82 Tahun Berlalu, Gedung CKC Tak Berubah


CIRI KHAS: Gedung kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Malang di Jalan Merdeka Selatan ini memiliki ciri khas bangunan. Di antaranya tangga penghubung tempat tiang bendera.
GEDUNG kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Malang di Jalan Merdeka Selatan Kota Malang diusulkan sebagai bangunan heritage. Bentuk bangunan tersebut tak mengalami perubahan sejak digunakan Central Kantoor voor de Comptabiliteit (CKC) dan Slank Kas (kantor kas negara) Pemerintah Hindia Belanda 82 tahun lalu.
Dibandingkan bangunan lain di sekitar Alun-Alun Merdeka, gedung yang diaristeki Ir M.B Tideman itu memiliki ciri tersendiri. Bahkan hampir tak dimiliki gedung peninggalan lainnya di kawasan yang sama. Yakni tangga di lantai dua bagian luar lengkap dengan sebidang area terbuka. Di atasnya terdapat tempat tiang bendera.
Menurut salah seorang staf Bagian Umum KPPN Malang, Ridwan, pada masa penjajahan Belanda gedung tersebut digunakan  Central Kantoor voor de Comptabiliteit (CKC) dan Slank Kas. Sebuah kantor kas negara.  “Lalu setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, antara tahun 1945-1947 gedung kas negara ini dipegang langsung oleh Bangsa Indonesia. Saat itu nama CKC dan Slank Kas diindonesiakan,” tuturnya berdasarkan catatan sejarah yang disusun KPPN Malang.
Lalu pada tahun 1951, pemerintah Indonesia menetapkan bahwa di tiap-tiap karesidenan terdapat kas negara. Kemudian pada tahun 1968 nama KPPN dan KKN digabung menjadi Kantor Bendahara Negara (KBN).
Pada tahun 1974, KBN mengalami perubahan struktur organisasi menjadi tiga instansi. Yakni  Kantor Pelayanan Negara (KPN) dan Kantor Kas Negara (KKN) serta Satuan Kerja. Berdasarkan SK Menteri Keuangan, 3 Maret 1983 Nomor 205/KMK.01/1983 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Anggaran, KBN dipecah lagi menjadi Kantor Perbendaharaan Negara (KPN) dan Kantor Kas Negara (KKN).
“Seiring waktu berjalan dan peraturan bergulir di Tahun 2004 barulah kantor ini berubah nama menjadi Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN),” papar Ridwan.
Meski  begitu sebelum tahun 1947, KPPN Malang yang masih bernama KKN berada di Jalan Talun Lor Malang (sekarang Jalan Arif Rahman Hakim). Saat agresi militer Belanda tahun 1947, dilakukan upaya menyelamatkan dokumen administrasi keuangan dengan memindahkan KKN ke Turen.
Setelah penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada pemerintah Republik Indonesia tahun 1950, KKN dipindah kembali dari Turen ke Bank Tumapel di Jalan Talun Lor Malang.Dengan semakin meningkatnya beban pekerjaan, tahun 1952 dipindah ke Jalan Merdeka Selatan Nomor 1- 2 Malang hingga saat ini.
Hal ini juga dijelaskan Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang Agung H Buana kepada Malang Post. Latar sejarah itulah yang membuat tim menentukan gedung KPPN Malang sebagai salah satu cagar budaya Kota Malang.
“Bangunan KPPN ini sudah pernah di teliti. Lalu tindakan pelestarian juga banyak yang berubah mulai dari kramik, cat, bangunan dalam yang meliputi ruang tunggu sampai ruang rapat untuk pensiunan dan sisa sedikit untuk bangunan pelestarian atau alat-alat kerja kantor,” ungkap Agung.
Ia menjelaskan luas tanah KPPN 4.850 meter persegi terdiri dari dua lantai. Dan ada beberapa fungsi kantor yaitu: kantor pembedaraan, pencairan dana, vera, dan lainnya.
Sedangkan yang bangunan gedung lama, yang akan ditetapkan sebagai bangunan cagar memiliki luas tanah 1.888 meter persegi. Sekarang difungsikan untuk arsip dan untuk rapat pertemuan pensiunan.
Sejumlah ruangan pada gedung KPPN yang lama terdiri dari dua lantai dan kurang lebih delapan bekas ruang kerja dahulu. Di depan gedung terdapat struktur unik menyerupai tangga yang dikatakannya sudah ada sejak gedung itu dibangun.
“Itu tangga akses ke atap. Gaya arsitektur bangunan seperti ini karena atap gedung sangat lancip,” ungkap pria yang juga menjabat sebagai Kasi Promosi Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang ini.  
Menambahkan, terkait akan ditetapkannya gedung KPPN Malang sebagai cagar budaya, Bagian Umum KPPN Malang Ridwan menerangkan pihaknya sangat mengapresiasi hal tersebut. Ia menjelaskan pemeliharaan terus dilakukan karena pihaknya menyadari gedung lama KPPN memiliki nilai historis yang tinggi.
Ridwan pun mengungkapkan jika KPPN Malang beserta seluruh staf yang ada memiliki standar sendiri bagaimana memberikan perawatan dan perlakuan di gedung lama.  “Beberapa koleksi mesin-mesin besar yang dulu dipakai zaman kolonial kita amankan. Serahkan untuk jadi koleksi di Museum Pembendaharaan di Bandung. Sekarang gedungnya ya tetap dirawat tidak dirubah-rubah sejak dulu,” pungkas Ridwan. (ica/van)