Kumpulkan Kajian Bahas Problematika Kota


MALANG -- Pemkot Malang akan mengumpulkan berbagai penelitian untuk dibukukan dalam sebuah jurnal.  Jurnal yang berisi kajian ilmiah ini akan dijadikan referensi utama memecahkam problematika yang terjadi di Kota Malang.
Hal ini disampaikan Wali Kota Malang Drs H Sutiaji, Selasa (16/4) dalam Seminar Manajemen Pengelolaan Jurnal Evaluasi Kesiapan Sesuai Akreditasi Nasional dan Internasional di Hotel Savana.
"Selama ini implikasinya belum maksimal. Dan saya yakin akademisi pasti gelisah dengan problem yang ada di Kota Malang," kata Sutiaji.
Kajian  ilmiah produk dari perguruan tinggi di Kota Malang jumlahnya sangat banyak. Lokus penelitiannya diyakini tidak  jauh dari Malang. Karena itu,  kajian ilmiah yang berhubungan dengan infrastruktur seperti lalu lintas dan jalan pun sebelumnya sudah pernah dilihat Sutiaji. Saat ia berkonsultasi mengenai parkir atau lalin dan jalan Kota Malang.
" Tahun 2011, saya pernah berbincang dengan kawan Teknik UB, bahwa potensi parkir kita itu Rp 52 miliar. Itu dulu lho, sekarang dengan  banyaknya tempat parkir dan mahasiswa yang masuk akan lebih besar," imbuh orang nomor satu di Pemkot Malang ini.
Kajian  seperti inilah menurutnya, yang penting harus terpublikasikan hingga teraplikasikan secara nyata. Forum seminar  ini diharapkan dapat menampung berbagai kajian ilmiah yang relevan bagi problematika di Kota Malang. Untuk mempercepat pembangunan di Kota Malang.
Setelah terkumpul, kajian  ilmiah ini akan dimasukkan dalam Jurnal Ilmiah Kajian Perencanaan Pembangunan atau yang sering disebut Jurnal Pangripta Kota Malang.
"Kami tentunya akan cari yang memang bisa mengentas masalah infrastruktur seperti jalan, lalin dan parkir kita,” pungkasnya.
Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan (Barenlitbang) Kota Malang Erik Setyo Santoso menjelaskan, Kota Malang menjadi satu satunya daerah yang memiliki jurnal ilmiah milik Pemda sendiri. Hal ini diakui Erik sebagai terobosan  untuk mengumpulkan ide, inovasi dan referensi pembangunan di Kota Malang. Jurnal ini  sudah terbit dua kali sejak diluncurkan 2018 lalu. Tiap tahun akan diterbitkan dua  kali.
"Memang kita belum diakreditasi, tapi sudah masuk dalam International Standard Serial Number - ISSN (Nomor Seri Standar Internasional,red)," tandas Erik. (ica/aim)

Berita Terkait