PKK Fokus Tangani Stunting


MALANG - Masalah stunting dan menjadi pokok bahasan utama Tim Penggerak (TP) PKK Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim), saat melakukan pertemuan bersama seluruh TP PKK kota/kabupaten wilayah III Jatim di Kantor Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Jatim, di Jalan Simpang Ijen.
Stunting sebuah kondisi di mana tinggi badan seseorang jauh lebih pendek dibandingkan tinggi badan orang seusianya. Ketua TP PKK Jatim, Arumi Bachsin mengatakan, delapan juta anak di Indonesia mengalami pertumbuhan tidak maksimal.
"Delapan juta, yaitu 1 dari 3 anak di Indonesia mengalami stunting," kata Arumi kepada Malang Post, Jumat lalu.
Dijelaskannya, stunting terjadi karena banyak para ibu yang tidak memperhatikan dengan baik asupan gizi yang diberikan kepada janinnya saat mengandung. Stunting akan terjadi sejak dalam kandungan dan akan saat bayi berusia 2 tahun.
Perempuan kelahiran 1994 ini mengatakan, stunting dapat dicegah dengan cara memberikan MPASI dan ASI, aktif memantau pertumbuhan bayi melalui posyandu, dan memastikan air dan sanitasi yang digunakan dan dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari higienis.
“Ini masalah serius, ibu-ibu harus benar-benar memperhatikan pencegahannya,” ujar Arumi.
Secara nasional pemerintah Indonesia telah memberikan perhatian khusus dalam menangani masalah ini. salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengintervensi lembaga pendidikan agar memberikan perhatian khusus kepada anak stunting.
“Kita berikan edukasi tentang kesehatan reproduksi, serta bentuk konselor sebaya untuk membahas seputar perkembangan remaja,” ucap arumi.
Selain itu, TP PKK Pemprov Jatim juga mengintervensi lembaga pendidikan PAUD, agar isu-isu stunting dipahami oleh para pengajar. Sehingga, dapat berpengaruh terhadap perlakukan yang diberikan kepada anak didiknya.
Selain itu juga memberikan program kelas calon pengantin (catin), kepada masyarakat agar ketika sudah menikah, pasangan pengantin dapat benar-benar memahami pola pemeliharaan reproduksi dan pola penjagaan konsumsi keluarga.
“Di Jatim banyak anak nikah muda. Mereka belum memahami dengan benar cara-cara mencegah stunting,” kata Arumi.
Ketua TP PPK Bakorwil III, Sri Mulyani mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan tindakan nyata dengan cara tidak mengkonsumsi air mineral kemasan saat rapat rutinan TP PKK. Kondisi itu dilakukan karena menurtunya 60 persen sampah yang ada di dunia ini berasal dari sampah rumah tangga.
“bayangkan jika rapat satu kali saja membuat gunungan sampah. Bagaimana jika rapat 30 kali. Itu membuat pencemaran,” tandasnya. (mg2/aim)

Berita Terkait

Berita Lainnya :