Mendesak, Kondisinya Memprihatinkan


MALANG – Sejumlah pedagang Pasar Blimbing berharap pembangunan pasar terealisasi tahun ini. Tingkatannya sudah mendesak, sebab kondisi pasar yang sangat memprihatinkan. Mereka setuju pembangunan terealisasi jika seluruh syarat pedagang terpenuhi.
Abdul Rohim salah satu pedagang pasar Blimbing mengatakan, sejak dibangun tahun 1975 an, tak ada lagi pembangunan di Pasar Blimbing. Lamanya waktu itupun menggerogoti kontruksi bangunan pasar. Atap pasar sudah sangat rusak parah. Ditambah dengan kondisi lantai pasar yang tak karuan.
”Kalau hujan bocor, dan jalannya pasti becek. Melihat kondisi ini, kami para pedagang pun setuju ada pembangunan. Namun begitu syarat yang kami (pedagang) ajukan pun harus dipenuhi,’’ ungkapnya.
Penjual sandal ini mengatakan, ada beberapa syarat yang diajukan pedagang kepada investor. Dan syarat-syarat tersebut telah dibahas pada beberapa pertemuan, antara pedagang, dengan investor yang difasilitasi oleh Pemkot Malang dan disaksikan oleh anggota DPRD Kota Malang.
Syarat-syarat yang diajukan tersebut, kata Abdul Rohim agar dimasukkan dalam perubahan Perjanjian Kerjasama (PKS) Pembangunan Pasar Blimbing.
”Ya itu, kami menunggu. Intinya jika syarat tak dipenuhi, ya biarlah kami di sini saja,’’ katanya. Dia menambahkan, Pasar Blimbing menampung 2.220 pedagang.
Perkataan yang sama diucapkan Sumadi, pedagang kelontong Pasar Blimbing. Sebagai pedagang yang menempati pasar Blimbing sejak tahun 1980 dia sangat setuju adanya pembangunan direalisasi tahun ini. Sumadi mengatakan jika dengan pembangunan, Pasar Blimbing pun akan lebih bagus.
Ditambah dengan penataan yang maksimal, maka Pasar Blimbing tak sekadar sebagai kawasan  jual beli, atau bertemunya pedang dengan pembeli. Tapi juga menjadi destinasi, yang menarik wisatawan di Kota Malang.
”Pastinya kan begitu. Jika dibangun pasti kondisi pasar lebih bagus, tak kumuh, dan tak bocor. Tapi demikian, sebelum membangun, syarat-syarat yang kami (pedagang) ajukan  harus ditepati, tanpa kurang satupun,’’ ungkapnya.
Sumadi mengatakan jika syarat tersebut  tak dipenuhi, maka akan sangat merugikan pedagang. Salah satu yang merugikan adalah luasan lapak yang diterima pedagang. Di mana Sumadi menjelaskan, lapak atau kios yang saat ini ditempati luasnya adalah 4 x 2 meter persegi. Tapi dalam site plan, luasan lapak yang diterimanya adalah 3 x 2 meter persegi.
”Seperti itu contohnya, kan itu merugikan,’’ ucapnya.
Dia pun menguraikan, jika definisi pembangunan adalah memperbaiki. Dan dari perbaikan itu berdampak pada kesejahteraan para pedagang, serta kenyamanan kepada pengunjung. ”Lha kalau awalnya kami dirugikan, terus bagaimana nasib kami. Itulah yang membuat kami meminta syarat yang diajukan pedagang itu direalisasi,’’ bebernya.
Sumadi sendiri merupakan penerus bisnis dagang dari kedua orang tuanya. Sehingga dengan adanya rencana pembangunan itu, dia pun sekuat tenaga tetap bertahan, sebelum semuanya jelas.
”Kalau investor kan inginnya cuma profit saja. Sedangkan kami. Pasar ini merupakan hidup kami, makanya kami pun bertahan, sebelum nota perubahan perjanjian kerjasama terealisasi,’’ tegasnya.
Disinggung poin apa saja yang ditambahkan pedagang sebagai syarat, Sumadi pun meminta Malang Post bertanya kepada Ketua Paguyuban atau kepada Ketua Tim 7 Pasar Blimbing. ”Itu yang lebih paham yang ikut rapat. Kebetulan saya tidak ikut, jadi gak hafal poin-poinnya,’’ tandasnya. .
Tak hanya pedagang yang setuju pembangunan pasar. Pembeli di Pasar Blimbing pun mengatakan hal yang sama. Mereka pembangunan Pasar Blimbing ini untuk menghilangkan kesan kumuh. ”Kalau selesai hujan jalanan di pasar ini becek sekali. Kami pun sangat tidak nyaman,’’ kata Anisa Dian.
Terlebih penataan di Pasar Blimbing juga belum maksimal, sehingga itu mengurangi kenyamanan tak hanya pedagang, tapi juga pembeli. ”Operasional di Pasar Blimbing ini 24 jam. Jadi kalau ada pembangunan dan semua fasilitas diperbaiki, saya sangat yakin pasar ini akan sangat maju,’’ tandas warga Jalan Borobudur ini.(ira/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :