Kenang Leluhur, Warga Jepang Ziarahi TPU Sukun

 
MALANG – Keberadaan tentara Jepang yang dikuburkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sukun tidak pernah dilupakan pemerintah Jepang. Seperti pada Sabtu (23/9) kemarin, melalui Konsulat Jenderal (Konjen) Jepang di Surabaya, mereka berziarah dan mengenang para leluhurnya di TPU Sukun. 
Di TPU Sukun, tidak hanya makan khusus nasrani saja, tapi juga banyak jasad tentera Jepang dan Belanda yang dimakamkan. Keigo salah satu staf konsulat Jenderal Jepang di Surabaya mengatakan, ziarah ini dilakukan rutin setiap tahun, untuk mendoakan para arwah tentara Jepang. 
”Jumlah yang dikuburkan di sini kami tidak tahu. Mereka meninggal antara tahun 1942-1945. Aktifitas ziarah ini digelar rutin sejak 1882 lalu, diawali oleh warga yang tinggal disini,’’ kata Keigo.
Ziarah ini sendiri dimulai sejak tahun 1982 lalu. Warga Jepang yang ada Jawa Timur mengumpulkan dana untuk menggelar kegiatan ziarah. Dari dana yang terkumpul saat itu, sebagian untuk membangun monumen di TPU Sukun.
Pada monumen tersebut selain ada kalimat yang ditulis dengan huruf kanji, juga ada kalimat yang ditulis dengan bahasa Indonesia. Kalimat yang ditulis dengan bahasa Indonesia ini berbunyi ’Beristirahatlah dengan tenang di Kota Malang yang indah dan tentram. Dalam kandungan negara sahabat Indonesia dan Jepang tetap damai dan makmur’.
”Kami kirimkan doa kepada mereka yang sudah meninggal,’’  tambahnya. 
Selain di TPU Sukun, warga Jepang ini juga melakukan ziarah di salah satu makam di Surabaya. Sama seperti di TPU Sukun, di Surabaya juga ada monumen untuk tentara Jepang yang meninggal saat pertempuran. 
Sementara itu Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT)  TPU Sukun Taqruni Akbar mengaku, salut dengan kedatangan warga Jepang yang melakukan ziarah di makam tentara Jepang.  Kedatangan mereka untuk berziarah ini patut diteladani.
”Ini patut dicontoh, dimana mereka tak lupa akan jasa para pahlawannya,’’ ucapnya.  
Selain itu Roni begitu dia akrab dipanggil menjelaskan TPU Sukun merupakan pemakaman peninggalan Zaman Belanda. Saat penjajahan dulu, TPU ini digunakan sebagai tempat pemakaman warga Belanda.
Namun kemudian, TPU ini juga menjadi pemakaman warga Jepang setelah Belanda pulang setelah kalah berperang. Namun begitu Jepang kalah bertempur dengan Indonesia mereka pulang. Dan TPU Sukun dijadikan, tempat pemakaman umum, untuk warga beragama Kristen.
”Sampai sekarang disini menjadi TPU Kristen,’’ ucapnya.
TPU ini berada di tanah seluas 14 hektare dan menampung ribuan makam. Ada empat bangunan di area makam ini. Salah satunya digunakan ruang perkantoran. Bangunan di makam ini tidak berubah sama sekali sejak zaman Belanda dulu.
Ciri khas bangunan ini sebagai peninggalan zaman Belanda sangatkan terlibat. Mulai dari lantai, pintu, maupun jendela. Lantai di bangunan perkantoran UPT TPU Sukun contohnya menggunakan ubin berwarna gelap dengan ukuran kecil. Sementara pintu dan jendelanya berukuran besar seperti yang terlihat di bangunan-bangunan rumah eks Belanda. (ira/adv/aim)

Berita Terkait