sehingga wortel yang dicuci banyak patah dan hasil kurang bersih. ‘’Dengan wortel kondisi itu, pasti kurang diterima di pasar dengan harga bagus. Supermarket juga tidak menerima, apalagi kemasan kurang menarik,’’ terang Prawito. 
Melalui studi banding itu juga, kata dia, petani wortel Kota Batu ingin memperbaiki pencucian dan pengemasan wortel. Mereka bisa bekerjasama dengan petani Berastagi, termasuk pemasaran. 
Pihaknya sengaja tidak meminta fasilitas dari Dinas Pertanian Kota Batu untuk studi banding karena sudah ada informasi jika Dinas tidak menganggarkan studi banding. Makanya petani Sumberbrantas itu memilih cara lain, termasuk mencari sponsor. 
‘’Kalau pelatihan, Dinas Pertanian memiliki anggaran. Mungkin kami juga akan bisa meminta fasilitas mesin pencucian wortel seperti petani Berastagi. Selain itu juga ada pelatihan pengemasan wortel,’’ pungkas dia.(feb/ary)
 

Target November Kembangkan Jaringan PDAM

 
BATU - Pemerintah Kota Batu dan DPRD Kota Batu telah menetapkan Perda Kota Batu tentang Perusahaan Umum Air Minum Among Tirto di Gedung DPRD Kota Batu pada Kamis (25/10). Dengan Perda tersebut, diharapkan bisa meningkatkan penyediaan kebutuhan air bersih bagi masyarakat .

Berita Terkait

Berita Lainnya :