Bentrok di Jalan Basuki Rahmat, Empat Orang Terluka

RUSUH: Aksi Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) berujung rusuh di kawasan Kayutangan, Jalan Basuki Rahmat, Kota Malang, Kamis (15/8).
 
 
MALANG – Aksi demonstrasi sekelompok yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) berujung kerusuhan di kawasan Kayutangan, Jalan Basuki Rahmat, Kota Malang, Kamis (15/8) kemarin. Akibatnya, setidaknya ada empat korban yang mengalami luka, yakni, Jawad Banohar pegawai KPU Kota Malang, Aipda Seno, anggota Reskrim Polres Makota dan Aipda Agus Hidayat Sabhara Polres Makota.
Sementara, satu korban lain, berasal dari kelompok massa demonstran. Dari keterangan yang dihimpun, peristiwa ini diawali dari aksi demonstrasi kelompok massa AMP itu. Sekitar pukul 09.00 WIB, mereka yang berjumlah 30-an orang, berkumpul di kawasan BCA Jalan Kawi, lalu long march menuju Stadion Gajayana Kota Malang.
Saat berhenti di kawasan Stadion Gajayana, mereka bertemu dengan kelompok masyarakat yang kebetulan ada gladi persiapan upacara kemerdekaan RI dan mengibarkan merah putih. Tidak terima dengan seruan demonstran yang menyuarakan isu separatis dari NKRI, kelompok masyarakat ini mengusir kelompok pendemo dari Gajayana.
Sempat terjadi adu mulut sehingga pendemo bergerak  ke Kayutangan. Mereka kembali melakukan orasi, dan kembali menyuarakan isu separatis. Menurut selebaran yang mereka sebar, Indonesia menjajah Papua, dan meminta Papua dimerdekakan. Namun, masih banyak warga yang berdatangan. Masyarakat yang tidak terima dengan seruan berbau separatis dari kelompok ini, kembali adu mulut dengan kelompok tersebut.
Suasana memanas, aksi saling lempar terjadi. Polisi dari Polres Makota berupaya menghalau massa. Tapi, aksi saling lempar masih belum reda. Toko dan tempat usaha yang ada di sekitar Kayutangan, buru-buru menutup pintu. Bank, hotel, dan tempat usaha lainnya, menutup rolling door, dan merekam perang batu dari atas bangunan.
"Akibat peristiwa ini, ada satu warga, bernama Jawad Bahonar, pengendara motor, terkena lemparan batu. Kami dari relawan mengevakuasi dia ke rumah sakit untuk perawatan," ujar Aphan, relawan Es Teh Anget kepada Malang Post, di Kayutangan. Jawad Banohar, warga Kedungkandang Kota Malang, adalah pegawai KPU Kota Malang.
Selain Jawad, ada Aipda Seno, Anggota Reskrim Polres Malang Kota, mengalami luka memar pada telapak tangan sebelah kanan karena terkena lemparan batu. Lalu, Aipda Agus Hidayat, Anggota Sabhara Polres Malang Kota yang mengalami luka retak pada telapak tangan sebelah kanan, karena terkena lemparan batu.
Ketiganya masih dalam perawatan IGD RSSA Malang. Satu lagi korban, tidak diketahui identitasnya, sempat diberi perawatan oleh Dokpol Polres Makota saat kerusuhan meletup. 
Di antara aksi saling serang, jumlah warga masyarakat yang mendatangi Rajabali semakin banyak.
Masyarakat tidak terima dengan seruan separatis yang dilontarkan dari para demonstran. Hingga akhirnya, Polres Makota mendatangkan satu buah truk untuk mengevakuasi kelompok demonstran. Aksi ini berakhir pukul 11.00 WIB.  Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri menyebut aksi demonstrasi yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Papua dan Front Rakyat Indonesia untuk West Papua ini tidak berizin.
Pasalnya, surat pemberitahuan yang dikirimkan ke kantor polisi sebelum aksi tidak jelas penanggungjawabnya. “Dalam surat pemberitahuan aksi yang dikirim ke Polres Makota, tidak jelas siapa penanggungjawabnya, tidak ada koordinatornya, dan tidak jelas apa maksud dan tujuan demonstrasi itu. Sehingga, kami tidak pernah mengeluarkan izin,” ujar Asfuri. (fin/aim) 

Berita Terkait