Pancasila Bukan Pilar, Tapi Dasar Negara

 
MALANG - Setelah melewati kajian dan pergumulan ideologi, Drs Peni Suparto MAP menegaskan Pancasila sudah final sebagai dasar negara. Buah pikiran yang sudah lama digagas Wali Kota Malang ke 16 itu pun dibukukan dengan judul, ‘Pancasila Dasar Negara Sudah Final’. Wali kota dua periode ini menegaskan bahwa Pancasila bukan pilar melainkan dasar negara. 
Buku yang ditulis wali kota Malang periode 2003-2008 dan periode 2008-2013 itu diluncurkan Rabu (23/8) malam di Hotel Regent. Selain Inep, sapaan akrab Peni Suparto 
menjadi pembicara, peluncuran buku tersebut juga menghadirkan cendekiawan muslim yang juga mantan Rektor UIN Maliki, Prof Dr Imam Suprayogo sebagai pembicara. 
Berbagai kalangan antusias mengikuti bedah pemikiran Inep tentang ‘Pancasila  Dasar Negara Sudah Final’. Mereka berasal dari kalangan akademisi, masyarakat lintas etnis, agamawan, budayawan, aktivis pergerakan dan pengurus parpol. 
“Beberapa waktu lalu kita tahu ada sebuah pernyataan yang menghembuskan bahwa Pancasila adalah pilar negara. Dari sini saya resah. Pancasila bukan pilar, pancasila adalah dasar negara. Dasar pilar-pilar itu sendiri,” tegasnya. 
Ia kemudian mengungkapkan, jika pernyataan tersebut tidak diluruskan dan dicerna dengan baik, Pancasila praktis akan disamakan dengan pilar-pilar lain. Menurut mantan anggota DPR RI ini, Pancasila tidak sejajar dengan ideologi apapun. Hal ini diyakininya karena Pancasila sudah dianut oleh bangsa Indonesia jauh sebelum teknologi ditemukan. 
“Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke situs Gunung Padang di Jawa Barat. Ada sebuah situs megalitikum yang menurut peneliti umurnya lebih dari 14 ribu tahun. Di sana saya melihat struktur batu situs sangat besar kemungkinan dikerjakan penduduk jaman dahulu secara gotong royong,” paparnya. 
Inep melanjutkan, sistem gotong royong yang merupakan inti nilai Pancasila sudah dimaknai oleh penduduk Indonesia jauh sebelum menemukan sistem teknologi. Pasalnya, situs itu berbentuk undak-undakan lima tingkat dengan susunan batu. Artinya,lanjut Inep, orang jaman dahulu sudah menerapkan konsep gotong royong untuk membawa batu tersebut sampai ke Gunung Padang. 
Tidak hanya itu saja, Inep juga menemukan terapan nilai Pancasila di situs petilasan Ratu Boko di Jogjakarta. Di situs ini, pada puncaknya terdapat area kosong dengan tumpukan batu di tengah seperti area pemujaan.
“Situs ini berada di area perbukitan, ketika sampai di tempat pemujaan tersebut akan terlihat pula bintang-bintang di langit. Ini dapat disimpulkan bahwa orang jaman dahulu sudah mengetahui bahwa terdapat sebuah kekuatan maha dahsyat di atas segalanya yang patut dihormati. Ini juga nilai pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa,” jelas mantan dosen IKIP Negeri Malang ini. 
Inilah mengapa, Inep  terinspirasi untuk membuat karya buku tersebut. Buku karyanya itu dikirim ke DPR/MPR di Jakarta. Ia berharap pejabat-pejabat negara mengingat kembali nilai penting Pancasila yang tidak dapat diutak-atik. 
Prof Dr Imam Suprayogo mengapresiasi peluncuran buku karya Peni Suparto. Menurutnya, apa yang dilakukan tokoh nasionalis itu  dapat membangkitkan kembali jiwa nasionalisme warga.
“Mengupas nilai Pancasila bukan hanya dari luarnya saja. Tetapi buku ini juga mengajak pembaca melihat lebih dalam nilai Pancasila, bahwa Pancasila adalah paham dasar dari segala paham yang diterapkan di Indonesia,” tandasnya.
Ia bangga karena Inep masih produktif menulis buku, menghasilkan karya literatur yang kritis. Imam mengungkapkan hal ini membuktikan bahwa semangat nasionalisme dan kontribusi dapat terus dilakukan seseorang tanpa terbatas apapun.
Dia  berharap apa yang diulas dalam buku tersebut dapat memberikan pencerahan. Khususnya bagi generasi penerus untuk tetap berkarya kepada bangsa Indonesia. (ica/van) 

Berita Terkait

Berita Lainnya :