Tiga Bulan, Bocah 8 Tahun Rawat Ibunya yang Sakit


MALANG - Akibat kecelakaan lalu lintas yang terjadi pada 30 April 2019 lalu, Siti Aisyah mengalami patah kaki. Sehingga, ia tidak bisa berjalan dan melakukan aktifitas. Sehari-hari, perempuan berusia 54 tahun tersebut dirawat oleh anak semata wayangnya, yakni Naga Putra Wicaksono yang masih berusia 8,5 tahun.
Bocah kelas 3 SDN Blimbing 5 tersebut bahkan rela mengamen dan mengemis untuk membiayai sang ibunda. Mengetahui hal tersebut, jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Malang tak tinggal diam. Minggu (14/7), Wali Kota Malang, Sutiaji bersama dengan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, Supranoto, Camat Blimbing, Muarib dan jajarannya mengunjungi Siti Aisyah dan Naga di tempat kosnya, yakni di kawasan Borobudur IV B, Kota Malang.
Ketika ditemui Malang Post, setiap harinya, Naga mengaku membantu ibunya yang sedang sakit. "Ibu kakinya sakit, tidak bisa jalan. Aku yang cuci baju, masak buat ibu, bantu-bantu ibu, mandiin ibu," terang dia sambil malu-malu.
Selepas pulang sekolah, Naga mengaku langsung melihat kondisi ibunya. Setelah itu, ia langsung pergi mencari uang untuk memenuhi kebutuhan ibunya. "Aku ngamen, sama minta-minta. Biasanya jalan kaki sendirian, paling jauh di sawah (kawasan Kafe Sawah Jalan Sudimoro). Biasanya sampai malam," kata Naga polos.
Sehingga, diantara teman-teman seusianya yang lagi senang bermain, Naga justru kehilangan waktunya untuk bersenang-senang. Sebab, setiap hari, ia harus merawat ibunya. Meski demikian, Naga mengaku tak keberatan. "Kalau ibu ada yang jaga, ya pergi main sebentar. Kalau tidak, ya aku jaga ibu," papar dia.
Salah satu relawan, Yuni Achyar menambahkan, sekitar tanggal 30 April 2019 lalu, Siti Aisyah dan Naga hendak pergi ke Situbondo. Saat melintas di jalur pantura, tepatnya Desa Banyuglugur, mereka mengalami kecelakaan. Siti Aisyah dan Naga yang saat itu berboncengan menggunakan sepeda motor, menabrak sebuah mobil yang sedang melintas di tikungan. "Kemudian, keduanya terjatuh. Ibu Siti Aisyah mengalami patah tulang kaki. Sementara tangan kirinya juga cedera. Sedangkan naga, juga mendapat luka di pelipis dan dijahit," kata perempuan yang akrab disapa Yuyun itu.
Setelah mengalami kecelakaan, ia tidak mendapat perawatan. Sebab, ia khawatir tidak mampu menanggung biayanya. Selama kurang lebih 2,5 bulan, ia tak berdaya. Hanya bisa duduk dan terdiam di atas tempat tidur. "Kami sempat membawanya ke salah satu dokter relawan. Beliau mengalami patah tulang dan cukup parah, sebab penanganannya juga terlambat," terangnya.
Sementara, untuk luka di pelipis Naga yang sudah terjahit, ketika Naga tertidur, jahitan tersebut dilepas sendiri oleh ibunya. "Karena takut biaya lagi. Sampai saat ini, Naga trauma melihat mobil," kata dia. (tea/aim)