Banyak Gadis Hamil Duluan!

MALANG - Angka pernikahan di bawah umur alias nikah dini, naik dari tahun ke tahun. Para orang tua wajib waspada. Sebab, salah satu faktor nikah dini, karena si gadis hamil duluan.  Di Kabupaten Malang, bahkan pada Januari 2019, sudah ada 41 pasangan  nikah dini!
Ya, berdasarkan data Kementerian Agama (Kemenag), selama tahun 2018 tercatat ada 264 kasus nikah dini. Demikian disampaikan Kasi Bimas Kemenag Kabupaten Malang, Irfan Hakim, kepada Malang Post, Kamis (14/2). Menurutnya jumlah pernikahan dini pada 2018, ada peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2017, jumlah pernikahan dini tercatat sebanyak 240 kasus.
"Untuk tahun 2019 sudah ada 41 kasus yang nikah dini," tegas Irfan Hakim.
Peningkatan jumlah pernikahan dini, karena ada beberapa penyebabnya.Di antaranya, karena perempuan hamil duluan. Untuk menutupi kehamilannya, akhirnya orang tua menikahkannya. Selain itu, juga karena kedua pihak yakni laki-laki dan perempuan ngotot untuk dinikahkan.
Ini karena mereka sudah tidak bisa dipisahkan. Sehingga orang tua yang timbul kekhawatiran anaknya hamil di luar nikah, terpaksa menikahkan saat usianya masih di bawah umur. 
"Kalau karena perjodohan, sama sekali tidak ada. Paling banyak pernikahan dini, karena hamil terlebih dahulu," tuturnya. 
Syarat usia boleh menikah, menurutnya adalah minimal berusia 19 tahun untuk laki-laki, dan 16 tahun untuk perempuan. Itupun harus ada izin dari kedua orang tua. Namun ketika usia calon pengantin belum genap 19 tahun atau 16 tahun, maka harus mengajukan izin ke Pengadilan Agama (PA). Di mana pihak orang tua akan dipanggil untuk dimintai keterangan. 
"Sebetulnya permasalahan utama pernikahan dini terjadi, adalah karena pornografi yang tersebar bebas. Sehingga orang akan coba-coba melakukan hubungan intim, yang mengakibatkan pihak perempuan hamil terlebih dahulu," urainya.
Data Pengadilan Agama Kabupaten Malang lebih mengejutkan. Karena jumlahnya lebih banyak. Ada peningkatan setidaknya 6 persen dalam dispensasi pernikahan dari tahun 2017 ke 2018. Data dispensasi nikah yang terekam di PA Kabupaten Malang Jalan Mojosari Kepanjen menyebutkan, ada 400 pasangan yang dikabulkan dispensasi nikahnya.
 “Tahun 2018, catatan dispensasi nikah di Kabupaten Malang, total ada 400 pernikahan, sedangkan, tahun 2017, ada 377 pernikahan,” papar Panitera Muda Hukum PA Kabupaten Malang, Widodo S, SHi, MH dikonfirmasi Malang Post.
 Untuk diketahui, dispensasi nikah adalah regulasi bagi warga negara yang ingin menikah di bawah umur. Yakni di bawah 19 tahun untuk laki-laki, dan di bawah 16 tahun untuk wanita. Pasal 7 ayat 2 UU Perkawinan 1974, jo pasal 1 huruf b PP nomor 9 tahun 1975 tentang pelaksanaan UU Perkawinan, mengatur tentang dispensasi nikah.
Persyaratan dispensasi nikah, adalah surat penolakan dari KUA yang menjelaskan tak bisa dilangsungkannya perkawinan karena batas minimal usia pernikahan. Lalu, syarat lainnya yaitu KTP kedua orang tua, Kartu Keluarga dan Akta Kelahiran kedua anak yang akan diajukan dispensasi nikah.
Untuk tahun 2019, jumlah pengajuan dispensasi nikah mencapai 34 pasangan. Jumlah ini, diprediksi mengalami tren peningkatan dengan gaya hidup remaja yang kian berubah. Menurut Widodo, ada dua alasan utama mengapa pernikahan dini akhirnya terjadi di Kabupaten Malang. Alasan yang cukup dominan, adalah ‘kebobolan’. 
“Sebagian, yang mengajukan dispensasi nikah karena sudah hamil duluan. Alasan kedua, dan masih terkait dengan alasan pertama, yaitu ketakutan orang tua terhadap pergaulan bebas masa kini,” katanya. 
Angka pernikahan usia dini di Kota Malang juga meningkat. Hal ini diketahui dari data keputusan Dispensasi Kawin (DK) yang dikeluarkan Pengadilan Agama (PA) Kota Malang di dua tahun terakhir. Ada peningkatan sekitar 13 dispensasi dikeluarkan PA Kota Malang sejak 2017 hingga 2018 lalu. 
Hal ini dijelaskan Panitera Muda Hukum Kasdullah SH MH saat ditemui di Kantor PA Kota Malang kemarin. Ia menjelaskan di 2018 lalu PA Kota Malang menerima sebanyak 82 permohonan pernikahan di bawah umur. Sedangkan di 2017 hanya 69 saja. Sayang di awal 2019 ini masih rekap data DK yang dikeluarkan belum dapat rekapnya. 
Meski begitu tren peningkatan memang terlihat. Alasan utama pengajuan permohonan pernikahan usia di bawah umur menurut undang-undang ini dikarenakan Married by Accident (MBA) atau hamil duluan.
“Ya yang paling banyak memang karena hamil duluan ini,” tegasnya. 
Hal ini tidak dapat dihindari dan jarang ditolak permintaannya oleh PA Kota Malang. Dikarenakan alasan sudah jelas. Dikatakannya peningkatan ini dirasa terjadi karena pergaulan muda-muda dari zaman ke zaman kurang terkendali. 
Sedangkan angka pernikahan dini di Kota Batu memang tak terlalu tinggi. Hal tersebut dikarenakan banyak faktor. Mulai dari pendidikan, ekonomi, dan pergaulan lingkungan. Demikian ditegaskan Kasi Bimas Islam Kemenag Kota Batu, Drs. Supriayadi M.A. Untuk mengurus persyaratan surat nikah usia dini atau cerai, lanjut dia, masyarakat Kota Baru harus mengurusnya ke PA Malang. 
“Jadi sepanjang tidak ada keputusan dari pengadilan. Maka KUA, tak hanya di Kota Batu, tapi di seluruh Indonesia tidak bisa mengeluarkan surat nikah," bebernya.(agp/fin/ica/eri/ary) 

Berita Terkait

Berita Lainnya :