Jenazah ODHA Perlu Perlakuan Khusus


MALANG - Jumlah penderita HIV/AIDS semakin lama semakin bertambah. Penyakit yang masih belum ada obatnya tersebut bisa terjadi karena beberapa faktor dan berujung pada kematian. Jenazah penderita HIV/AIDS inilah yang memerlukan penanganan khusus.
Penanganan jenazah penderita Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di sosialisasikan TP PKK Kota Malang kepada para modin se Kota Malang, di gedung PKK Kota Malang kemarin.  Dokter spesialis penyakit dalam, Dr. Achmad Rifai, SpPD memberikan pengetahuan tata cara penanganan jenazah ODHA.
“Biasanya, warga yang meninggal akibat HIV/AIDS, keluarganya lebih memilih bungkam. Lebih baik, dicari tahu dulu dia sebelumnya dirawat di rumah sakit mana dan ruangan apa. Biasanya, pasien ODHA dipisahkan dengan pasien lain. Syukur-syukur kalau keluarganya mau terbuka dengan para modin jenazah,” terang dia.
Setelah itu menurutnya, pastikan terlebih dahulu jenazahnya sudah disucikan di rumah sakit atau belum. “Kalau sudah, ya nggak usah diapa-apakan lagi. Para ODHA tidak perlu otopsi ketika meninggal,” lanjut dia.
Ketika jenazah tersebut belum dimandikan, sudah kewajiban untuk memandikan jenazah. Dalam prosesnya, Dokter Rifai mengatakan harus menggunakan pelindung tubuh dari ujung rambut samapi ujung kaki secara lengkap.
“Seperti sarung tangan, kacamata, tutup kepala, masker, sepatu boot plastik, celemek dan kemudian sucikan seperti menyucikan mayat biasa,” jelas dia.
Sealin itu, para modin yang memandikan jenazah tersebut, juga harus menghindari cairan-cairan tubuh jenazah, seperti mani, darah dan lainnya. “Kalau melalui keringat, virus tersebut tidak bisa menular, justru cairan-cairan yang sudah saya sebutkan tadi itu yang menularkan. Nah, aliran darah harus dihindari dan juga harus ditutup,” lanjut dia.
Setelah selesai disucikan, jenazah tersebut disarankan dibungkus dulu menggunakan plastik baru kemudian dikafani. “Ini untuk memastikan kalau memang tidak ada bagian yang basah. Kondisi jenazah harus betul-betul kering,” papar dia.
Begitu selesai menunaikan kewajiban memandikan jenazah, dia menganjurkan seluruh atribut tersebut dilepas dan dimasukkan ke dalam kantong kresek tersendiri. “Kemudian dibuang ke sampah medis atau diberikan ke Puskesmas setempat agar dimusnahkan. Sedangkan baju yang dipakai, direndam dulu dengan klorin yang bersifat sebagai desinfektan baru kemudian dicuci,” tukas dia.
Dari data yang berhasil dihimpun oleh Malang Post, temuan kasus HIV/AIDS di seluruh Kecamatan di Kota Malang sejak tahun 2005-2016 cukup memprihatinakan. Untuk wilayah Kecamatan Blimbing, ada 272 kasus, Kecamatan Kedungkandang ada 128 kasus, Kecamatan Klojen ada 175 kasu, Kecamatan Sukun ada 198 kasus dan Kecamatan Lowokwaru ada 240 kasus. (tea)

Berita Terkait

Berita Lainnya :