Akhlak dan Penampilan, Modal Penting untuk Hijrah


MALANG - Definisi hijrah menjadi salah satu bahasan dalam agenda Tabligh Akbar Hijrah United dan ACT Malang di Masjid Ramadhan, Perum Griyasanta Jl. Soekarno Hatta Malang, Sabtu (18/5) . Empat pembicara dihadirkan dalam agenda tersebut. Yakni Ustadz Rifqi Jafar bin Thalib, Ustadz Zahid Hadromi, Habib Fahmi Assegaf dan Habib Muhammad bin Anies Syahab.
Ustaz Zahid Hadromi, menyampaikan dimana akhlak merupakan salah satu hal penting dalam kehidupan untuk berhijrah.
“Seorang yang berakhlak luhur adalah yang mampu berakhlak baik terhadap Allah ta’ala dan sesamanya”, kata Ustadz Zahid.
Selain itu Ustadz Fahmi Assegaf juga menyampaikan, hijrah merupakan suatu proses yang butuh upaya dan ikhtiar. Selain itu penampilan menentukan kepada siapa kita berteman. Ia mengatakan ubahlah penampilan kamu maka lingkunganmu akan berubah menjadi lebih baik. Terlebih, lingkungan itu tahu persis bagaimana kehidupan kita sebelum hijrah. Untuk itu, perlu dicari cara agar meredam kejutan atas perubahan yang kita berikan ketika memutuskan berhijrah.
 “Karena kita tidak tahu, hati kita bersih atau tidaknya. Mulailah dari cara berpakaianmu dulu. Seperti contoh untuk perempuan pakailah pakaian tertutup dan berhijab, maka insyaAllah itu akan merubah hati dan lingkungannya,” kata Ustadz Fahmi di sela-sela tanya jawab.
Selanjutnya dalam paparan Ustaz Rifqi Jafar bin Thalib membagikan cara bagaimana seseorang yang ingin melakukan hijrah. Berhijrah merupakan Keluar dari kekufuran menuju keimanan. Hijrah yang dilakukan tentunya dengan bersungguh-sungguh untuk kembali ke jalan Allah. Ia menjelaskan, yang terpenting dalam melakukan hijrah yaitu niatnya berubah untuk menjadi baik dari sebelumnya karena Allah. Seseorang yang benar-benar ingin berhijrah harus meluruskan niatnya terlebih dahulu.
"Kita hijrah kepada siapa dan mau kemana. Harus diluruskan dulu niat dalam berhijrah," kata Ustadz Rifqi disela kajiannya.
Dalam berhijrah pasti ada banyak tantangan dan godaan yang dihadapinya. Apalagi di era milenial ini kamu perempuan dan laki-laki dengan sangat mudah berdekatan seperti contoh hanya bersalaman saja.
Hal ini Habib Muhammad bin Anies Syahab menanggapinya, berjabat tangan dengan yang bukan mahram tetap tidak dibolehkan. Walaupun berjabat tangan dengan yang sudah sepuh dan tidak punya rasa apa-apa (tidak dengan syahwat). Mereka beralasan dengan keumuman dalil yang melarangnya.
“Jangan malu untuk menolak jabat tangan kepada lawan jenisnya yang bukan muhrimnya, karena itu mereka merupakan suatu hal yang baik untuknya,” pungkas Habib Muhammad bin Anies Syahab saat ditanya.
Kegiatan ini didukung oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT) Malang yang selalu berpartisipasi dan mengajak kaum muda milenial untuk berani berhijrah. Partnership Iqro Wahyu Perdana mengatakan, Kami bersama Hijrah United gelar Tabligh Akbar ini untuk menjadi  langkah awal para pemuda untuk ikut andil dalam mempererat ukhuwah diantara kaum muslimin.
“Dengan diadakannya acara ini diharapkan tidak ada lagi perpecahan, tidak ada lagi provokasi antara sesama kaum muslimin,” ucap pria yang akrab disapa Iqro kepada Malang Post. (mp4 /adv/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :