Memohon Keselamatan, Arak Tumpeng di Candi Badut


MALANG - Warga RW 05 Kelurahan Karangbesuki, Sukun menggelar ritual Arak Tumpeng di Candi Badut, Minggu (22/7) sore kemarin. Kegiatan melestarikan budaya ini tak memandang perbedaan agama dan budaya. 
Suwardi sesepuh warga mengatakan Arak Tumpang merupakan rangkaian selamatan desa. Digelar saban tahun secara rutin pada setiap Senin Wage, Bulan Selo penanggalan Jawa. ”Senin Wage Bulan Selo tahun ini jatuh pada hari ini. Kami mengambilnya saat pergantian hari,’’ kata Suwardi, kemarin.  Dia mengatakan, pergantian hari sesuai  penanggalan Jawa terjadi pada petang hari atau lebih dari jam 16.00.
Selamatan desa digelar untuk menghormati para sesepuh atau tokoh-tokoh yang melakukan bedah kerawangan. Ada enam tokoh bedah kerawangan. Yakni Mbah Umbul Jeni, Mbah Ngenten, Mbah Singo Barong, Mbah Joko Dolog, Mbah Suku Bali Dongas dan Den Bagus Sapu Jagat.
Selain untuk menghormati para sesepuh, selamatan desa juga sebagai wujud rasa syukur. Sebab selama ini mereka mendapatkan perlindungan Allah SWT. ”Melalui selamatan desa ini juga kami memohon perlindungan agar diberi keselamatan, tidak ada bencana ataupun tidak ada musibah yang terjadi,’’ kata Wardi, sapaan akrab Suwardi. 
Menariknya, selamatan desa ini tak memandang perbedaan. Siapapun, beragama apapun, berasal dari mana saja, semuanya bisa ikut. Termasuk dalam acara Arak Tumpeng di Candi Badut. ”Gak ada perbedaan di sini. Karena tujuan kita semuanya sama, yaitu memohon keselamatan,’’ ucap pria berusia 82 tahun ini.
Ritual dikatakan Wardi diawali dengan warga datang ke Candi Badut membawa ’ancak’ atau makanan yang dibawa oleh warga. Mereka yang datang umumnya kaum pria dengan mengenakan sarung. Sedangkan warga yang beragama lain datang dengan menggunakan pakaian sopan. Ancak kemudian dikumpulkan bersama-sama lalu didoakan. Doa dipimpin oleh sesepuh warga sekitra 30 menit. 
Setelah itu warga pun kembali ke rumah mereka masing-masing. Beberapa dari mereka membawa kembali ancak. Namun banyak juga yang tak membawa pulang alias memberikan ancak kepada pengunjung. 
Kegiatan Arak Tumpeng ini disaksikan dua mahasiswa UMM asal Palestina. Mereka mengabadikan seluruh momen ritual tersebut dengan sangat semangat.
Hartono, salah seorang warga mengatakan, biasanya ancak dimakan bersama-sama. Selain itu juga bertukar ancak. Warga asli Kelurahan Karangbesuki ini mengatakan bersih desa merupakan kegiatan rutin yang digelar warga. ”Sejak saya belum lahir sudah ada ini. Tujuannya berdoa untuk keselamatan,’’ ungkapnya. 
Hartono juga mengatakan Arak Tumpeng merupakan kegiatan pembuka selamatan desa. Setelah acara tumpengan massal itu digelar di Candi Badut, malam harinya juga ada syukuran di balai RW. (ira/van) 
 

Berita Terkait