Kedungkandang Sorotan Kasus Nikah Dini

MALANG - Kecamatan Kedungkandang masih jadi sorotan kasus nikah usia dini.  Faktor budaya menjadi salah satu penyebab utama selain karena kasus lain seperti hamil di luar nikah resmi. 
Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kedungkandang mencatat, nikah di bawah usia 18 tahun secara rata-rata meningkat. “Kadang meningkat. Kadang juga turun. Tapi ya memang segitu-gitu aja jumlahnya,” kata Puji, salah satu petugas fungsional bagian data di KUA  Kedungkandang. 
Untuk diketahui, Kecamatan Kedungkandang kerap disebut sebagai kecamatan penyumbang angka pernikahan dini yang besar di Kota Malang. Menurut data KUA Kecamatan Kedungkandang per Januari 2019 ini terdapat satu pernikahan dengan usia pengantin d ibawah 18 tahun datang dari Kelurahan Lesanpuro. 
Sementara angka pernikahan di bawah usia 18 tahun di 2018 lalu sebanyak 13 pernikahan. Pasangan pengantin datang dari kelurahan Bumiayu, Lesanpuro  dan Cemorokandang.
Angka pernikahan dini pada tahun 2018 di Kecamatan Kedungkandang memang cenderung meningkat jika dibandingkan tahun 2017. Menurut catatan, pernikahan usia dini di kecamatan ini pada 2017 sebanyak 11 pernikahan. 
 “Ya memang banyak yang datang menikah karena sudah hamil duluan. Tetapi banyak juga yang tidak. Biasanya karena memang budaya (suku tertentu,Red) di sini untuk menikahkan anak di usia muda” tegas Puji.
Meski begitu semua yang ingin nikah tetapi di bawah umur haruslah melewati prosedur. Yakni melalui persidangan di Pengadilan Agama (PA). Usai diputus dan mendapatkan surat keputusan dispensasi kawin maka barulah kembali ke kecamatan untuk melangsungkan pernikahan tersebut.
“Memang kecamatan ini relatif banyak daripada kecamatan lainnya. Jika dibandingkan dengan Klojen sangat berbeda,” tutur perempuan yang sempat bekerja pula di KUA Kecamatan Klojen ini. Hal ini dikarenakan jumlah penduduk yang berbeda hingga masalah jenjang pendidikan yang didapatkan warga di kecamatan yang berbeda. 
Sementara itu di KUA Kecamatan Klojen, memang benar sangat signifikan perbedaanya. Menurut data KUA Kecamatan Klojen per Januari 2019 ini pernikahan usia dini hanya dilakukan satu pasangan saja berasal dari Kelurahan Penanggungan.
Sementara tahun 2018 lalu angka pernikahan usia dini di wilayah Klojen hanya satu saja jumlahnya berasal dari Kelurahan Rampal Celaket. Sedangkan di tahun  2017 lalu angka pernikahan dini  berjumlah satu saja yakni dari Kelurahan Klojen.
Kepala KUA Kecamatan Klojen Ahmad Syaifudin SH menjelaskan Klojen memang tidak banyak memiliki angka pernikahan dini. Hal ini berkaitan dengan jumlah penduduk yang relatif lebih sedikit dari kawasan kecamatan lainnya juga karena pendidikan.
“Di sini tidak banyak karena ya banyak pendatang dan mahasiswa kan. Dan memang lebih memiliki jenjang pendidikan tinggi. Juga penduduk di sini tidak lebih banyak dari kecamatan lain” pungkasnya.  
Sementara itu, setidaknya terdapat enam  permohonan dispensasi kawin masuk dalam berkas perkara Pengadilan Agama tahun ini. Hal ini dianggap sebagai angka rata-rata permohonan perizinan pernikahan usia dini tiap bulannya di Kota Malang.
Hal ini disampaikan Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama (PA) Malang Kasdullah SH MH. Meski begitu permohonan dispensasi kawin ini belum dapat diputuskan diterima atau tidak karena masih berproses. 
“Rata-rata yang seperti itu jumlahnya tiap bulan. Karena tahun 2018 saja ada 82 dispensasi kawin yang diputus” ungkapnya.
Dispensasi kawin diajukan bagi pemohon yang hendak melaksanakan pernikahan akan tetapi terganjal salah satu syarat yang tidak dapat dipenuhi yakni batas minimal umur. Diungkapkan kebanyakan dispensasi kawin diajukan karena pemohon sudah hamil duluan.
Alasan paling banyak adalah hal tersebut. PA Kota Malang biasanya mengabulkan permohonan dispensasi kawin ini karena alasan tersebut. Karena memang sudah dalam kondisi hamil sang pemohon perempuannya. 
“Ya tidak bisa dipungkiri karena pergaulannya. Lalu keluarga khawatir akhirnya ya dinikahkan saja” tegasnya. (ica/van) 
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :