Alih Fungsi Lahan Ancam Sawah Kota Malang

 
MALANG – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Malang memastikan musim kemarau tak mempengaruhi musim panen  padi di Kota Malang. Itu karena sawah di Kota Malang menggunakan sistem irigasi teknis. Dengan sistem tersebut, air tetap mengalir meskipun musim kemarau. 
”Kalau debit  airnya menurun kami akui ya, karena musim kemarau. Tahun-tahun lalu juga demikian. Meski debitnya menurun, air masih mengalir ke sawah-sawah milik warga, sehingga sawah tidak akan kekurangan air,’’ kata Kepala Bidang Produksi Pertanian, Dinas Pertanian Kota Malang, Prandoyo kepada Malang Post, kemarin.
Dia menguraikan, sistem irigasi tenis merupakan sistem irigasi yang mengandalkan sumber air. Air irigasi yang mengalir ke sawah-sawah Kota Malang bersumber dari Kota Batu. Aliran air ke sawah-sawah juga tidak mengandalkan bantuan alat.
”Ini bedanya dengan sistem irigasi di Kabupaten Malang, di wilayah tertentu mengandalkan pompa untuk mengalilirkan air ke sawah. Tapi di Kota Malang tidak, air mengalir dari sumber melewati saluran-saluran irigasi kemudian mengalir ke sawah,’’ ucapnya.
Kendati demikian, bukan berarti Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan tak memiliki pompa. Pihaknya memiliki pompa air sebagai upaya untuk mengantisipasi. ”Kami punya, tapi belum pernah digunakan. Karena memang air irigasi tak pernah ada masalah,’’ ungkapnya. 
Dia menyebutkan, musim panen padi di Kota Malang 2,5 kali pertahun. ”Di Kota Malang kami memiliki luas lahan sawah yang ditanami padi 821 hektare. Dengan rata-rata panen pertahun 2,5 kali,’’ ungkapnya.
Dia mengatakan, untuk Kota Malang yang menjadi ancaman lahan pertanian bukanlah air. Tapi sebaliknya, yaitu alih fungsi lahan. Sejak tahun 2015 lalu, dia mengakui luas lahan pertanian di Kota Malang terus berkurang. 
”Alih fungsi lahan inilah yang kami takutkan. Kami berharap yang akan datang, tak ada lagi alih fungsi lahan. Warga tetap mengelolah sawah dengan tanaman padi ataupun hortikultura,’’ tandasnya. (ira/aim)

Berita Terkait

Berita Lainnya :