Pansel Cari Pimpinan KPK di Malang


MALANG - Panitia seleksi (pansel) calon pimpinan (capim) KPK mencari figur pemimpin lembaga antirasuah itu hingga ke Malang. Rabu (19/6) giliran pansel capim KPK, Hendardi SH sosialisasi di Universitas Brawijaya (UB).  Salah satu pegiat antikorupsi Malang, Luthfi Kurniawan sedang bersiap mendaftar sebagai capim KPK.
Upaya mencari figur dari Malang itu dikemas melalui sosialisasi dan diskusi yang digelar di Fakultas Hukum (FH) UB. Diharapkan semakin banyak calon berkapasitas dan berintegritas dari daerah yang mendaftar.
Hendardi mengatakan, pansel datang ke daerah-daerah termasuk di Malang untuk mendorong mereka yang berkompeten mendaftar sebagai capim KPK. Yakni berkompeten di bidang hukum, ekonomi, keuangan, dan perbankan.
 “Kami berupaya menjemput bola, karena tokoh-tokoh dari daerah penting untuk didorong meskipun kita tidak bisa menjanjikan apa-apa,” lanjut Hendardi.
Saat ini, terdapat 11 orang yang mendaftar di pansel.  Namun ia belum mengetahui secara rinci  latar belakang maupun nama-nama dari 11pendaftar tersebut. Sebab mereka mendaftar melalui email, mengirim berkas melalui pos, dan juga ada yang datang langsung ke KPK.
 Dengan menggandeng sejumlah elemen seperti perguruan tinggi dan MCW, pansel terus mensosialisasikan pembukaan seleksi calon pimpinan KPK. Selain itu juga bekerjasama dengan sejumlah lembaga lain seperti BNPT, BIN, dan juga BNN. Tujuannya untuk menggali rekam jejak para calon pemimpin KPK.
Namun demikian, pansel menegaskan tidak menghendaki intervensi dalam bentuk apa pun dari lembaga-lembaga tersebut. "Kami tidak menghendaki ada semacam intervensi apa pun termasuk ideologis, kerja sama seperti dengan BNPT hanya terkait dengan persoalan terorisme radikalisme," imbuh Hendardi.
Sedangkan menggandeng BNN bukan hanya melihat apakah para calon yang telah mendaftar merupakan pengguna narkoba atau bukan. Namun juga melacak apakah para calon tersebut terkait dengan sindikat perdagangan narkoba atau tidak.
Dekan FH UB, M. Ali Safa’at mengatakan, kedepannya para pimpinan KPK harus sudah siap menerima warisan persoalan dari masa kepemimpinan saat ini. Mereka harus bisa mengelola persoalan agar bisa memberikan tindakan yang tepat pada pemberantasan korupsi.
Tak hanya itu, KPK yang sejauh ini dikenal sebagai institusi pelopor pemberantasan korupsi dinilai belum mampu menularkan budaya anti korupsi pada institusi lainnya. Kemudian kecenderungan KPK sejauh ini hanya pada penangkapan kasus korupsi yang sudah terjadi, dan minimnya upaya antisipasi.
“Calon pemimpin KPK tak hanya fokus pada institusinya, tetapi bisa menularkan itu kepada lembaga lain, baik dalam rangka pencegahan maupun dalam rangka penindakan,” jelasnya.
Lebih lanjut Ali berharap dua pegiat antikorupsi di Kota Malang ikut seleksi capem KPK. Yakni pendiri MCW, Luthfi J. Kurniawan dan guru besar ilmu etika bisnis dan profesi UB,  Prof. Dr. Unti Ludigdo. "Mereka memiliki track record yang berintegritas dan kemampuan dalam pemberantasan korupsi," kata Ali.
Luthfi yang dihubungi terpisah mengaku sedang mempersiapkan berkas pendaftaran capem KPK. "Ya saya InsyaAllah (mendaftar). Semoga waktunya nutut mempersiapkan berkas-berkasnya. Saya sedang persiapkan dan istikharah untuk memutuskan hal penting untuk negara," terangnya.
Luthfi menyampaikan bahwa ia ingin berkontribusi untuk perbaikan, percepatan pemberantasan korupsi dan pencegahannya yang melibatkan masyarakat secara langsung. (mg3/van)

Berita Terkait