Medsos Picu Meningkatnya Pernikahan Dini


MALANG – Pernikahan di usia muda Kota Malang meningkat dari tahun ketahun. Tahun lalu, jumlah pernikahan di usia 20 tahun ke bawah sebanyak 518. Di awal tahun ini dibandingkan dengan awal tahun lalu, jumlahnya juga meningkat.
Per Januari tahun ini, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Malang mencatat ada  59 pernikahan muda yang terjadi. Di bulan yang sama di tahun 2017 lalu, pernikahan muda tercatat sebanyak 47 pernikahan.
“Jumlahnya relatif meningkat setiap tahunnya, antara lain perubahan pola pikir anak muda, pengaruh lingkungan sampai penggunaan media sosial berlebihan,” kata Kasie Pelayanan KB Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Malang Tutik Istiyarini  kepada Malang Post, kemarin.
Ia menunjukan, data pernikahan muda di Kecamatan Klojen pada tahun 2017 di Bulan Januari, yang tercatat hanya 1 pernikahan. Sedangkan di bulan yang sama di tahun ini, Kecamatan Klojen tercatat ada 8 pernikahan usia muda.
Melihat fenomena ini Tutik menerangkan, jika saat ini sudah terjadi perubahan-perubahan sosial di kalangan muda, tidak lagi didasarkan pada culture saja.
“Kalau biasanya warga yang kawasan pinggiran erat dengan culture menikah muda karena ada pandangan-pandangan sosial tersendiri. Tapi orang kota biasanya tidak. Ini yang agak aneh, justru di masyarakat perkotaan angkatnya melonjak,” terang Tutik.
Pihaknya terus menyayangkan terjadinya pernikahan muda. Tutuk mengatakan usia tersebut sebenarnya sangat rentan. Banyak efek negatif yang dihasilkan antara lain, rentan terhadap KDRT, perawatan kesehatan bayi kurang karena pelaku menikah usia remaja cenderung tidak memiliki pemahaman merawat, serta untuk wanita rentan terkena kanker serviks.
“Usia ideal menikah untuk wanita 21 tahun dan pria 25 tahun,” terangnya.
Karena pada usia tersebut sudah siap secara fisik maupun psikis. Menurutnya penyebab tren tersebut juga dikarenakan remaja melakukan pergaulan bebas. Tidak lepas juga efek dari medsos yang berpengaruh.
Untuk menekan kenaikan angka pernikahan muda ini, pihaknya sudah melakukan berbagai cara. Salah satunya yaitu menurunkan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) dan Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD). Dirinya menjelaskan petugas PLKB di tiap kecamatan ada 47 orang dan untuk PPKBD yang ditempatkan tiap kelurahan ada 62 orang.
“Di tiap RW juga ditempatkan Sub PPKBD yang jumlahnya 855 orang,” tambahnya.
Nantinya petugas lapangan tersebut akan melaksananakan penyuluhan kepada masyarakat. Program penyuluhan yang dimaksud adalah Tri Bina yaitu Bina Keluarga Balita, Bina Keluarga Remaja, dan Bina Keluarga Lansia. “Dilakukan tiap bulan dan untuk remaja pelaksanaanya sendiri mengumpulkan seluruh remaja di wilayah yang sedang dilaksanakan penyuluhan itu,” paparnya.
Meskipun begitu dia pesimis bahwa apa yang dilakukannya dapat menekan tren kenaikan tersebut. Karena semuanya kembali lagi ke keluarga sebagai benteng utama mencegah hal tersebut. “Kita sudah melaksanakan tugas kita semaksimal mungkin,”pungkasnya. (ica/mg5/aim)

Berita Lainnya :