Asrama Bali Jadi Guest House Pelajar Kolonial


MALANG – Sebuah bangunan di Jalan Kartini 30 Kecamatan Klojen Kota Malang, ternyata menyimpan nilai sejarah Malang. Asrama mahasiswa Bali Gunung Agung yang kini menjadi tempat tinggal anak-anak muda Pulau Dewata yang menggali ilmu di Kota Malang itu, dulunya adalah guest house bagi pelajar luar pulau di era penjajahan.
Agung H Buana, Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang, mengungkapkan, Asrama mahasiswa Bali Gunung Agung, sudah diakui sebagai bangunan peninggalan penting. “BPCB Trowulan secara eksplisit menegaskan gedung asrama ini adalah cagar budaya,” kata Agung kepada Malang Post kemarin.
Dia merinci, bangunan ini, dulunya dipergunakan oleh pelajar dari luar Jawa pada era sebelum merdeka, untuk tempat tinggal saat bersekolah di Kota Malang. Agung mengatakan, reputasi Kota Malang sebagai kota pendidikan, ternyata sudah tersohor bahkan pada masa kolonial. Hoogeree Burger School dan Algemeene Middlebare School adalah contohnya.
HBS untuk warga Belanda, dan AMS untuk umum, merupakan dua sekolah masa kolonial. Ada pula, Neutrale Lagare School, cikal bakal SMAK Kolose Santo Yusup, serta Zusterschool yang dibangun pada 1900, adalah asal muasal dari Corjesu. Dengan begitu banyaknya sekolah di Kota Malang pada masa kolonial, tak mengherankan bila ada pemuda dari luar Jawa yang ingin menimba ilmu.
“Karena itu, bangunan ini didirikan sebagai asrama pelajar dari luar Jawa, baik militer maupun sipil, seperti guest house tapi zaman dulu. Bangunan ini lahir sekitar tahun 1920-an,” ujar Agung.
Gedung ini, akhirnya berganti kepemilikan setelah Indonesia merdeka tahun 1945. Dulunya, gedung tersebut adalah aset Pemkot Malang. Lalu, asrama ini berubah menjadi asrama mahasiswa Bali setelah dilimpahkan kepada Pemprov Bali. Pemprov Bali ingin memberi tempat bagi putra daerah Bali untuk belajar di Kota Malang, sampai sekarang.
Ciri khas gedung tersebut, adalah bentuk atap dan pembagian ruangan serta gaya interiornya. “Tidak seperti bangunan yang besar-besar di Kota Malang, gedung ini kecil, ruangannya dibagi-bagi sehingga ada banyak ruangan, dengan konektivitas yang tinggi. Itu karena sejak dahulu, bangunan ini dipakai asrama pelajar. Keaslian bangunan sekitar  90 persen,” tutup Agung. (fin/udi)