RSSA Siapkan Audit Internal


MALANG – Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang membantah adanya praktik jual beli ginjal. Dalam press conference yang digelar di ruang Majapahit RSSA, tim dokter juga  menyatakan tindakan transplantasi ginjal terhadap Ita Diana, warga Temas Kota Batu untuk Erwin Susilo warga Jalan Kaliurang No. 6 Malang, sesuai dengan SOP dan Permenkes.
Wakil Direktur Pelayanan Medik Keperawatan RSSA Malang dr. Hanief Noersjahdu Sp.S mengatakan, proses transplantasi ginjal yang dilakukan pendonor Ita Diana kepada Erwin, dilakukan secara institusional dan tidak dilakukan secara pribadi. “Kami melakukan proses transplantasi ginjal antara pendonor dengan penerima sesuai SOP, secara intitusional dan mengacu pada Permenkes 38 tahun 2016 yang diberlakukan di RSSA dan institusi lain,” ujarnya.
Hanief menjelaskan, untuk transplantasi ginjal, ada rangkaian proses yang harus dilakukan. Sesuai dengan SK Direktur, dibentuk tim yang terdiri dari 20 petugas dengan dr. Atma Gunawan Sp.PD sebagai ketua tim.
Dalam jumpa pers , tim dokter banyak menjelaskan bahwa tindakan dilakukan sesuai SOP dan Permenkes, bukan sesuatu yang ilegal dan tak ada jual beli ginjal. Para dokter juga membantah pernyataan Ita Diana yang mengaku dikenalkan ke Erwin oleh dr. Rifai.  “Apa yang dilakukan oleh dr. Achmad Rifai sudah sesuai dengan SOP dan Permenkes, sehingga proses transplantasi dilakukan. Bukan bekerja atas nama pribadi,” ujar dr. Atma Gunawan.
Sesuai Permenkes, lanjutnya, sebelum melakukan transplantasi, harus ada donor yang cocok dan dilakukan dengan sukarela. Tidak ada perjanjian di luar yang disepakati dan bukan tanggung jawab rumah sakit bila ada jual beli atau makelar donor ginjal.
“Untuk transplantasi ginjal, rumah sakit bersifat pasif. Tidak penah melakukan tekanan. Apalagi dalam prosesnya juga telah disepakati surat perjanjian antara pendonor Ita Diana dengan saksi adiknya karena suaminya pada saat itu bekerja di Kalimantan dengan penerima Erwin dan istrinya. Setelah disepakati, diberi waktu tiga hari sesuai dengan SOP,” terangnya. Saksi yang disebut sebagai adik, kemungkinan besar adalah teman Ita. Sebab seperti pengakuannya, Ita tidak melibatkan dan memberitahukan proses transplantasi ini kepada keluarganya.
Ditanyai apakah dr. Atma Gunawan dan dr. Achmad Rifai memfasilitasi Ita dan Erwin, keduanya mengaku tidak mengenal dan belum bertemu sebelumnya. “Tidak ada pertemuan sebelumnya, hanya sebatas mediasi dalam rangka proses transplantasi ginjal, tidak benar kami mendekati atau mencari orang untuk dijadikan donor,” jawab dr. Atma Gunawan.
Hal senada juga dijawab oleh dr. Achmad Rifai. Ia membantah kenal dengan Ita Diana namun juga tidak memberikan komentar terkait percakapannya via WhatsApp dengan Ita. “Kami tidak pernah menawarkan uang sebesar Rp 350 juta,” ujarnya.  
Namun dr. Atma membenarkan dirinya membukakan rekening untuk putri bungsi Ita Diana. “Saya membantu karena kesulitan keluarganya bayar SPP. Saya lakukan itu tidak ada kaitannya dengan jual beli ginjal tersebut. Saya minta sekretaris saya untuk membuatkannya,” ucapnya.
Sementara itu, dr. Hanief Noersjahdu Sp.S mengatakan, masih akan mendalami lagi akar permasalahan yang terjadi. Pihaknya masih akan melakukan audit internal untuk mengurai permasalahan tersebut.  Dalam jumpa pers juga hadir Ketua Komite Medik RSSA Malang dr. Istan Irmansyah Sp.OT. (eri/han)

Berita Lainnya :