Korban Bertambah, Dua Siswa Melapor

Meski demikian, ketika ditanya balik tentang nasib dan dampak traumatis psikologis siswa SD andai benar dilecehkan oleh gurunya sendiri, para guru tak lagi bisa menjawab. Begitu informasi ini tersebar, semakin banyak wartawan datang. Pihak sekolah lalu menggembok gerbang sekolah, sehingga jurnalis tak bisa meminta konfirmasi soal isu tersebut.
Informasi ini sempat disebut hoax, sebelum akhirnya dua orang tua yang tak terima anaknya dilecehkan, mengadu ke Polres Makota pada Sabtu lalu. Laporan ini, sekaligus menegaskan bahwa isu yang sempat terkesan samar-samar, ternyata benar ada. Sebab, bukan satu saja siswa yang mengaku menjadi korban, melainkan dua.
Isu lain yang tersebar menyebut bahwa korbannya tidak satu dua orang saja, melainkan banyak siswa. Hanya, Polres Makota masih menerima dua laporan pengaduan.
“Sementara, yang melapor yang ditangani,” ujar Kasubbag Humas Polres Makota, Ipda Ni Made Seruni Marhaeni dikonfirmasi.
Dalam pasal 76E UU Perlindungan Anak, pelaku yang terbukti bersalah memaksa, melakukan tipu muslihat dan membujuk anak untuk membiarkan dilakukan perbuatan cabul, terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara.
“Kalau terbukti akan dihukum sesuai undang-undang yang berlaku,” tambahnya.
Apabila pelaku yang divonis bersalah adalah orangtua, wali, pengasuh anak, pendidik atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah sepertiga. Jika hakim memvonis guru pelaku cabul terhadap anak sejumlah 15 tahun, maka total hukumannya adalah 20 tahun.(fin/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :