GM Hotel, Main Wayang Orang


MALANG - Para General Manager (GM) Hotel yang biasanya terlihat jaga penampilan, mendadak tampil edan-edanan di atas panggung, Senin (21/8) kemarin. Pasca pengukuhan pengurus baru Badan Pimpinan Cabang (BPC), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) periode 2017-2022, mereka tampil sebagai wayang orang. Lakonnya “Gatotkaca Winisudho”, didalangi langsung oleh Ketua PHRI BPC Malang yang baru, Dwi Cahyono.
Peran Gatotkaca diperankan secara apik dan gagah oleh Herman Marjono, mantan Ketua BPC PHRI Kota Malang. Wayang orang tersebut mengisahkan tentang sebuah kerajaan Pringgodani yang aman dan tentram kemudian menjadikan Gatotkaca sebagai seorang Raja. Namun, di tengah jalan, ada dayang yang tidak suka dan berusaha merebut tahta tersebut.
Para General Manager yang turun menjadi tokoh wayang. Antara lain Durno diperankan oleh Sudarsono ( Hotel De Warna), Sengkuni diperankan oleh Tjatur Priyo Sambodo (Hotel Margosuko), Brojomusti diperankan oleh Iskandar Sjah (Hotel Pelangi).
Serta Duryudana diperankan oleh Suswandi (Hotel Olino Garden), Dewi Arimbi diperankan oleh Cressentia (Hotel Tugu), Dewi Kunti diperankan oleh Ana Rakhmatussa'dyah (Sekolah Pariwisata).
Lalu ada Dewi Drupadi diperankan oleh Ratna Dwi Rachmawati (Hotel Aria Gajayana), Werkudara diperankan oleh Rusli Arsyad(Hotel Balava). Serta  Brojodento diperankan oleh Pujiono (Hotel Riche) dan Srikandi diperankan oleh Erni Kusuma (Hotel Menara).
Penampilan wayang orang tersebut ternyata dipersiapkan secara mendadak. Dwi Cahyono, selaku penggagas mengaku memberikan naskah secara mendadak dan mengharuskan mereka latihan. Itu pun hanya sempat tiga kali latihan saja.
Hasilnya, bikin ger..geran, sangat menggelitik para tamu undangan yang hadir. Para GM tersebut hampir semuanya lupa dengan naskah yang seharusnya dia bawakan. Sehingga mereka banyak melakukan improve yang akhirnya membuat para penonton terbahak. Apalagi, banyak di antara mereka bukan berasal dari Jawa dan tidak paham betul bagaimana berbahasa Jawa.
Awalnya, mereka sedikit malu-malu ketika berada di atas panggung. Sambil membawa naskah, mereka berusaha semaksimal mungkin memberikan penampilan terbaik. Saking groginya, ada salah satu pemain yang salah membaca naskah.
“Itu yang dibaca terlalu awal, seharusnya naskah itu dibaca setelah adegan ini,” teriak dalang yang diikuti dengan tawa penonton.
Tak jarang, setelah dalang membacakan narasi, para GM hotel tersebut terlihat sedikit terbata-bata ketika membacakan naskah lantaran takut salah. Hal tersebut yang membuat penonton semakin terbahak-bahak.
“Saya sudah bayangkan dan juga saya memaklumi. Latihannya juga hanya tiga kali. Saya kasih naskah, latihan seadanya,” ujar dia sambil tertawa.
Ada sekitar 25 orang pengurus yang dikukuhkan pada hari ini. Di antaranya Herman Marjono, dikukuhkan sebagai Penasehat PHRI, Dwi Cahyono sebagai Ketua, Ratna Dwi Rachmawati sebagai Wakil Ketua, Indra Eta Widianti sebagai Sekretaris dan Kustati Teguh Wiyono sebagai Bendahara.
Selain itu, dibentuk juga pengurus bidang Organisasi, MICE, Pendidikan, Perizinan, Humas, IT, Kerjasama dan juga bagian umum. Ketua BPC PHRI Kota Malang, Dwi Cahyono mengatakan Kota Malang merupakan salah satu primadona wisata di Indonesia. Oleh karena itu, kepengurusan PHRI yang saat ini di bawah komandonya tersebut diharapkan mampu mengembangkan segala sektor wisata yang ada di Kota Malang. Owner Rumah Makan Inggil tersebut mengatakan, dia akan memulai dengan mendata beberapa hotel dan restoran yang belum masuk menjadi anggota PHRI.
“Ada beberapa hal yang membuat mereka belum bisa masuk menjadi anggota kami. Dalam waktu dekat, kami akan melakukan pendataan dan identifikasi,” kata dia.
Selain itu, pihaknya juga mengaku akan merangkul Pemerintah Kota Malang dan juga berbagai instansi untuk pengembangan wisata. “Kami berharap, pemerintah bisa menjadi pertner jita untuk urusan pariwisata di bidang perhotelan agar tidak terjadi oversupply,” beber dia.
Tekait penambahan hotel dan kamar, Dwi mengatakan pihaknya dan pemerintah Kota Malang akan membuat kajian. “Kalau di zona kota, semua sudah padat, tidak memungkinkan untuk ditambah hotel lagi. Kalau di daerah Kota Malang bagian timur, masih ada sedikit lahan yang bisa ditambah hotel. Mengingat, disana adalah daerah dekat bandara,” beber dia.
Dalam kepengurusan baru ini, mereka akan fokus tentang bagaimana caranya menambah okupansi ketika low season (weekdays).
“Ketika weekend, semua hotel pasti penuh. Nah, ketika hari Senin-Kamis, semua lesu. Oleh karena itu, kami mengarahkan kepada pemerintah dan masyarakat, kalau bikin event sekitar hari Senin-Kamis saja, jadi keramaian bisa menyebar secara merata,” jelas dia.
Dwi menambahkan, pihaknya juga akan berkonsentrasi bagaimana caranya menambah long stay para wisatawan ketika berada di Kota Malang. “Rata-rata, mereka hanya satu setengah hari berada di sini. Padahal, setidaknya minimal mereka tiga malam berada di sini. Saat ini, Kota Malang memiliki 4.000 kamar hotel, akan menambah 2.000 kamar baru lagi, banyak hotel yang belum dibuka,” lanjut dia.
Lebih lanjut, Dwi membeberkan, city okupansi di Kota Malang masih berada di angka 50 persen. “Seharusnya ada di angka 70 persen. Oleh karena itu, kita harus bekerjasama untuk meningkatkan itu,” tambah dia.
Terkait Kota Malang yang mendapat predikat Kota Wisata Syariah, pihaknya mengaku sudah mempersiapkan beberapa hotel dan restoran. “Sudah ada beberapa yang kami siapkan. Toh sebelumnya sudah ada sebagian hotel dan restoran yang syariah, sebagian lagi masih konvensional. Butuh proses panjang menuju Kota Wisata Syariah,” tukas dia.
Dalam acara tersebut, PHRI BPC Malang mendapat kejutan dari BP2D dan Pemerintah Kota Malang. Mereka diberi penghargaan atas komitmen mereka dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah dari sektor pajak daerah.
Pada tahun 2016, target keseluruhan untuk pendapatan pajak hotel dan restoran. Dwi mengatakan, pada tahun 2016, target pajak untuk hotel sebesar Rp 27 miliar, realisasinya sebesar Rp 34 miliar. Sedangkan untuk restoran, target pendapatan pajak sebesar Rp 34 miliar dan realisasinya sebesar Rp 43 miliar.
“Ini berarti pendapatan pajak naik sebesar 124 persen dari target yang ditentukan. Kami optimis, tahun ini akan bisa melebihi target lagi,” tutur dia.
Sementara itu, Kepala Badan Pelayanan Pajak Daerah (BP2D), Ade Herawanto mengatakan pihaknya memberikan apresiasi kepada PHRI karena mereka dinilai berhasil menjadi wajib pajak yang taat dan tertib.
“Selain itu, mereka juga mendukung program-program kami dalam gerakan sadar pajak. Misalnya dengan memasang E-Tax yang sudah terpasang di hampir seluruh hotel dan restoran yang computerize,” terang dia.
Ade juga mengatakan, pada tahun 2017, berdasarkan Perubahan Anggaran Keuangan (PAK), total target pendapatan pajak sebesar Rp 352 miliar. Untuk target pendapatan hotel, sebesar Rp 37,2 miliar atau setara dengan 10,55 persen dari keseluruhan target. Sedangkan untuk restoran, sebesar Rp 44,98 miliar atau setara dengan 12,76 persen dari keseluruhan target. “Realisasinya hingga Agustus ini sudah mencapai 50 persen. saya optimis, jika ada kerjasama yang baik, target tersebut akan tercapai, bahkan lebih,” tandas Ade.(tea/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :