Ratusan Juta Rupiah Cegah DBD


MALANG - Diteror bahaya serangan Demam Berdarah Dengue (DBD) pemda di Malang Raya langsung siaga. Salah satu langkah yang disiapkan mengalokasikan anggaran ratusan juta rupiah untuk pencegahan.
Pemkab Malang contohnya, melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) menyediakan anggaran Rp 225 juta untuk pencegahan di 90 lokasi atau titik rawan penyebaran DBD. Rinciannya di masing-masing lokasi mendapat anggaran Rp 2,5 juta.  
"Antisipasi penyebarannya lewat fogging. Biaya untuk sekali fogging saja cukup besar. Karena selain membeli bahannya seperti pestisida dan BBM, juga untuk membayar petugas fogging. Termasuk juga untuk biaya lainnya," terang Plt Kepala Dinkes Kabupaten Malang dr Ratih Maharani.
Seperti diberitakan Malang Post kemarin, 80 warga di Malang Raya diserang DBD dalam dua pekan terakhir. Rinciannya 61 kasus tersebar di wilayah Kabupaten Malang, sedangkan 19 kasus di Kota Malang. Makin mencemaskan karena tahun ini diprediksi terjadi siklus lima tahunan kembang biak nyamuk Aedes Aegypti, nyamuk perantara DBD.
Lebih lanjut Ratih mengatakan, 90 titik fokus penyebaran DBD tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Malang. Setiap titik Dinkes akan melakukan fogging di 200 rumah.
"Selain fogging, kami juga menyebarkan abate ke masyarakat lewat masing-masing puskesmas. Ada tiga kuwintal abate yang kami persiapkan. Belum lagi pada tahun ini, juga mendapat bantuan 400 kilogram dari Provinsi Jawa Timur," jelasnya.
Dikatakannya, pemberantasan sarang nyamuk tidak hanya dilakukan dengan fogging. Karena fogging hanya membunuh nyamuk saja. Sedangkan telur dan larva tidak ikut mati.
Sehingga cara terbaik dan efektif memberantas nyamuk DBD dengan 3M, yakni menguras, menutup dan mengubur tempat penampungan air. Apalagi musim hujan yang tidak menentu sekarang ini (hujan, panas, hujan dan panas lagi), mempercepat perkembangbiakan nyamuk karena banyak genangan.
"Satu ekor nyamuk itu sekali bertelur ada sekitar 200 ribu. Sehingga kalau hanya dengan fogging saja, induk atau telur dan larvanya tidak ikut mati," ujar Ratih.
Untuk melakukan fogging pun tidak boleh sembarangan. Karena harus melihat adanya kejadian DBD di wilayah tersebut. Misalnya ada masyarakat yang positif terkena DBD ataupun sakit panas yang tidak kunjung sembuh.
"Karena kalau fogging sembarangan kasihan petani bisa menyebabkan gagal panen. Sebab serangga yang diperlukan petani, seperti lebah akan ikut mati," tuturnya.
Tidak hanya mencegah penyebaran DBD, Dinkes Kabupaten Malang juga sudah melakukan gerakan program satu rumah satu  juru pemantau jentik (jumantik). Program yang sudah berjalan dua tahun ini mensyaratkan setiap rumah ada satu orang yang menjadi jumantik. "Setiap rumah yang sudah menjalankan program jumantik, kami berikan kartu jentik. Tujuannya untuk  memudahkan  kader jumantik saat mengecek tempat penampungan air, apakah memang sudah dibersihkan dan bebas dari jentik nyamuk," urainya.
Selain satu rumah satu jumantik, juga ada sistem pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas (SP2TP) terkoneksi online dengan rumah sakit di Kabupaten Malang. Program ini khusus untuk pendataan penyakit DBD.

Berita Terkait

Berita Lainnya :