Perempuan Harus Menjadi Pemilih yang Cerdas

PENDIDIKAN POLITIK: Wali Kota Malang Sutiaji memberikan pendidikan politik kepada perempuan untuk peningkatan partisipasi politik masyarakat dalam pemilu, khususnya kaum hawa.
 
 
MALANG – Partisipasi pemilih perempuan pada Pemilu 17 April mendatang harus lebih meningkat dari sebelumnya. Apalagi jumlah pemilih perempuan lebih banyak dari kaum pria. Agar dapat memilih legislatif dan eksekutif yang berkualitas pemilih perempuan harus cerdas dalam memilih.
Ketua TP PKK Kota Malang, Widayati Sutiaji menjelaskan, partisipasi politik dalam negara demokrasi merupakan indikator implementasi penyelenggaraan kekuasaaan negara tertinggi yang absah oleh rakyat. Pemilihan umum dapat dikatakan sebagai salah satu sarana demokrasi dan bentuk perwujudan kedaulatan rakyat untuk menghasilkan wakil rakyat dan pemimpin yang aspiratif, berkualitas, serta bertanggung jawab untuk mensejahterakan rakyat. "Untuk itu diperlukan partisipasi politik sejati seluruh rakyat, tak terkecuali kaum perempuan," ujar istri Wali Kota Malang Sutiaji dalam kegiatan Peningkatan Partisipasi Politik Masyarakat Dalam Pemilu Bagi Pemilih Perempuan di Ruang Mahoni Hotel Savana Kota Malang, Rabu (13/3) kemarin.
Hadir pula pada kegiatan tersebut Wakil Ketua I TP PKK Kota Malang, Hj. Elly Estiningtyas Sofyan Edi, Wakil Ketua II TP PKK Kota Malang sekaligus Ketua Dharma Wanita Persatuan Kota Malang, Hj. Endang Wasto, serta para anggota GOW Kota Malang. 
Dalam acara yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Malang tersebut, penasehat Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Malang itu menyebutkan, partisipasi pemilih perempuan dalam pemilu masih sangat rendah. Padahal dari aspek regulasi, sistem pemilu dan data-data tentang pemilih perempuan itu menunjukan bahwa perempuan memiliki kesempatan dan peluang yang sama. 
Untuk memberdayakan perempuan sebagai pemilih mandiri yang dapat menjadi subjek dalam pemilihan umum, diperlukan pendidikan politik bagi perempuan. Pendidikan yang membuat perempuan menyadari hak-hak politik yang dimilikinya dan menjadikan laki-laki terutama suami atau ayah mereka lebih menghargai dan menghormati hak-hak politik perempuan. “Sehingga perempuan sebagai pemilih dapat sungguh-sungguh menjadi subjek,” terangnya.
Wali Kota Malang Sutiaji menambahkan, perempuan harus menjadi pemilih yang cerdas. Meski dalam memilih perempuan  tidak mengandalkan logis, tapi perasaan dalam memilih. Karena itu, wali kota mendorong para perempuan untuk menjadi pemilih yang cerdas dan mengutamakan azas-azas pemilu dalam proses pesta demokrasi mendatang.
“Memilih jangan dasarnya uang, kalau itu mereka yang jadi nantinya akan berpikiran bagaimana mengembalikan uangnya,” terang Sutiaji.
Ditambahkannya, minimal ada tiga syarat memilih calon atau pemimpin dalam Pemilu, yakni kompetensi, integritas dan moral. Pemilih perempuan harus menjadi pemilih andalan yang cerdas. (aim)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :