Selesai Dibangun, Pasar Bunul Malah Bocor


MALANG - Meski sudah selesai di revitalisasi dan ditempati pedagang, beberapa titik di Pasar Bunul masih mengalami kebocoran. Ketika hujan datang, ada beberapa titik yang menyebabkan tetesan air masuk ke dalam pasar. Sehingga mengganggu jalannya aktivitas di dalam pasar.
Salah satu pedagang sayur, Marli mengungkapkan, ketika hujan datang banyak tetesan air yang turun.
"Apalagi kalau hujan deras. Tetesannya lebih banyak," terang Marli kepada Malang Post.
Meski bocor, para pedagang kompak mengurangi tetesan air tersebut dengan memindahkan barang dagangannya agar tidak terkena air.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perdagangan Kota Malang, Wahyu Setianto mengungkapkan, pihaknya akan segera melakukan perbaikan "Untuk semua pasar yang mengalami permasalahan. Seperti mengalami kebocoran dan lainnya, kami sudah siapkan anggaran insidentil," terang dia.
Selain Pasar Bunul, di Pasar Besar juga mengalami kebocoran ketika hujan datang. Bahkan, para pedagang yang ada disana menutup dinding yang bocor dengan terpal. "Kalau untuk pembangunan fisik di Pasar Besar, kami masih belum bisa tangani. Sebab, masih terikat kerjasama dengan pihak retail," kata dia.
Namun, untuk pembenahan gorong-gorong, masih bisa dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. "Kalau untuk gorong-gorong dan membersihkan area tertentu, masih bisa kami lakukan. Sebab, masih ada tanggung jawab Pemkot disitu. Kalau untuk pembangunan fisik, belum bisa kami lakukan," jelas dia.
Meski demikian, tahun ini, pihaknya akan kembali melakukan revitalisasi beberapa pasar. Saat ini, untuk revitalisasi Pasar Kasin, akan segera tayang di ULP. "Untuk Pasar Mergan, Sukun dan Sawojajar akan segera menyusul juga," tandas dia.
Untuk diketahui, tahun Ini, Dinas Perdagangan Kota Malang akan melakukan revitalisasi di empat pasar. Untuk Pasar Sukun dan Pasar Sawojajar pembangunannya akan menggunakan tanah APBD senilai Rp 6 miliar dan Rp 3,5 miliar. sedangkan untuk Pasar Mergan dan Pasar Kasin akan menggunakan DAK masing-masing senilai Rp 2,4 miliar dan Rp 600 juta. Hal tersebut dilakukan secara bertahap untuk meningkatkan minat belanja di pasar rakyat. Sehingga, perputaran ekonomi berbasis kerakyatan mengalami peningkatan.(tea/aim)

Berita Terkait