Ngaji Online Boleh, Asal Punya Guru Bersanad Pada Kanjeng Nabi


MALANG – Teknologi informasi kian berkembang pesat. Banjir informasi pun menenggelamkan mereka yang tak memiliki pelampung dan kapal bernama pengetahuan serta ilmu. Habib Asadullah bin Alwi Alaydrus, pengasuh ponpes Darut Ta’lim Wad Dakwah Bumiayu serta Majelis Ta’lim Al-Islamy mengatakan, banjir informasi zaman now sudah membutakan begitu banyak anak muda dalam kesesatan ajaran.
Habib Asad memaparkan, generasi muda masa kini mengantongi pendidikan adat dan sopan santun yang berbeda dengan generasinya dahulu. Begitu juga, gelimang informasi era dahulu sangat berbeda dengan banjir informasi saat ini. Hal ini yang membuat banyak perubahan dalam upaya para ulama untuk menjaga generasi muda Islam dari pengaruh perkembangan zaman.
“Kita sekarang semakin menyelami apa yang terjadi di generasi muda Islam. Banyak informasi masuk, banyak bahasa gaul masuk. Kita tidak bisa berdakwah dengan sistem yang lama. Kita harus merangkul dan mengangkat mereka, sehingga dakwah lebih mudah berjalan,” jelas Habib Asad kepada Malang Post, ditemui di kantor Majelis Ta’lim Al-Islamy Jalan IR Rais, Tanjungrejo Sukun.
Hal pertama yang diselami dengan seksama oleh Habib Asad adalah dorongan generasi muda zaman sekarang untuk mencari semua yang instan. Generasi muda yang tak hanya gemar hal instan dalam hal simpel seperti makanan. Perihal pendidikan, konsumsi informasi hingga penggunaan teknologi pun terpengaruh kebiasaan instan.
“Mereka inginnya belajar ringkes, ingin tahu tentang sesuatu secara cepat, tangkap informasi instan. Cara belajar pun instan. Harus dipahami, bahwa segala sesuatu yang instan itu tidak baik. Boleh mencari informasi atau ngaji lewat internet, tapi harus punya sandaran yang kuat,” ungkap Habib berusia 41 tahun tersebut.
Menurut putra keempat dari Al Habib Al Allamah Al Ustadz Alwi Bin Salim Alaydrus ini, sandaran anak muda dalam ngaji adalah seorang guru. Habib Asad mengatakan pengajar tersebut harus bersanad pada Nabi Muhammad SAW. Dengan kehadiran seorang guru, seorang pemuda Islam tak akan tenggelam dan banjir informasi yang luar biasa di dunia ini.
“Ngaji apapun silakan, tapi harus memiliki guru bersanad, sambung menyambung ilmu sampai kanjeng Nabi. Ketika ngaji di media sosial internet tanpa bimbingan guru secara face to face, itu tak ubahnya mengaji pakai hawai napsu, memahami hal yang sekehendak hatinya sendiri,” sambung Habib Asad.
Para peserta pengajian online tanpa guru yang bersanad pada Nabi Muhammad SAW inilah, yang menurut Habib Asad , berpotensi disesatkan oleh radikalisme dan ajaran menyimpang. Karena, bimbingan seorang guru secara nyata dan face to face, bisa mencegah seorang santri maupun pemuda islam untuk menelan mentah-mentah informasi tidak jelas dari media sosial.
Habib Asad menjelaskan, dalam pengajian majelis, peserta bisa bertanya secara langsung tentang hal-hal yang tidak dipahami tentang kehidupan dan persoalan hidup kepada seorang guru.
“Jangan pernah menelan informasi yang mentah dan tidak jelas dari media sosial. Harus selektif, misalnya ustadz dengan akun medsos yang sudah jelas, banyak kok ustadz yang masyaallah dan dakwahnya menyebar di media sosial,” sambung Koordinator GAMAL itu.
Habib Asad menambahkan, Malang memiliki begitu banyak majelis ta’lim dan pengajian yang genah dan Masya Allah. Majelis yang nyata dan bisa ditemui secara langsung, merupakan jawaban bagi para pemuda pemudi Islam yang merindukan ilmu kehidupan dan jalan hidup yang tak disesatkan banjir informasi media sosial.
“Cari yang real, yang nampak dan bisa didatangi langsung. Banyak kok majelis yang Masya Allah, orang-orangnya pun genah. Banyak majelis di Malang yang bisa membuat kita ingat kepada Allah. Itu tips dari ulama tasawuf, majelis yang diridhoi adalah yang bisa bikin kita ingat Allah,” tutup Habib Asad.(fin/bersambung/ary)