Netizen Diajak Santun Bermedia Untuk Pemilu Damai


MALANG - Para milenial dan netizen tidak usah bingung menghabiskan waktu malam minggu. Cukup datang ke Gedung Kesenian Gajayana, Sabtu (15/3) , mulai sekitar jam 19.00, untuk menambah ilmu. Untuk mewujudkan pemilu damai, Kaukus Media dan Pemilu, bekerjasama dengan Dirjen IKP Kemenkominfo, Polri dan PWI Malang Raya, menyelenggarakan kegiatan bertajuk Santun Bermedia Untuk Pemilu Damai.
Penanggung Jawab Kaukus Media dan Pemilu, Agus Sudibyo mengungkapkan, acara tersebut dimulai sekitar pukul 19.00. "Nantinya, akan ada beberapa tokoh media dan juga narasumber yang hadir," terang dia kepada Malang Post.
Beberapa undangan yang hadir, diantaranya adalah Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Yadi Hendriana, Ketua Dewan Pers, Yoseph Stanley Prasetyo, Menkominfo, Rudiantara, Kadiv Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera dan Sudjiwo Tedjo.
Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan pentingnya profesionalisme, independensi dan netralitas dalam Pemilu. “Yang tak kalah penting, untuk para netizen supaya bijak bermedia sosial. Kemudian, tidak ikut menyebarkan pesan-pesan politik yang dapat memecah-belah masyarakat melalui media sosial,” terang dia.
Momen pesta demoikrasi tersebut, lanjut dia akan menentukan perjalanan bangsa Indonesia dalam lima tahun ke depan. “Bukan hanya pemilihan presiden dan wakil presiden saja yang kita hadapi, melainkan juga pemilihan legislatif secara serentak,” papar dia.
Sehingga, sangat penting untuk terus menjaga semangat persaudaraan dan kerukunan bangsa. “Berbeda pilihan boleh, berbeda pandangan politik juga wajar. Namun yang paling penting adalah bagaimana tetap menjaga toleransi, kebersamaan dan semangat saling menghormati dalam perbedaan itu,” tegas dia.
Oleh karena itu, unsur masyarakat dan media memberikan andil untuk menjaga suasana yang kondusif. “Perlu dijaga agar ruang media tidak menjadi sarana provokasi dan pecah-belah masyarakat. Pers tidak boleh terseret dalam perkubuan politik. Serta tetap menampilkan pemberitaan yang berkualitas, obyektif dan independen,” papar dia.
Selain itu, peran generasi milenial dan netizen juga merupakan hal yang sangat penting. Sebab, mereka merupakan penerima tongkat estafet kepemimpinan bangsa. Oleh karena itu, harus mulai bijak ketika menggunakan media sosial. “Mereka perlu menunjukkan karakter generasi penerus bangsa yang santun dan penuh bertanggung jawab, termasuk ketika di ruang media sosial. Jangan sampai yang terjadi justru sebaliknya, media sosial berperan memperkeruh keadaan,” tegas dia.
Agus berharap, seluruh anak-bangsa bisa menjadikan media sosial sebagai mode komunikasi dan interaksi sosial. Serta berpijak pada etika dan kepantasan di ruang publik. “Di tengah-tengah persoalan hoax, fakenews dan ujaran kebencian, perlu kiranya semua netizen senantiasa menjalankan media sosial dengan sikap bertanggung-jawab dan peduli terhadap sesama,” tandas dia.(tea/aim)

Berita Terkait

Berita Lainnya :