Dari Kayutangan, AMT dan Palang Biru Berjuang

Memperingati HUT ke 74 Republik Indonesia, Malang Post mempersembahkan liputan khusus. Tulisan mengenai perjuangan kemerdekaan, selama dua hari, pada Jumat, 16 Agustus 2019 dan Kamis, 17 Agustus. Hari ini dimulai dari perjuangan dan kontribusi para warga etnis keturunan Tionghoa di Malang.
 
 
Kontribusi Para Tionghoa Merebut Kemerdekaan Siauw Giok Bie Raih Penghargaan dari Soekarno
 
Di Kota Malang, sejarah perjuangan Kemerdekaan RI, juga berawal dari sebuah rumah di Jalan Basuki Rahmat atau kawasan Kayutangan. Menariknya, sejarah perjuangan dari tempat itu, merupakan kisah kaum pejuang dari kalangan minoritas. Mereka adalah etnis keturunan Tionghoa. Para Tionghoa berkontribusi untuk merebut kemerdekaan Republik Indonesia. 
Tepatnya di sebuah toko kelontong Nomor 69. rumah yang saat ini sudah berubah wujud menjadi sebuah toko pakaian batik ini, menjadi cikal bakal pembentukan Angkatan Muda Tionghoa (AMT) dan Palang Biru. Yang juga berafiliasi dengan sejarah perjuangan Palang Merah Cina yang berjasa besar saat pertempuran pejuang di Surabaya pada 10 November 1945.
Tokoh penting dalam pembentukan AMT dan Palang Biru, yakni Siauw Giok Tjhan dan adiknya Siauw Giok Bie merupakan keluarga keturunan Tionghoa sederhana. Pada masa Tahun 1942 – 1946 mereka berkediaman di Kota Malang. 
Peran AMT dan Palang Biru ternyata tidak sesederhana apa yang tercatat. Tujuan utama mereka membantu pejuang pribumi memperjuangkan kemerdekaan. Namun juga terselip sebuah fakta lain, bahwa mereka ingin menjaga harga diri golongan Tionghoa. Sebab, pada saat itu dianggap “mendukung” penjajah, padahal yang diinginkan hanyalah tetap menjaga kesatuan NKRI. 
Malang Post berkesempatan menuliskan cerita perjuangan pendiri AMT dan Palang Biru yang diawali di Kota Malang. Melalui anak kandung Siauw Giok Tjhan yang berhasil dihubungi Malang Post yakni Siauw Tiong Djien. Ia merupakan putra ke-6 Siauw Giok Tjhan. Kepada Malang Post ia membeberkan cerita ayahnya ketika turut berjuang dalam merebut kemerdekaan RI bersama dengan Laskar Pemuda. 
“Awalnya dulu ayah saya memang membentuk Angkatan Muda Tionghoa (AMT) yang hampir bersamaan juga mendirikan Palang Biru ini di sekitar awal September 1945,” jelas pria yang saat ini berkediaman di Melbourne, Australia ini. 
Djien, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa ayahnya memang selalu resah terhadap apa yang terjadi di masa-masa perjuangan. Tidak pernah peduli dirinya etnis keturunan dan bukan pribumi. Djien mengenal bahwa sosok ayahnya sama inginnya memperjuangkan kemerdekaan Indoenesia bahkan sejak zaman penjajahan Jepang dahulu.
Siauw Giok Tjhan dan keluarganya dulu merupakan pelarian dari Semarang. Saat itu sekitar tahun 1943, ayahnya adalah seorang jurnalis Harian Mata Hari yang kerap menulis tulisan bertemakan perjuangan dan kemerdekaan Indonesia. 
“Karena sikap ayah yang anti Jepang mencolok, ia merasa pasti akan menjadi incaran, saat itu Jepang mau kalah,” papar Djien. 
Lalu di tahun 1943 itulah ia dengan seluruh keluarganya pindah ke Pemalang, berpindah lagi ke Surabaya sampai akhirnya merasa aman pindah ke Kota Malang. Ayahnya kemudian membuka toko dengan modal yang pernah dikumpulkan ketika bekerja di Mata Hari. Dan atas bantuan adiknya, ia membuka toko serba ada kecil yang dinamakannya Tjwan-Tjwan-an (usaha beruntung) di Kota Malang. 
Meski begitu, ayahnya tersebut lebih suka dengan hal politik. Dengan kawan-kawannya pun ia kemudian sering berdiskusi di tokonya. Siauw sering mengadakan diskusi-diskusi politik yang serius. Teman-teman lamanya, seperti Liem Koen Hian yang pada waktu itu menetap di Jakarta, Tjoa Sik Ien dari Surabaya dan Tan Ling Djie yang menetap di Tanggerang, juga terkadang muncul untuk berdiskusi. 
Di samping mereka, juga sering datang kawan-kawan lain yang turut menjadi pendengar diskusi-diskusi politik itu, termasuk adiknya, Giok Bie, Tan Hoo Lam dan Tan Hoo Kiet, Njoo Soen Hian, Tan Kiek Liep dan Ong Hong Tiek. Dari kelompok yang jauh lebih muda, Kho Thian Po, Tan Hwie Kiat dan Oey Hay Djoen juga cukup sering datang berkunjung. 
“ Ayah (Siauw,red) sering menyatakan bahwa penduduk Tionghoa harus siap menghadapi kekalahan Jepang dan juga harus bersiap siaga bekerja sama dengan para pejuang kemerdekaan Indonesia untuk mencapai kemerdekaan. Pemuda Tionghoa tidak boleh hanya menjadi penonton saja. Mereka harus berpartisipasi dalam gerakan merebut kemerdekaan,” ungkap Djien. 
Tidak lama setelah proklamasi kemerdekaan, Siauw Giok Tjhan dan kawan seperjuangannya membentuk Hua Chiao Tse An Hui (Badan Pengaman Tionghoa) pada bulan September 1945. Ini untuk mengkonsolidasi pengaruhnya di dalam masyarakat Tionghoa di kota. Dan menjamin adanya wadah yang bisa mewakili dan membela kepentingan masyarakat Tionghoa dalam menghadapi berbagai macam kekacauan.
 
Palang Biru Turun di Garis Depan Pertempuran
 
 
Menjelang Oktober 1945, pasukan Belanda mulai masuk kembali ke Indonesia. Banyak orang Tionghoa mengharapkan bahwa negara RI yang dibentuk setelah proklamasi Soekarno-Hatta itu akan berakhir dan penjajah Belanda kembali berkuasa. Itu karena, mereka mengalami berbagai macam kekacauan dan kejahatan-kejahatan.
Sebagian besar dari masyarakat Tionghoa tidak memiliki keyakinan bahwa negara RI akan melindungi mereka. Siauw sangat khawatir melihat perkembangan ini. Yang ia khawatirkan tentunya adalah berkembangnya persepsi di kalangan pemuda Indonesia. Bahwa masyarakat Tionghoa tidak mendukung kemerdekaan bahkan mendukung usaha mengembalikan sistem penjajahan Belanda.
Untuk mengurangi dampak negatif ini, Siauw membentuk Angkatan Muda Tionghoa (AMT) di Malang. Untuk menunjukkan masyarakat umum bahwa penduduk Tionghoa tidak hanya menonton tetapi aktif dalam mempertahankan kemerdekaan.
Sebagai ketua dipilih Siauw Giok Bie, adiknya, yang memiliki figur yang sangat dibutuhkan. Yaitu berpengalaman dalam gerakan lapangan dan mampu berhubungan dengan pimpinan-pimpinan laskar pemuda yang bersenjata. 
“Siauw sendiri tetap berada di belakang layar mengisi kepemimpinan organisasi dengan memberi petunjuk-petunjuk dan menentukan strategi organisasi. Bersamaan dengan ini juga di bentuk Palang Biru,” tegas pria kelahiran 1965 ini. 
Siauw membentuk Palang Biru di Malang, yang beranggotakan bekas anggota-anggota Kebotai (Para Militer bentukan Jepang,red). Sebagai ketua, Siauw memilih Tan Sie Liep. Tugas utama Palang Biru ini adalah membantu para korban pertempuran di garis depan. 
Mereka juga ditugaskan untuk mengumpulkan obat-obatan dan mengirimkannya ke garis depan. Palang Biru berhasil memiliki beberapa kendaraan yang dilengkapi dengan alat-alat para medis. 
Siauw Giok Bie juga aktif di dalamnya dan jasanya diakui oleh Soekarno yang memberinya bintang penghargaan atas jasa-jasanya pada akhir 1945 di Jakarta. Ia dianggap berjasa dalam mengumpulkan obat-obatan dan pengirimannya ke garis depan.
Setelah Jendral Mallaby mati tertembak di Surabaya pada tanggal 29 Oktober 1945, keadaan menjadi genting. Ultimatum Mayor Jendral Mansergh pada tanggal 9 November 1945 menyebabkan kekuatan pihak Indonesia bersiap-siap untuk melawan kekuatan Inggris yang didukung oleh allied Forces di Surabaya. Laskar pemuda Indonesia tidak bersedia untuk menyerah. 
“Ayah akhirnya memobilisasi para pengikutnya dari AMT dan Palang Biru di Malang untuk berangkat ke Surabaya, untuk turut bertempur dan membantu para korban pertempuran di sana pada tanggal 10 November bersama membantu Palang Merah Cina di sana,” paparnya.
Usai kejadian ini, ayahnya tetap merasakan bahwa masyarakat Tionghoa, terutama pemuda-nya harus terus didorong untuk tidak menjadi penonton upaya mengkonsolidasi kemerdekaan. Pada bulan Januari 1946, Siauw dibantu oleh The Tjing Djien, Go Gien Tjwan dan Tjoa Kian Bo menyelenggarakan kongres pemuda Tionghoa seluruh Jawa Timur di Selecta, Batu. Kongres ini dihadiri oleh 74 peserta dari 23 kota di Jawa Timur. 
Ia menjelaskan, ayahnya berhasil pula mengundang beberapa tokoh peranakan yang terkenal untuk memberi sambutan, di antaranya Oey Yong Tjioe, seorang pengacara terkenal dari Malang, Yap Hong Po, ketua Chung Hua Hui di Yogyakarta, Kwa Tjwan Sioe, tokoh peranakan yang dihormati pejuang kemerdekaan dari Jakarta dan seorang wakil konsul jendral Tiongkok, Lin Chi Ming.
Di dalam kongres ini Siauw menyerukan perlunya komunitas Tionghoa mendukung RI dan turut berpartisipasi dalam upaya mengkonsolidasinya. Akhirnya, kehendak Siauw untuk mengeluarkan sebuah pernyataan yang tegas mendukung RI dan menerima Indonesia sebagai tanah air berhasil dikeluarkan sebagai sebuah keputusan bulat kongres tersebut.
“Saat ini semua keluarga besar kami sudah kebanyakan tidak di Indonesia. Tetapi sesekali kita datang ke Malang menengok tempat tinggal dulu di Kayutangan,” tutupnya.(ica/ary)
 
 

Berita Terkait