Babinsa Lesanpuro Bangun Kampung Organik


MALANG - Kiprah bintara pembina desa (babinsa) Kelurahan Lesanpuro, Serma Sri Purwanto ini bisa jadi teladan. Prajurit TNI AD tersebut menggagas lalu mewujudkan  kampung organik di perkampungan Baran, tempatnya bertugas.   Sejak tahun 2016 lalu, Sri mengajak warga seriusi pertanian organik.
Mereka memanfaatkan polybag sebagai media tanam sayuran tanpa pupuk kimia. Warga kini makin berdaya  dan mendapatkan penghasilan tambahan.
Perjuangan Sri berawal pada tahun 2015. Saat itu,ia ditugaskan mengikuti penataran peningkatan kemampuan Babinsa bidang pertanian di Balai Benih Padi, Subang, Jawa Barat. Selama dua minggu ia mendapat ilmu dari ahli pertanian, Prof Nur Jaman. Materinya tentang ramuan organik tanaman (rotan), ramuan organik ternak (roter), dan ramuan organik hama (roma).
“Prof Nur Jaman paham betul tentang pertanian karena dia merupakan penyuluh dan pemateri utama untuk tanaman organik di Mabes TNI AD. Saya belajar banyak dari situ,” ungkapnya kepada Malang Post.
Sepulangnya dari pelatihan inilah Sri membawa ilmu tersebut. Awalnya ia sempat  bingung mengaplikasikan pengetahuan baru tersebut. Dia kemudian berdiskusi dengan Sekretaris Lurah Lesanpuro, Lukman Santoso. Di sinilah muncul ide pengembangan kampung organik Lesanpuro. Sejak ini warga dilibatkan dalam beberapa kali pelatihan.
Meski begitu ide membangun kampung organik tak langsung mulus. Apalagi sempat mengalami keterbatasan dana.Tapi sebagai prajurit, ia tak tinggal diam untuk mencari solusi pengembangan kampung organik.
Pada tahun 2017 lalu muncul lomba kampung tematik Pemkot Malang. Dengan kemampuan Sri dan Lukman Santoso mengkonsep ide kampung organik lebih ciamik kemudian diikutkan lomba.
“Nah kita menang waktu itu peringkat enam. Dan dapat bantuan untuk bangun sampai bisa dilihat sekarang,” ujar pria kelahiran 1970 itu. Saat ini kampung yang berada di Baran itu dinamakan Kampung Wisata Sayur Organik Baran Bela Negara Agro.
Dari sini Sri sering diminta memberi penyuluhan kepada warga. Hingga suatu hari ia mengunggah foto saat memberi pelatihan ke laman facebooknya. Foto ini direspon oleh Prof Nur Jaman. Dia ditanya sedang apa di foto tersebut.
Tanpa disangka, dua minggu kemudian ahli tanaman dan penyuluh TNIAD itu memberikan kontak lewat pesan Facebook agar segera dihubungi.
”Saya hubungi nomor teleponnya profesor. Ternyata saya diminta menjadi pemateri untuk penyuluhan Babinsa di Bogor. Saya kaget apa saya bisa?” tutur bapak dua anak ini.
Namun, begitu ia tetap maju pantang mundur demi mewujudkan prinsip kemanunggalan bersama rakyat yang digaungkan TNI. Ia pun mengiyakan permintaan  profesornya tersebut dan memberi pelatihan selama satu bulan lamanya.
Pada akhirnya, Sri jadi pemateri penyuluhan hortikultura peningkatan pertanian aparat kewilayahan. Audiesnnya adalah para perwira seksi (pasi) teritorial dan Babinsa dari seluruh batalyon.
Pada Agustus 2017, Sri diterbangkan lagi untuk memberi pelatihan. Kali ini berangkat ke Pusat Pendidikan Teritorial (Pusdikter) TNI AD di Bandung. Di sana ia menjadi satu-satunya pemateri tanaman hortikulutra di TNI AD selama dua minggu untuk memberikan materi kepada utusan personel seluruh batalyon non apkowil.
”Saat ini saya sedang konsen untuk mengembangkan kampung organik. Soalnya ini daerah saya. Masih banyak yang hendak dikembangkan. Perlu banyak fasilitas penunjang karena semangatnya ingin jadi kampung wisata organik,” ungkap pria ramah ini.
Kini kampung organik Baran mengikuti penilaian nasional untuk Malang Kota Sehat pada tahun 2019. Sri mengaku akan lebih banyak berkarya dengan kemampuan yang ia miliki warga. (ica/van)

Berita Terkait

Berita Lainnya :